Ternyata Indonesia Pernah Mengalami "Tiba - Tiba Lebaran" - RRi
RRI.CO.ID, Sumenep : Lebaran biasanya identik dengan suasana malam takbiran yang semarak. Pengumuman 1 Syawal lazim disampaikan selepas magrib, disusul gema takbir yang menggema dari masjid ke masjid. Namun pada tahun 1987 (1407 H), masyarakat di Indonesia pernah mengalami momen yang berbeda: Hari Raya Idul Fitri diumumkan bukan pada malam hari, melainkan sekitar pukul 10.00 pagi.
Peristiwa itu terjadi ketika penetapan awal Syawal masih sepenuhnya berada di bawah kewenangan Departemen Agama RI. Sistem sidang isbat belum secepat dan seterintegrasi sekarang. Laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah membutuhkan waktu untuk dihimpun dan diverifikasi. Akibatnya, keputusan final baru bisa diumumkan keesokan paginya.
Keunikan langsung terasa di tengah masyarakat. Sebagian warga sudah bangun sahur dan memulai puasa karena mengira hari itu masih 30 Ramadhan. Aktivitas pagi berjalan seperti biasa: anak-anak bersiap sekolah, pedagang membuka lapak, dan para pekerja menjalani rutinitas. Hingga kemudian, siaran resmi disampaikan melalui radio dan televisi nasional, termasuk TVRI, bahwa hari itu ditetapkan sebagai 1 Syawal.
Situasi pun berubah seketika. Mereka yang telah berpuasa diminta untuk membatalkan puasanya karena berpuasa di hari Idul Fitri dilarang dalam Islam. Tak sedikit yang terkejut, namun suasana segera beralih menjadi haru dan sukacita. Takbir mulai dikumandangkan, keluarga bergegas menyiapkan pakaian terbaik, dan masjid-masjid bersiap menggelar salat Id.
Momen tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Di satu sisi ada rasa kaget karena perubahan yang mendadak, di sisi lain ada kegembiraan yang datang tanpa diduga. Justru di situlah letak keunikannya: Lebaran hadir bukan melalui malam panjang penuh takbir, tetapi melalui pengumuman pagi yang mengubah suasana hari dalam hitungan menit.
Peristiwa 1987 juga menggambarkan dinamika penentuan kalender hijriah di Indonesia pada masa itu. Di era sebelum teknologi komunikasi berkembang pesat, keputusan nasional memang membutuhkan waktu lebih lama. Kini, dengan sistem sidang isbat yang terjadwal dan siaran langsung, masyarakat hampir selalu mengetahui hasilnya pada malam hari.
Lebaran 1987 menjadi pengingat bahwa tradisi bisa saja berjalan di luar kebiasaan. Di balik kejutannya, tersimpan cerita tentang kebersamaan, ketaatan pada keputusan bersama, dan kesiapan masyarakat menyambut hari kemenangan kapan pun ia diumumkan. Sebuah potongan sejarah kecil yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu momen paling unik dalam perjalanan Idul Fitri di Indonesia.