0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Inggris Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Tiga Pesawat Angkut Militer AS Mendarat di Inggris, Sinyal Serangan Besar ke Iran Semakin Nyata - Tribunnews

    8 min read

     

    Tiga Pesawat Angkut Militer AS Mendarat di Inggris, Sinyal Serangan Besar ke Iran Semakin Nyata

    Tiga pesawat militer Amerika Serikat mendarat di RAF Fairford saat tensi dengan Iran memanas, sinyal peningkatan operasi militer.

    Ringkasan Berita:
    • Tiga pesawat militer Amerika Serikat tiba di pangkalan RAF Fairford Inggris, termasuk dua Boeing C-17 Globemaster III yang membawa amunisi dan perlengkapan untuk mendukung operasi pengebom terhadap Iran.
    • Kedatangan pesawat angkut ini menyusul penempatan pengebom strategis Rockwell B-1B Lancer milik United States Air Force yang mampu membawa hingga 24 rudal jelajah untuk misi serangan jarak jauh.
    • Aktivitas militer meningkat setelah Inggris terlibat ketegangan politik antara Donald Trump.

    TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah tiga pesawat militer milik Amerika Serikat dilaporkan tiba di pangkalan udara RAF Fairford.

    Kedatangan pesawat tersebut disebut sebagai bagian dari persiapan peningkatan operasi militer terhadap Iran di tengah konflik yang terus berkembang di kawasan.

    Rekaman yang disiarkan pada Minggu menunjukkan dua pesawat angkut militer Boeing C‑17 Globemaster III mendarat di pangkalan udara di Gloucestershire.

    Pesawat ini diketahui membawa perlengkapan militer, termasuk amunisi serta suku cadang untuk mendukung operasi pesawat pengebom strategis Amerika.

    Namun salah satu pesawat C-17 tersebut sebelumnya tiba dari Bandara Glasgow Prestwick setelah sempat dialihkan akibat cuaca buruk dan jarak pandang yang terbatas di RAF Fairford.

    Sementara pesawat angkut lainnya dilaporkan datang dari pangkalan militer Joint Base McGuire‑Dix‑Lakehurst berdasarkan data pelacakan penerbangan.

    Adapun mengutip dari The Guardian, Kedatangan dua pesawat angkut ini terjadi hanya beberapa hari setelah pesawat pengebom strategis Rockwell B‑1B Lancer yang dikenal sebagai salah satu aset tempur utama Angkatan Udara Amerika Serikat.  

    Setiap unit pesawat B-1 Lancer diperkirakan bernilai hingga 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 33,9 triliun. Pesawat ini mampu membawa hingga 24 rudal jelajah dalam satu misi, memungkinkan operasi serangan jarak jauh dengan kemampuan menyerang berbagai target strategis.

    Menurut keterangan United States Air Force, pesawat pengebom tersebut dapat dengan cepat mengirimkan berbagai jenis senjata presisi maupun non-presisi ke target musuh di mana pun di dunia.

    Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi apakah pesawat-pesawat yang ditempatkan di RAF Fairford akan diterbangkan langsung menuju Timur Tengah. Pemerintah Inggris melalui UK Ministry of Defence menolak memberikan komentar mengenai operasi tersebut.

    Inggris Tingkatkan Aktivitas Militer

    Peningkatan aktivitas militer ini terjadi setelah Inggris menembak jatuh pesawat nirawak yang diluncurkan dari Iran menuju wilayah Irak pada Sabtu malam.

    Baca juga: Mesir Khawatir Israel Tak Terkendali Jika Iran Runtuh

    Dalam operasi tersebut, jet tempur Eurofighter Typhoon dan Lockheed Martin F‑35 Lightning II milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris dikerahkan untuk melakukan misi pertahanan.

    Selain itu, sebuah helikopter pengawasan AgustaWestland AW101 Merlin dijadwalkan segera tiba untuk memperkuat sistem pemantauan udara.

    Helikopter ini memiliki kemampuan terbang hingga sekitar satu mil di atas permukaan laut dan dapat memberikan peringatan dini terhadap ancaman pesawat nirawak maupun rudal.

    Sebagai langkah tambahan, Inggris juga mengirim kapal perusak pertahanan udara HMS Dragon ke kawasan Timur Tengah. Kapal tersebut dilengkapi sistem radar dan rudal canggih untuk menghadapi ancaman serangan udara dan rudal.

    Selain itu, Angkatan Laut Kerajaan Inggris mempercepat kesiapan kapal induk HMS Prince of Wales yang saat ini berada di pangkalan angkatan laut Portsmouth. Kapal tersebut kini dipersiapkan untuk kemungkinan pengerahan dalam waktu singkat.

    Ketegangan Politik AS dan Inggris

    Peningkatan pergerakan militer di Inggris terjadi di tengah pernyataan keras Presiden AS Donald Trump terkait konflik di Timur Tengah.

    Salah satu pemicu utama kritik Trump adalah keputusan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang tidak langsung mengizinkan pangkalan militer Inggris digunakan dalam gelombang serangan awal AS terhadap Iran.

    Starmer mengatakan ia perlu memastikan bahwa operasi militer tersebut legal dan direncanakan dengan matang sebelum memberikan dukungan penuh.

    Keputusan ini membuat Washington menilai Inggris terlambat menunjukkan dukungan kepada sekutu utamanya.

    Trump bahkan menulis di platform Truth Social bahwa Amerika Serikat tidak membutuhkan sekutu yang bergabung setelah perang hampir dimenangkan.

    Di tengah meningkatnya ancaman itu, Inggris akhirnya memutuskan memberikan izin terbatas kepada Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer di wilayahnya, termasuk RAF Fairford. 

    Pangkalan ini dikenal sebagai salah satu fasilitas penting bagi operasi pesawat pengebom strategis Amerika di Eropa.

    Selain faktor keamanan, keputusan tersebut juga dipengaruhi oleh hubungan aliansi lama antara Inggris dan Amerika Serikat dalam kerja sama pertahanan NATO.

    London menilai koordinasi militer dengan Washington diperlukan untuk menjaga stabilitas kawasan serta melindungi kepentingan keamanan Barat.

    Dengan demikian, izin penggunaan pangkalan militer Inggris oleh Amerika Serikat bukan semata-mata dukungan terhadap operasi ofensif, tetapi juga bagian dari strategi pertahanan bersama untuk menghadapi eskalasi konflik dan potensi serangan balasan di kawasan Timur Tengah.

    (Tribunnews.com / Namira)


    Komentar
    Additional JS