0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Hormuz Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Benteng Alami di Hormuz, Pulau-pulau Ini Jadi Alasan Iran Mampu Kendalikan Ekonomi Dunia - Kompas

    9 min read

      

    Benteng Alami di Hormuz, Pulau-pulau Ini Jadi Alasan Iran Mampu Kendalikan Ekonomi Dunia

    TEHERAN, KOMPAS.com - Iran kini memiliki posisi tawar yang luar biasa kuat dalam mengendalikan jalur energi dunia.

    Selain memiliki kekuatan militer, rudal, dan droneIran memiliki letak geografis yang mampu mengendalikan jalur pelayaran paling vital bagi kebutuhan energi dunia: Selat Hormuz, jalur vital untuk 20 persen minyak dunia.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, lalu lintas kapal tanker di selat tersebut menyusut drastis karena Teheran menutup Selat Hormuz.

    Baca juga: Kabar Terbaru Kapal Pertamina yang “Nyangkut” di Selat Hormuz

    Teheran sadar betul akan posisinya dan memanfaatkan wilayahnya yang unik tersebut secara optimal untuk menciptakan sistem pertahanan yang sulit ditembus.

    Detik-detik Iran Sambut Kapal Perang Rusia, Siap Latihan Militer Meski "Digertak" AS

    Di Selat Hormuz pun, Iran berkuasa atas jajaran pulau-pulau kecil yang berjumlah 19 di selat sempit tersebut. 

    Teheran memanfaatkan pulau-pulau itu sebagai "benteng alami" untuk mengunci pergerakan kapal-kapal internasional.

    Dilansir dari Wall Street Journal, berikut strategi Iran memanfaatkan pulau-pulau strategis ini menjadi benteng alami yang memberikan Teheran kendali penuh atas Selat Hormuz.

    Baca juga: Ambil Rute Tak Biasa, Kapal India Lolos dari Selat Hormuz

    Strategi "kapal induk"

    Teheran secara resmi menyebut 19 pulau miliknya yang tersebar di sepanjang Selat Hormuz selebar 167 kilometer itu sebagai "kapal induk". 

    Di pulau-pulau ini, Iran membangun infrastruktur militer permanen yang mencakup sistem radar, landasan pacu, depot bahan bakar, hingga gudang rudal.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Direktur Jerusalem Institute for Strategy and Security Yossi Kuperwasser mengatakan, geografi Selat Hormuz yang sempit dan unik memaksa kapal-kapal tanker raksasa mau tak mau mengikuti rute tertentu.

    Dan rute-rute tersebut melewati pulau-pulau yang dikendalikan oleh Iran.

    Baca juga: Jika Iran Buka Selat Hormuz, Apakah Krisis Energi Dunia Langsung Reda?

    Pulau Larak dan Qeshm: tulang punggung pertahanan

    Dua pulau yang menjadi pilar utama dalam strategi "kapal induk" Iran adalah Pulau Larak dan Pulau Qeshm.

    Pulau Larak contohnya. Meski terlihat seperti gurun gersang, Larak adalah pusat intelijen. 

    Baca juga: Iran Pasang Pertahanan Berlapis di Pulau Kharg, Bersiap Hadapi Serangan AS

    Pulau ini menampung sistem gangguan komunikasi satelit buatan Rusia yang dijaga oleh pasukan elit dan kapal cepat rudal. 

    Max Meizlish, peneliti di Foundation for Defense of Democracies, menyebut Larak sebagai tulang punggung operasional koridor yang digunakan untuk memantau seluruh lalu lintas kapal.

    Sementara itu, Pulau Qeshm sebagai pulau terbesar berfungsi sebagai pangkalan militer raksasa yang menyimpan rudal di terowongan bawah tanah. 

    Posisi Qeshm memaksa kapal-kapal tanker untuk melintas sangat dekat dengan pesisir Iran jika ingin menuju laut lepas.

    Baca juga: Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz

    Pulau Greater Tunb dan Lesser Tunb: mata di jalur sempit

    Jika Larak dan Qeshm adalah ototnya, maka Pulau Greater Tunb dan Lesser Tunb adalah "mata" Iran. 

    Kedua pulau kecil ini terletak sangat dekat dengan jalur pelayaran utama yang lebarnya hanya sekitar 3 kilometer.

    Dengan menempatkan benteng militer di sini, Iran dapat memantau kapal dari jarak yang sangat dekat, mengingat kapal-kapal tanker harus melewati dua saluran dalam yang mengapit pulau-pulau ini.

    Baca juga: Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz

    Cengkeraman benteng alami

    Akibat kendali geografis ini, Iran kini menerapkan sistem penyaringan ketat. 

    Kapal-kapal tanker yang ingin melintas dikabarkan harus melalui perantara untuk mendapatkan izin dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

    Baca juga: Getol Tolak Perang, Eropa Diam-diam Sokong Serangan AS ke Iran

    "Ini bukan cara pergerakan kapal sebelum perang, dan ini merupakan perkembangan yang sangat mengganggu dalam hal kendali Iran atas lalu lintas melalui Selat tersebut," kata Tomer Raanan, analis risiko maritim di Lloyd’s List Intelligence.

    Raanan bahkan mengungkapkan bahwa dalam beberapa kasus, operator kapal harus membayar biaya transit yang mencapai 2 juta dollar AS dalam mata uang yuan China demi bisa melewati "gerbang" yang dijaga pulau-pulau tersebut.

    Upaya untuk membuka kembali jalur internasional ini diprediksi akan memicu pertempuran berdarah. 

    Kehadiran kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa Marinir AS ke-31 menunjukkan bahwa satu-satunya cara untuk mematahkan kendali Iran adalah dengan merebut pulau-pulau benteng tersebut satu per satu melalui serangan amfibisebuah operasi militer yang sangat berisiko tinggi.

    Baca juga: Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS