0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah Spesial

    Trump Boncos! Baru 6 Hari Perang Iran, AS Sudah Bakar Duit Rp180 Triliun - Tribunnews

    7 min read

     

    Trump Boncos! Baru 6 Hari Perang Iran, AS Sudah Bakar Duit Rp180 Triliun

    Perang baru 6 hari, AS sudah keluarkan Rp180 triliun. Gangguan di Selat Hormuz picu lonjakan energi hingga melesat jadi 200 dolar AS per barel

    Ringkasan Berita:
    • Enam hari pertama perang melawan Iran membuat AS menghabiskan sekitar 11,3 miliar dolar AS (Rp180 triliun) untuk operasi militer, menurut analisis internal United States Department of Defense.
    • Konflik memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur 20 persen perdagangan minyak dunia, sehingga harga energi global ikut naik.
    • Donald Trump mengklaim perang segera berakhir, namun Iran memperingatkan harga minyak bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel jika konflik terus meningkat.

    TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya berdampak pada situasi keamanan kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu tekanan ekonomi yang besar bagi Washington.

    Dalam enam hari pertama konflik, pemerintah Amerika Serikat diperkirakan telah mengeluarkan biaya perang mencapai 11,3 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp180 triliun (kurs Rp.16.991)

    Adapun perkiraan biaya tersebut berasal dari analisis internal United States Department of Defense yang ditinjau oleh para anggota parlemen Amerika Serikat.

    Data tersebut menunjukkan bahwa operasi militer dalam beberapa hari pertama konflik memerlukan pengeluaran besar, terutama untuk penggunaan persenjataan dan logistik militer.

    Sumber yang mengetahui laporan tersebut menyebutkan bahwa dalam dua hari pertama saja, militer AS telah menghabiskan sekitar 5,6 miliar dolar AS untuk amunisi.

    Biaya ini mencakup penggunaan rudal, bom presisi, sistem pertahanan udara, serta operasi militer lainnya yang dilakukan selama serangan terhadap target di Iran.

    Perang Iran Jadi Pemicu

    Konflik  dipicu oleh operasi militer gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target strategis di Iran.

    Serangan tersebut kemudian memicu respons balasan dari Teheran yang memperluas ketegangan di kawasan Teluk.

    Selain beban biaya militer, konflik juga berdampak langsung pada pasar energi global. Situasi keamanan yang memburuk membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hampir terhenti.

    Jalur laut ini merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia karena sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari.

    Gangguan terhadap jalur energi itu langsung memicu lonjakan harga energi di berbagai negara, termasuk di Amerika Serikat.

    Bahkan harga rata-rata bensin di AS dilaporkan naik hingga sekitar 3,59 dolar per galon, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dunia.

    Baca juga: Diancam Iran, Citibank Tutup Hampir Semua Cabang di UEA, Standart Chartered Evakuasi Kantor 

    Untuk menstabilkan pasar energi domestik, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pemerintah akan menggunakan sebagian cadangan minyak strategis nasional.

    Amerika Serikat diperkirakan akan memanfaatkan sekitar 40 persen dari cadangan minyaknya sebagai bagian dari langkah darurat yang juga dilakukan oleh negara-negara anggota International Energy Agency.

    Langkah tersebut bertujuan untuk menahan lonjakan harga energi yang bisa berdampak langsung pada perekonomian global dan daya beli masyarakat.

    Trump Nyatakan Perang Akan Segera Berakhir

    Sementara itu, Presiden AS Donald Trump tetap menyampaikan optimisme bahwa situasi keamanan di kawasan Teluk akan segera membaik. Ia menyatakan jalur pelayaran di Selat Hormuz akan kembali normal dalam waktu dekat.

    Trump juga mengklaim bahwa operasi militer yang dilakukan telah memberikan tekanan besar terhadap Iran. Menurutnya, Teheran kini menghadapi konsekuensi berat akibat konflik tersebut.

    Namun di sisi lain, Iran justru meningkatkan tekanan dengan peringatan keras terhadap pasar energi dunia.

    Juru bicara komando militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, mengatakan harga minyak global bisa melonjak drastis apabila konflik terus meningkat.

    Ia menegaskan bahwa stabilitas harga minyak dunia sangat bergantung pada keamanan kawasan Timur Tengah. Jika situasi keamanan terus terganggu, harga minyak dapat melonjak hingga mencapai 200 dolar AS per barel.

    Konflik yang berlangsung kurang dari dua minggu itu juga telah menimbulkan korban jiwa yang besar. Laporan terbaru menunjukkan lebih dari seribu orang tewas di Iran serta ratusan korban lain di berbagai wilayah Timur Tengah yang terdampak konflik.

    Di antara korban tersebut terdapat tujuh tentara Amerika Serikat yang tewas dalam serangan balasan yang dilancarkan oleh Iran.

    Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik militer di Timur Tengah tidak hanya membawa dampak kemanusiaan dan keamanan regional.

    Tetapi juga menimbulkan tekanan ekonomi global yang signifikan, terutama pada sektor energi dan biaya militer yang harus ditanggung oleh negara-negara yang terlibat.

    (Tribunnews.com / Namira)


    Komentar
    Additional JS