Trump Sebut Perang Melawan Iran Bisa Berlangsung 4 Minggu, Pakar: Enggak Mungkin Rasanya - Tribunnews
Trump Sebut Perang Melawan Iran Bisa Berlangsung 4 Minggu, Pakar: Enggak Mungkin Rasanya
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mengatakan, operasi militer di Iran bisa berlangsung selama empat minggu.
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump sempat mengatakan, operasi militer di Iran bisa berlangsung selama empat minggu.
- Menurut pakar HI Dina Sulaeman menilai bahwa AS akan kesulitan melakukan perang berkepanjangan.
- Saat ini AS sedang kerepotan menghadapi rudal-rudal yang dikirimkan Iran ke pangkalan militer mereka di Timur Tengah.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mengatakan, operasi militer di Iran bisa berlangsung selama empat minggu.
Namun, pakar Hubungan Internasional (HI) dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Dina Sulaeman menilai bahwa AS akan kesulitan melakukan perang berkepanjangan.
"Empat minggu itu luar biasa enggak mungkin rasanya kalau saya baca-baca dari analisis militer di dalam negeri Amerika Serikat sendiri," ucap Dina dalam program On Focus yang tayang di YouTube Tribunnews, Rabu (4/3/2026).
Ia menyebut, saat ini AS sedang kerepotan menghadapi rudal-rudal yang dikirimkan Iran ke pangkalan militer mereka di Timur Tengah. Apalagi, Israel juga terus mendapatkan serangan dari Iran.
"Israel kan juga diserang juga dan Israel pun juga supply intersepnya dari Amerika Serikat. Jadi dengan front perang sebanyak ini memang sulit buat Amerika Serikat kalau harus berpanjang-panjang perangnya," tuturnya.
Terkait operasi militer Iran yang bisa berlangsung dalam waktu empat minggu, hal itu disampaikan Trump kepada surat kabar Inggris Daily Mail.
"Prosesnya selalu memakan waktu empat minggu. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat minggu," katanya dalam wawancara, Minggu (1/3/2026).
"Sekuat apa pun Iran, ini adalah negara yang besar, akan membutuhkan waktu empat minggu atau kurang," sambungnya.
Baca juga: Korban Serangan AS-Israel ke Iran Tembus 1.045 Orang, Konflik Meluas ke 12 Negara Timur Tengah
Kondisi di Iran
Hingga hari kelima serangan militer AS-Israel ke Iran, data sementara mencatat lebih dari 1.000 orang tewas di Iran. Selain itu, lebih dari 6 ribu orang diperkirakan terluka.
Jumlah korban tewas sejak serangan AS-Israel dimulai pada hari Sabtu (28/2/2026) telah mencapai 1.045 berdasarkan laporan media pemerintah Iran.
Melaporkan dari Teheran, Mohamed Vall dari Al Jazeera mengatakan warga sipil menanggung beban terberat dari serangan tersebut dan mencatat bahwa negara itu diserang dari segala arah.
"Ada kampanye (serangan militer) berkelanjutan dan terus-menerus di seluruh negeri yang tidak menyisakan wilayah, kota, atau daerah mana pun," kata dia dikutip dari Aljazeera pada Rabu.
"Tetapi kita tahu 300 anak dan remaja telah dirawat di rumah sakit dengan lebih dari 6 ribu orang terluka," lanjutnya.
Mengutip kantor berita Tasnim, Aljazeera mencatat serangan Israel pada Rabu (4/3/206) menghantam ibu kota Iran yakni Teheran, kota suci Qom, Iran barat, dan di seluruh provinsi Isfahan di Iran tengah.
Serangan itu juga dilaporkan merusak unit-unit perumahan.
Israel mengatakan mereka menyerang bangunan milik pasukan paramiliter polisi sukarelawan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yakni Basij serta menargetkan bangunan yang terkait dengan komando keamanan internal Iran.
IAEA mengatakan kerusakan akibat serangan juga terlihat di dua bangunan dekat situs nuklir Isfahan.
Akan tetapi, tidak ada kerusakan pada fasilitas yang berisi material nuklir dan tidak ada risiko pelepasan radiologis.
Rencana untuk mengadakan upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei ditunda saat ledakan mengguncang negara itu.
Baca juga: Pakar: Alasan Utama AS-Israel Serang Iran adalah Masalah Palestina
Mengutip Kantor berita Tasnim, Aljazeera mencatat seorang pejabat Iran menyebutkan masalah logistik menjadi penyebab penundaan upacara yang seharusnya dimulai pada Rabu malam dan berlangsung selama beberapa hari itu.
Namun, persiapan pemakaman sedang berlangsung dan diperkirakan akan menarik banyak orang untuk datang.
Akan tetapi bersamaan dengan itu, terdapat potensi ancaman serangan AS-Israel terhadap kerumunan massa yang berduka.
Khamenei tewas pada Sabtu (28/2/2026) pagi dalam gelombang pertama serangan AS dan Israel.
Serangan itu turut menewaskan pejabat senior Iran lainnya termasuk Menteri Pertahanan Iran Amir Nasirzadeh.
(Tribunnews.com/Deni/Gita)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BENDERA-IRAN-Benteng-Karim-Khan-di-Kota-Shiraz-Iran.jpg)