Amerika Serikat Dikabarkan Ditinggal NATO, MUI Sebut Ini Peluang Umat Islam - Warta Kota
Amerika Serikat Dikabarkan Ditinggal NATO, MUI Sebut Ini Peluang Umat Islam
AS disebut ditinggalkan NATO dalam konflik Iran. MUI menilai situasi ini bisa menjadi peluang bagi umat Islam, namun tetap harus waspada.
Ringkasan Berita:Isu “AS ditinggalkan NATO” bukan sekadar dinamika konflik Iran, tetapi berpotensi menjadi titik awal perubahan keseimbangan kekuatan global—yang oleh sebagian pihak, termasuk MUI, dilihat sebagai peluang strategis bagi dunia Islam, meski tetap penuh ketidakpastian.
WARTAKOTALIVE.COM, MENTENG - Amerika Serikat disebut merasa ditinggalkan sekutunya di NATO saat berperang dengan Iran.
Kekecewaan tersebut disampaikan Sekretaris Luar Negeri AS Marco Rubio setelah hampir satu bulan perang AS-Israel dengan Iran.
Perang dengan Iran sendiri di luar prediksi AS lantaran rezim Republik Islam tidak bubar setelah digempur pada Sabtu (28/2/2026) lalu.
Menanggapi hal itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ukhuwah, KH Dr Muhammad Zaitun Rasmin, menilai dinamika tersebut setidaknya bisa dianggap sebagai sebuah peluang bagi umat islam di Timur Tengah.
Ia mengingatkan umat Islam tidak boleh menutup peluang kebaikan usai mendapat kabar AS ditinggalkan NATO dan meminta tetap waspada.
Baca juga: Paus Leo Kritik Donald Trump, Sinyal Baru Sikap Vatikan di Konflik Dunia
"Baru pertama kalinya Amerika ini berpisah dengan sekutu-sekutunya di Barat yang selama ini selalu menjadi pendukung utama dari Zionis Israel," ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Lebih lanjut Rasmin, konsep ajaran agama Islam dikatakan setiap kebaikan patut didukung, apalagi jika menyangkut perdamaian.
Kendati begitu, ia belum mengetahui siapa sosok atau negara mana yang bisa membawa pedamaian perang Iran Vs AS-Israel.
"Walaupun kita menduga, kita kan enggak bisa memastikan, siapa yang bisa memastikan sekarang ini? Kan tidak ada, hanya Allah yang tahu," tegasnya.
Menurutnya, agama Islam selalu mengajarkan perdamaian tapi tidak lugu dan bodoh serta harus realistis.
Selama satu bulan ini, ia melihat negara islam menerima dinamika yang terjadi karena sebagai pilihan paling realistis.
"Sampai saat ini tidak ada reaksi keras dari Gaza menolak. Tidak ada. Saya berkomunikasi dengan mereka bahwa bagi mereka tidak terlalu penting hal-hal yang sifatnya bunga-bunga ini (mundurnya Nato dari AS). Mereka menunggu apa substansinya nanti," ungkapnya.
Baca juga: Donald Trump Jualan Minyak AS di Tengah Blokade Selat Hormuz
Sejauh ini, Rasmin belum melihat peran dan keberpihakan dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) terhadap aksi brutal AS-Israel kepada Iran.
"Kira-kira apa yang telah dibuat PBB? Apakah baik untuk Palestina saat ini?," tanyanya.
Desakan Keluar dari BoP
Sebagai informasi, sejumlah pihak mendesak agar Indonesia keluar dari keanggotaan Board of Peace (BoP).
Rasmin mengatakan desakan itu perlu disikapi dengan objektif, karena serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sudah terjadi sebelum adanya BoP.
“Kalau mengaitkan dengan BoP, ya rasa-rasanya kita perlu objektif. Sebab, serangan Zionis dan Amerika ke Iran itu sudah terjadi sebelum ada BoP," tuturnya.
“Bagi saya, kalau pemerintah kita keluar dari BoP, kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah kita untuk benar-benar membantu saudara kita di Gaza, Palestina? Bukankah ini masih ada peluang, apalagi mereka diberi kesempatan,” tambah pria yang juga jabat ketua umum Wahdah Islamiyah itu.
Rasmin menegaskan, BoP menjadi wadah yang saat ini paling mungkin untuk membicarakan tentang perdamaian di Gaza dan kemerdekaan Palestina.
“Kalau orang berbicara bahwa itu kemungkinannya kecil (untuk) berhasil. Itu namanya teori kemungkinan. Bisa juga berhasil. Maka, biarlah pemerintah kita bersama 7 negara Islam lainnya, bahkan sudah bertambah jadi beberapa negara Islam, melakukan tugas itu. Dan tugas kita untuk terus berjuang secara maksimal," tandasnya. (m26)