0
News
    Home Berita Featured Ilmu Pengetahuan Spesial

    2 Siswa SD Temukan Fosil Jangkrik Raksasa Usia 300 Ribu Tahun - detik

    3 min read

     

    2 Siswa SD Temukan Fosil Jangkrik Raksasa Usia 300 Ribu Tahun


    Fosil jangkrik yang diperkirakan berusia 300 ribu tahun Foto: Dok. Hiroaki Aiba/Jurnal Paleontological Research
    Jakarta -

    Penemuan fosil langka umumnya identik dengan kerja ilmuwan berpengalaman di lapangan. Namun, kisah berbeda datang dari Jepang, ketika dua siswi sekolah dasar justru berhasil menemukan fosil jangkrik berusia sekitar 300.000 tahun.

    Mereka adalah Maho Shinomiya berusia 11 tahun dan adiknya, Yuno Shinomiya (8) dari Higashikurume, Tokyo. Mereka secara tak sengaja menemukan fosil tersebut dari sebuah batu suvenir.

    Ketertarikan kakak beradik ini terhadap fosil telah tumbuh karena pengaruh sang ibu. Chika, nama ibu mereka, punya hobi mengumpulkan spesimen fosil. Melihat koleksi ibu, mereka takjub dengan proses bagaimana makhluk hidup bisa "berubah menjadi batu".

    Dilaporkan The Japan Times, fosil itu berasal dari era Pleistosen Tengah dan ditemukan dalam batu yang dibeli dari Konoha Fossil Museum. Hingga suatu hari, batu suvenir yang semula dibeli untuk koleksi justru dipecahkan di balkon rumah mereka dan dari situlah kejutan bermula.

    Saat batu tersebut terbelah, keduanya melihat bentuk menyerupai kepala serangga di dalamnya. Menyadari potensi temuan tersebut, sang ibu kemudian menghubungi ahli fosil serangga, Hiroaki Aiba, yang juga dosen tamu di Keio Gijuku. Spesimen itu pun dikirim untuk diteliti lebih lanjut.

    Fosil Jangkrik Utuh yang Langka

    Hasil analisis menunjukkan bahwa fosil tersebut merupakan jangkrik jantan berukuran besar dengan panjang sekitar 62 milimeter.

    Ukuran tersebut merupakan sebuah temuan yang tergolong langka. Pasalnya, sebagian besar fosil jangkrik yang pernah ditemukan umumnya hanya berupa bagian sayap, bukan tubuh utuh.

    Spesimen ini diduga memiliki kedekatan dengan spesies jangkrik modern di Jepang, yakni Auritibicen flammatus. Meski demikian, tidak ditemukan pola khas pada sayapnya, yang kemungkinan merepresentasikan bentuk awal atau nenek moyang spesies tersebut dalam konteks evolusi.

    Temuan ini kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Paleontological Research pada Februari bersama profesor emeritus Masami Hayashi dari Saitama University dengan judul Large cicada fossil (Cicadidae, Cicadinae, Tacuini) from the Middle Pleistocene Shiobara Group, Nasushiobara, Tochigi, Japan.

    Bagi Maho, publikasi tersebut menjadi pengalaman tak terlupakan. "Saya sangat terkejut dan gembira," ujarnya, dikutip dari Jiji Press.

    Tak berhenti di situ, penemuan ini juga memantik cita-cita besarnya. Ia mengaku ingin menjadi paleontolog dan bermimpi suatu hari dapat menemukan telur dinosaurus di Gurun Gobi.






    (sls/pal)

    Komentar
    Additional JS