0
News
    Home Ayatollah Ali Khamenei Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial Venezuela

    Trump Bersikeras Ikut Tentukan Pengganti Khamenei, Contohkan Venezuela - detik

    7 min read

      

    Trump Bersikeras Ikut Tentukan Pengganti Khamenei, Contohkan Venezuela

    Presiden AS Donald Trump (dok. AFP/MANDEL NGAN)
    Washington DC -

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersikeras mengatakan dirinya harus ikut berperan dalam memilih pemimpin tertinggi Iran berikutnya, setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan AS-Israel.

    Trump menyebut putra Khamenei, Motjaba Khamenei, yang menjadi kandidat terdepan sebagai pemimpin tertinggi Iran selanjutnya, tidak dapat diterima.

    "Putra Khamenei kurang berpengaruh," sebut Trump dalam wawancara dengan media Axios, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Jumat (6/3/2026).

    "Saya harus terlibat dalam penunjukan tersebut, seperti dengan Delcy," ucap Presiden AS itu, membandingkan situasi Iran dengan Venezuela, di mana presiden sementara Delcy Rodriguez mau bekerja sama dengan AS di bawah ancaman kekerasan setelah penggulingan pemimpin negara itu, Nicolas Maduro.

    Dalam wawancara itu, Trump mengatakan bahwa AS kemungkinan akan kembali berperang dalam lima tahun tanpa adanya pemimpin yang disukai di Iran.

    "Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa keselarasan dan perdamaian ke Iran," kata Trump kepada Axios.

    Tidak diketahui secara jelas bagaimana persisnya Trump akan berperan dalam pemilihan pemimpin tertinggi Iran yang baru. Keputusan itu seharusnya dibuat oleh Majelis Pakar, badan terpilih yang terdiri dari 88 ulama senior Iran, yang akan memilih siapa yang menjadi penerus Khamenei.

    Sebagian besar ulama senior Iran itu diketahui sangat menentang AS.

    Mendiang Ayatollah Ali KhameneiMendiang Ayatollah Ali Khamenei Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/WANA (West Asia News Agency)/HO/REUTERS


    Khamenei, yang memimpin Iran sejak tahun 1989 atau lebih dari tiga dekade terakhir, wafat pada Sabtu (28/2) waktu setempat, setelah AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Teheran dan wilayah-wilayah lainnya.

    Khamenei dilaporkan tewas setelah lokasi pertemuan antara dirinya dan jajaran pejabat Iran dibombardir. Otoritas Iran mengonfirmasi wafatnya Khamenei sehari setelahnya, atau pada Minggu (1/3) waktu setempat, dan mengumumkan masa berkabung selama 40 hari untuk almarhum.

    Sosok Khamenei dikenal memimpin Iran dengan kebijakan garis keras yang mencakup penindasan di dalam negeri dan konfrontasi dengan negara-negara tetangga Teheran.

    Sejumlah nama muncul sebagai kandidat pengganti Khamenei, yakni Mojtaba Khamenei (56) yang merupakan putra kedua Khamenei; Alireza Arafi (67), ulama terkemuka dan orang kepercayaan Khamenei; Mohammad Mehdi Mirbagheri (60), ulama garis keras dan anggota Majelis Pakar; Hassan Khomeini (50), cucu dari pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini; dan Hashem Hosseini Bushehri (60), ulama senior yang dekat dengan Khamenei.

    Dari nama-nama tersebut, Motjaba, putra kedua Khamenei, dianggap sebagai kandidat terdepan. Sejauh ini, otoritas Iran belum secara resmi mengumumkan pengganti Khamenei.

    Tonton juga video "Trump Klaim Iran Mau Buat Kesepakatan: Terlambat, Kami Ingin Perang!"

    Halaman 2 dari 2
    (nvc/zap)

    Komentar
    Additional JS