0
News
    Home Berita Featured Jombang Keracunan Kesehatan Pondok Pesantren Rawon Spesial Telur Asin

    Sampel Rawon dan Telur Asin Diuji Laboratorium untuk Cari Penyebab Keracunan di Ponpes Jombang - Beritajatim

    6 min read

     

    Sampel Rawon dan Telur Asin Diuji Laboratorium untuk Cari Penyebab Keracunan di Ponpes Jombang

    Jombang (beritajatim.com) – Puluhan santri dari Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, mengalami gejala diduga keracunan setelah mengonsumsi hidangan berbuka puasa pada Kamis malam (5/3/2026). Kejadian ini membuat sejumlah santri mual dan muntah, yang langsung memerlukan perawatan medis di Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Mojoagung.

    Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, menyatakan bahwa pihak kepolisian menerima laporan dari masyarakat mengenai kejadian tersebut. Sebanyak 31 santri sempat mendapatkan perawatan, dengan 10 di antaranya telah diperbolehkan pulang, sementara 21 lainnya masih menjalani perawatan lebih lanjut.

    “Saat ini, kondisi para santri berangsur membaik. Sebagian besar sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis,” ungkap Ardi.

    Untuk memastikan penyebab keracunan ini, pihak kepolisian bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang melakukan pengambilan sampel makanan dan bahan yang dikonsumsi oleh santri.

    Sampel yang diambil termasuk nasi rawon, kuahnya, telur asin, serta muntahan dari para santri yang mengalami gejala. Sampel-sampel tersebut telah dikirim untuk diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Timur di Surabaya.

    Ardi menambahkan bahwa pemeriksaan awal melalui uji cepat atau rapid test terhadap sampel makanan tidak menunjukkan adanya bahan berbahaya seperti formalin, sianida, nitrat, atau arsenik. “Dari hasil rapid test sementara tidak ditemukan kandungan bahan berbahaya,” jelasnya.

    Meski demikian, polisi belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kejadian ini. Pihak berwenang akan terus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang lebih mendalam untuk memastikan sumber masalahnya. Selama penyelidikan, polisi juga telah meminta keterangan dari sejumlah santri mengenai makanan yang mereka konsumsi sebelum mengalami keluhan.

    Foto BeritaJatim.com
    Petugas mengambil sampel makanan untuk diuji lab

    Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menyatakan bahwa seluruh pasien telah mendapatkan perawatan medis yang memadai. Proses pemeriksaan laboratorium lebih lanjut akan fokus pada uji mikrobiologi untuk mengetahui apakah ada bakteri atau kontaminasi lain yang menjadi penyebabnya. “Pemeriksaan laboratorium biasanya memerlukan waktu sekitar 10 hari agar hasilnya akurat,” katanya.

    Untuk sementara, meski gejala yang dialami oleh para santri kini telah berkurang, penyelidikan terus berlanjut untuk memastikan apakah kejadian tersebut disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi atau faktor lainnya. [suf]

    Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita

    Komentar
    Additional JS