0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Senjata Laser Spesial Tekno

    Terungkap! AS Gunakan Senjata Laser Hadapi Serangan Iran, Perang Modern Libatkan Satelit dan Siber - Tribunnews

    11 min read

     

     

    Terungkap! AS Gunakan Senjata Laser Hadapi Serangan Iran, Perang Modern Libatkan Satelit dan Siber

    Penggunaan sistem berteknologi tinggi tersebut menunjukkan perubahan besar dalam pola peperangan modern



    Ringkasan Berita:
    • Militer Amerika Serikat memakai senjata laser High-Energy Laser with Integrated Optical Dazzler and Surveillance (HELIOS) untuk menghancurkan drone dan rudal Iran. Dalam 72 jam, AS menghantam 1.700 target dan merusak 200 peluncur rudal.
    • Operasi didukung United States Space Force lewat satelit inframerah dan serangan siber United States Cyber Command.
    • Iran tetap meluncurkan ratusan drone dan lebih dari 500 rudal balistik, menurut Pentagon.

     

    SERAMBINEWS.COM – Militer Amerika Serikat dilaporkan mulai mengerahkan teknologi senjata laser mutakhir dalam konflik yang melibatkan Iran. Teknologi ini digunakan untuk menghadapi serangan rudal dan drone yang diluncurkan dari Teheran.

    Penggunaan sistem berteknologi tinggi tersebut menunjukkan perubahan besar dalam pola peperangan modern, yang kini tidak hanya mengandalkan kekuatan militer konvensional, tetapi juga integrasi teknologi luar angkasa dan operasi siber.

    Dilansir dari The New York Post, Sabtu (7/3/2026), kapal perusak Angkatan Laut AS yang beroperasi di pesisir Timur Tengah telah dilengkapi sistem senjata laser bernama High-Energy Laser with Integrated Optical Dazzler and Surveillance (HELIOS).

    Sistem ini mampu memusatkan energi laser berkekuatan tinggi untuk menghancurkan drone di udara dengan presisi tinggi.

    Baca juga: Mulai 28 Maret 2026, Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Akses Medsos Tertentu, Ini Daftar Aplikasinya

    Israel juga gunakan laser Iron Beam

    Selain HELIOS milik Amerika Serikat, militer Israel juga dilaporkan menggunakan sistem senjata laser yang dikenal sebagai Iron Beam.

    Teknologi ini disebut mampu melumpuhkan roket hanya dalam hitungan detik setelah diluncurkan, khususnya di wilayah perbatasan Israel-Lebanon.

    Meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak militer, data yang beredar menunjukkan efektivitas penggunaan senjata laser dalam konflik tersebut.

    Dalam 72 jam pertama pertempuran, pasukan AS dilaporkan berhasil menghantam sekitar 1.700 target serta menghancurkan lebih dari 200 peluncur rudal balistik milik Iran.

    Jumlah itu diperkirakan hampir setengah dari total peluncur yang dimiliki negara tersebut.

    Baca juga: Prediksi Malam Lailatul Qadar 2026, Ini Waktu Terjadi & Tanda-tandanya Menurut Al-Qur’an dan Hadis

    Peran Space Force dan satelit inframerah

    Keberhasilan operasi ini juga tidak terlepas dari dukungan United States Space Force atau Angkatan Luar Angkasa AS.

    Dengan memanfaatkan satelit berpemandu inframerah, militer AS dapat mendeteksi panas dari peluncuran rudal secara real-time. Teknologi tersebut memungkinkan sistem pertahanan bereaksi jauh lebih cepat sebelum rudal mencapai target.

    Brent David Ziarnick, mantan profesor program Space Force di Johns Hopkins University, menjelaskan cara kerja sistem tersebut.

    "Mereka bisa melihat rudal dan menentukan titik lokasi peluncurannya. Rudal tersebut kemudian dapat dicegat dan dihancurkan. Pasukan di lapangan mendapat notifikasi adanya serangan, sehingga mereka bisa segera menuju bunker perlindungan," ujar Ziarnick.

    Data dari satelit ini kemudian diolah melalui kubah radar raksasa yang dikenal sebagai Radomes.

    Sementara itu, Sam Eckhome, pembawa acara kanal YouTube "Access Granted", menyebut jaringan tersebut sebagai salah satu sistem peringatan dini paling canggih di dunia.

    "Sistem ini dibangun untuk memastikan, jika sebuah rudal diluncurkan, Amerika Serikat akan menjadi yang pertama mengetahuinya," kata Eckhome.

    Baca juga: Dokter Richard Lee Ditahan di Rutan Salemba Polda Metro Jaya, Ini Profil dan Rekam Jejaknya

    Perang siber lumpuhkan radar Iran

    Selain kekuatan senjata, operasi militer ini juga melibatkan serangan siber yang terkoordinasi.

    United States Cyber Command bekerja sama dengan Angkatan Antariksa AS untuk melumpuhkan sistem radar musuh menggunakan malware serta perangkat lunak pengacak radar.

    Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, mengungkapkan bahwa operasi siber sudah dimulai bahkan sebelum tembakan pertama dilepaskan.

    Strategi tersebut bertujuan mengganggu sistem komunikasi Iran sehingga menciptakan kebingungan di pihak lawan.

    Di sisi lain, intelijen Mossad juga dikabarkan berhasil meretas hampir seluruh kamera lalu lintas di Teheran untuk memantau pergerakan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

    Perang teknologi, bukan lagi kekuatan pasukan darat

    Efektivitas teknologi ini terlihat dari minimnya korban di pihak Amerika Serikat dan Israel.

    Selama empat hari konflik berlangsung, AS dilaporkan hanya mencatat enam korban jiwa tanpa harus mengerahkan pasukan darat dalam skala besar.

    Bree Fram, mantan kolonel Angkatan Antariksa AS, menilai bahwa peperangan modern kini lebih banyak ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan kecerdasan strategi.

    "Fakta bahwa ini bukan formasi massal pasukan dengan senapan di darat menunjukkan bahwa kekuatan ini dibangun dengan teknologi ekstrem dan kecerdasan untuk mengoperasikannya. Kombinasi itu menjadikan kita kekuatan paling mumpuni di bumi," tegas Fram.

    Iran tetap kirim ratusan drone

    Meski demikian, konflik belum mereda. Laporan The Wall Street Journal menyebut Iran terus meluncurkan ratusan drone ke negara-negara Arab di sekitar Teluk Persia.

    Serangan tersebut memicu kekhawatiran regional dan turut memengaruhi pasar global, termasuk jalur pengiriman minyak dan perdagangan internasional.

    Menurut Hasan Alhasan, peneliti senior di International Institute for Strategic Studies, strategi Iran kini lebih menekankan ketahanan serangan.

    “Penekanan Iran sekarang adalah ketekunan, bukan kuantitas,” kata Alhasan.

    Di awal konflik, Iran dilaporkan meluncurkan gelombang serangan besar ke Israel serta sejumlah negara Arab dengan menargetkan pangkalan militer AS, kedutaan, bandara, hingga infrastruktur minyak dan gas.

    Data dari Pentagon menyebut Iran menembakkan lebih dari 500 rudal balistik serta meluncurkan sekitar 2.000 drone, meskipun sebagian besar berhasil dicegat sistem pertahanan.

    Namun saat ini intensitas serangan drone Iran disebut telah menurun sekitar 83 persen dibandingkan fase awal perang.

    Sementara itu, peneliti pengendalian senjata dari Geneva Graduate Institute, Farzan Sabet, menilai Iran kini mengandalkan strategi cadangan dengan menggunakan drone murah yang diproduksi dalam jumlah besar.

    “Kemampuan Iran untuk melakukan penghancuran tingkat tinggi akan menurun, tetapi mereka akan tetap dapat menembakkan drone ini, dan akan menciptakan persepsi risiko umum,” kata Sabet.

    Iran diketahui memiliki persediaan drone serta rudal jarak pendek dalam jumlah besar, meskipun jumlah rudal balistik jarak jauh yang mampu menjangkau Israel relatif lebih terbatas.

    Detik-detik bunker bawah tanah milik Ayatollah Ali Khamenei dihancurkan


    Di sisi lain, militer Israel (IDF) mengeklaim telah menghancurkan bunker bawah tanah milik Ayatollah Ali Khamenei yang selama ini berfungsi sebagai pusat komando strategis Iran.

    Operasi penghancuran ini dirilis dalam sebuah video resmi pada Jumat (6/3/2026).

    Dalam pernyataan resminya, pihak militer menyebutkan bahwa bunker tersebut tetap menjadi pusat aktivitas pejabat senior rezim Iran, meskipun Khamenei telah tewas di awal konflik.

    "Khamenei dieliminasi sebelum dia sempat menggunakan bunker tersebut selama operasi 'Roaring Lion', tetapi kompleks tersebut terus digunakan oleh para pejabat senior rezim Iran," tulis militer Israel, sebagaimana dikutip dari AFP. 

    Operasi udara berskala besar ini dilaporkan melibatkan sedikitnya 50 jet tempur yang menyasar jaringan bawah tanah di jantung kota Teheran.

    Militer Israel menyebut telah menjatuhkan sekitar 100 bom dalam serangkaian ledakan dahsyat untuk meruntuhkan kompleks yang membentang di bawah tanah.

    Bunker tersebut diketahui memiliki banyak titik akses dan ruang pertemuan khusus yang dirancang untuk melindungi para petinggi Iran.  

    Sebelum tewas, Khamenei diyakini menghabiskan sebagian besar malamnya di fasilitas bawah tanah yang sangat dalam ini guna menghindari serangan udara. 

    Kepala Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, menyatakan efektivitas serangan tersebut dalam melumpuhkan struktur kepemimpinan Iran.

    "Hanya dalam 40 detik, sekitar 40 pejabat senior rezim teror Iran telah dilenyapkan, termasuk pemimpin rezim tersebut, Ali Khamenei," tegas Zamir.

    Khamenei tewas di kompleks kepemimpinannya pada Sabtu (28/2/2026), hari pertama serangan gabungan AS-Israel yang memicu perang di Timur Tengah.

    Pentagon kemudian menyatakan bahwa serangan Israel yang menewaskannya, sementara Trump mengatakan bahwa hal itu sebagian berkat intelijen AS. 

    "Hanya dalam 40 detik, sekitar 40 pejabat senior rezim teror Iran telah dilenyapkan, termasuk pemimpin rezim tersebut, Ali Khamenei," kata Kepala Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir.

    (Serambinews.com/Tribun-medan.com)


    Komentar
    Additional JS