0
News
    Home Berita Featured Kelapa Lele Makan Bergizi Gratis Spesial

    Viral Menu MBG Lele Mentah hingga Kelapa Utuh, Standar Gizi Disorot Pakar - detik

    3 min read

     

    Viral Menu MBG Lele Mentah hingga Kelapa Utuh, Standar Gizi Disorot Pakar


    Foto: Dok. Istimewa/tangkapan layar/Petugas SPPG di Kec. Palengan, Pamekasan menurunkan kelapa muda dan telur mentah untuk dibagikan ke siswa
    Jakarta -

    Beberapa waktu lalu, viral di media sosial menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa lele mentah, pisang yang divakum, hingga kelapa utuh. Menu MBG yang tersebar untuk siswa di sejumlah daerah tersebut, menuai sorotan terutama terkait standar pemenuhan gizinya.

    Menu MBG lele mentah marinasi terjadi di SMAN 2 Pamekasan. Kemudian menu MBG pisang ambon yang divakum ada di daerah Mojosongo, Surakarta, sedangkan menu kelapa utuh ada di Gresik hingga Kalimantan Timur.

    Sebelumnya, paket MBG selama Ramadan juga mendapat sorotan karena berisi makanan kering yang beberapa di antaranya kurang layak sebagai sumber gizi bagi siswa. Terkait hal ini, pakar teknologi pangan dari Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Ir Sri Raharjo, MSc, menilai nominal paket MBG per porsi perlu dikaji ulang.

    Saat ini, kisaran harga per porsi untuk bahan makanan hanya Rp 8.000-Rp 10.000, yang dibedakan untuk jenjang SD hingga SMA. Padahal, kebutuhan gizi setiap usia anak, bisa berbeda-beda.

    "Kebutuhan energi siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas tidaklah sama sehingga perencanaan menu harus mempertimbangkan perbedaan tersebut," ucapnya, dikutip dari laman UGM, Senin (16/3/2026).

    Kualitas Makanan Siswa Bergantung pada Dapur SPPG

    Selama ini, penyaluran MBG dilakukan melalui satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Artinya, semua pengolahan makanan dan penyaluran, akan bergantung bagaimana SPPG menjaga kualitas menu dan makanannya.

    Di sisi lain, pengelolaan dapur harus berhadapan dengan produksi dalam jumlah yang sangat banyak. Ini berarti setiap SPPG harus memiliki manajemen pengolahan dan pengelolaan makanan yang baik. Jika tidak, maka berisiko terhadap keamanan pangan.

    "Jika pengelolannya belum terlatih menangani produksi dalam jumlah besar, risiko terhadap keamanan pangan dan nilai gizinya bisa lebih tinggi," ungkap Prof. Sri.

    Menurut Prof Sri, seharusnya SPPG memastikan bahwa paket MBG yang dibuat siswa harus memenuhi standar kebutuhan energi anak. Misal, bagi siswa SD rata-rata membutuhkan 450 kalori, siswa SMP sekitar 550 kalori, dan siswa SMA sekitar 650-700 kalori.

    "Kebutuhan energi tersebut harus dipenuhi melalui komposisi nutrisi yang seimbang, yang terdiri atas karbohidrat, protein, dan lemak dalam proporsi yang tepat," jelasnya.

    Sayangnya, yang terjadi di lapangan berbeda. Selama Ramadan, misalnya, paket MBG disederhanakan karena makanan baru bisa dimakan setelah berbuka atau pada sore hari.

    Paket MBG kering dan kurang memenuhi gizi pun menjadi sorotan terutama bagi orang tua siswa.

    "Pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap pelaksanaan program MBG agar tujuan utama program, yakni meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, dapat tercapai secara optimal," ujar Prof. Sri.

    MBG Bisa Memanfaatkan Kantin Sekolah

    Dengan segala tantangan yang dihadapi SPPG dan demi kebutuhan gizi siswa yang terpenuhi, Prof Sri menyarankan agar MBG bisa melakukan pendekatan lain. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan kantin sekolah.

    Dengan alokasi Rp 10.000 per porsi untuk bahan makanan, kantin sekolah diharapkan lebih bisa memenuhi standar gizi minimum. Sistem ini memungkinkan makanan diolah langsung di lingkungan sekolah sehingga produksi dan distribusi lebih mudah diawasi.

    "Memang tetap membutuhkan tenaga kerja, tetapi tidak sebanyak dapur SPPG yang harus memasak dalam jumlah sangat besar," ujarnya.

    Prof Sri menilai, sistem makanan yang diolah di kantin sekolah akan lebih bisa terjaga dan memiliki risiko yang lebih kecil.


    Komentar
    Additional JS