0
News
    Home Amerika Serikat Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Trump Isyaratkan Akhir Perang Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Terjun Bebas di Bawah 90 Dolar AS - Tribunnews

    7 min read

      

    Trump Isyaratkan Akhir Perang Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Terjun Bebas di Bawah 90 Dolar AS

    Trump beri sinyal perang Iran segera berakhir, harga minyak dunia langsung jatuh dari hampir 120 dolar AS ke bawah 90 dolar AS per barel.

    TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan sinyal bahwa konflik militer dengan Iran mungkin akan segera berakhir.

    Mengutip dari BBC International, harga minyak mentah sebelumnya melonjak hampir menyentuh 120 dolar AS per barel pada Senin (9/3/2026), tetapi turun drastis hingga di bawah 90 dolar AS per barel pada perdagangan pasar Rabu (11/2/2026).

    Penurunan harga minyak terjadi setelah pelaku pasar menilai pernyataan Trump sebagai sinyal bahwa perang dengan Iran kemungkinan tidak akan berlangsung lama.

    Pernyataan tersebut membuat pasar percaya bahwa eskalasi konflik tidak akan terus meningkat dalam jangka panjang. Alhasil para investor menilai risiko terganggunya pasokan energi global menjadi lebih kecil.

    Kondisi ini memicu para pedagang yang sebelumnya membeli kontrak minyak untuk mengantisipasi lonjakan harga mulai menjual kembali aset mereka. Aksi jual secara besar-besaran tersebut akhirnya menekan harga minyak dunia hingga turun tajam.

    Selain faktor pasokan, harapan terhadap stabilitas ekonomi global juga mempengaruhi pergerakan pasar.

    Konflik militer besar biasanya memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi. Namun, ketika kemungkinan perang berkepanjangan dianggap menurun, pasar merespons dengan menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan harga energi.

    Akibatnya, harga minyak yang sebelumnya melonjak ke level tertinggi akhirnya turun kembali ke bawah 90 dolar AS per barel.

    Meski demikian, para analis menilai pasar energi global masih sangat sensitif terhadap perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah sehingga fluktuasi harga minyak diperkirakan masih akan terus terjadi dalam waktu dekat.

    Ketegangan Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Energi

    Perlu diketahui sebelum mengalami penurunan, pasar energi sempat bergejolak ditandai dengan melonjaknya harga minyak dunia hingga menembus 105 dolar AS per barel.

    Baca juga: Perang Iran Jadi Ladang Untung Raksasa Senjata: Perusahaan AS dan Israel Raup Miliaran Dolar

    Ini terjadi lantaran pasukan elite Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal komersial agar tidak melintas di Selat Hormuz.

    Selat Hormuz dilaporkan dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari, atau hampir seperlima dari total perdagangan minyak global. Ketika jalur ini terganggu, pasar energi dunia biasanya langsung bereaksi.

    Penutupan juga membuat pelaku pasar khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak dalam jangka panjang.

    Tanpa kepastian kapan jalur tersebut akan kembali normal, para pedagang minyak memperkirakan harga energi dapat terus mengalami tekanan naik.

    Analis teknikal Reuters memperkirakan lonjakan harga bahkan dapat melesat naik, tembus ke kisaran 120 dolar AS hingga 128 dolar AS atau sekitar Rp 2,1 juta per barel dalam waktu dekat.

    CEO perusahaan minyak terbesar dunia, Amin Nasser, memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memicu dampak serius bagi perekonomian global.

    “Semakin lama gangguan ini berlangsung, semakin drastis konsekuensinya bagi perekonomian dunia,” kata Nasser.

    Ia juga menambahkan bahwa cadangan minyak global saat ini berada pada level terendah dalam lima tahun terakhir, sehingga gangguan pasokan berpotensi mempercepat penipisan stok energi dunia.

    AS Hingga Negara G7 Ungkap Strategi  Hadapi Gejolak Minyak

    Lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik mendorong AS dan negara-negara maju mulai menyiapkan berbagai langkah untuk menstabilkan pasar energi global.

    Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan rencana mencabut sebagian sanksi minyak terhadap Rusia sebagai salah satu opsi meredakan tekanan harga energi.

    Meski Trump tidak menyebutkan secara rinci negara mana yang dimaksud dalam wacana pencabutan sanksi tersebut, banyak pengamat energi menilai kebijakan itu kemungkinan besar merujuk pada Rusia.

    Spekulasi tersebut muncul karena Rusia merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia

    Di tengah ketidakpastian tersebut, lembaga energi internasional International Energy Agency juga menggelar pertemuan dengan negara-negara anggota G7 untuk membahas langkah-langkah stabilisasi pasar minyak dunia.

    Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah melepaskan jutaan barel minyak dari cadangan strategis milik negara-negara maju guna meningkatkan pasokan energi dalam jangka pendek dan membantu meredakan tekanan harga di pasar global.

    Namun, sejumlah analis menilai kebijakan tersebut tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa. Cadangan strategis minyak selama ini berfungsi sebagai penyangga utama dalam menghadapi krisis energi besar yang berkepanjangan.

    Kepala eksekutif perusahaan konsultan energi Qamar Energy, Robin Mills, mengatakan keputusan tersebut menjadi dilema bagi negara-negara industri.

    Menurutnya, pelepasan cadangan minyak sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik yang mempengaruhi pasokan energi global.

    “Jika Anda yakin perang segera berakhir seperti yang dikatakan Trump, maka cadangan minyak tidak perlu dilepas. Tetapi jika gangguan pasokan berlanjut, maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk menambah produksi,” ujarnya.

    (Tribunnews.com / Namira)


    Komentar
    Additional JS