tirto.id - Ketua DPR RI, Puan Maharani, mendorong pemerintah memperluas cakupan program imunisasi tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga kelompok dewasa. Hal ini menyusul adanya korban jiwa dari kalangan tenaga kesehatan akibat campak.

Dorongan tersebut muncul setelah seorang dokter magang berinisial AMW (25) di Kabupaten Cianjur dilaporkan meninggal dunia pada 26 Maret 2026 akibat komplikasi pada jantung dan otak, yang diduga terkait paparan virus campak saat menjalankan tugas medis.

“Perlu juga perhatian terhadap kelompok dewasa muda setelah adanya korban dari kalangan tenaga kesehatan. Perlindungan imunisasi harus dilihat lebih luas, terutama bagi kelompok dengan interaksi tinggi di pelayanan publik atau lingkungan kerja berisiko,” kata Puan dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (2/4/2026).

Dia pun menyoroti masih maraknya kasus campak di Indonesia yang menyebabkan korban jiwa, baik pada balita maupun orang dewasa. Ia menilai kondisi ini harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi pelaksanaan program imunisasi.

“Kasus kematian akibat campak sejak awal tahun ini harus menjadi peringatan bagi kita semua. Ini juga menjadi kabar duka bagi layanan kesehatan Indonesia,” ucapnya.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat adanya penurunan signifikan kasus suspek dan terkonfirmasi campak hingga 93 persen pada pekan ke-12 tahun 2026 dibandingkan minggu pertama. Namun demikian, secara nasional masih tercatat 10 kematian akibat penyakit tersebut sepanjang tahun ini, dengan sebagian besar korban merupakan balita yang belum pernah menerima imunisasi.

Menurut Puan, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan kesehatan dasar tidak boleh memiliki celah, terutama dalam program imunisasi yang selama ini menjadi fondasi pencegahan penyakit menular.

Ia menilai, meskipun imunisasi campak selama ini difokuskan pada anak-anak, risiko penularan pada kelompok dewasa, terutama mereka yang bekerja di sektor pelayanan publik, tidak bisa diabaikan.

“Terutama pada program imunisasi yang selama ini menjadi fondasi pencegahan penyakit menular,” ujarnya.

Puan menilai, munculnya korban jiwa di tengah tren penurunan kasus menunjukkan bahwa tantangan kesehatan publik tidak hanya terletak pada ketersediaan layanan, tetapi juga pada kemampuan negara menjangkau seluruh kelompok rentan.

“Setiap kematian yang sebenarnya dapat dicegah harus menjadi bahan evaluasi serius. Negara tidak boleh membiarkan perlindungan kesehatan dasar melemah hanya karena informasi yang salah lebih cepat dipercaya dibanding penjelasan ilmiah,” tegasnya.

Dengan begitu, katanya, pengawasan epidemiologi atau surveilans tetap dilakukan secara ketat. Menurut Puan, langkah tersebut penting karena kasus campak masih ditemukan di sejumlah daerah. Di Provinsi Jawa Tengah, misalnya, ribuan kasus masih tercatat dan tiga daerah telah berstatus kejadian luar biasa (KLB), yakni Kabupaten Klaten, Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten Pati.

“Walaupun ada tren penurunan, fakta di lapangan menunjukkan kasus campak masih muncul. Ini harus menjadi pengingat pentingnya vaksinasi pada anak,” ujar Puan.

Puan meminta pemerintah memastikan cakupan imunisasi dasar benar-benar menjangkau wilayah dengan akses layanan kesehatan terbatas, sekaligus memperkuat edukasi berbasis komunitas untuk menjawab keraguan masyarakat terhadap vaksin.

Ia menambahkan, penguatan sistem kesehatan publik harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi kesehatan masyarakat, agar informasi yang benar dapat diterima secara luas dan tidak kalah oleh misinformasi.

“Negara perlu hadir hingga tingkat komunitas agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar, merasa dilibatkan, dan percaya bahwa setiap kebijakan kesehatan dijalankan untuk melindungi hak hidup seluruh warga negara,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan kronologi kematian dr. AMW, dokter internship di RSUD Pagelaran, Cianjur, yang diduga akibat penyakit campak.

Dokter berinisial AMW ini dinyatakan meninggal akibat campak dengan gangguan otak dan jantung. Sebelum meninggal, AMW sempat mengalami penurunan kesadaran hingga sejumlah gejala lainnya.

"Untuk kasus Laki-laki 25 tahun ini meninggal dan itu dalam prosesnya bisa dilihat di sini beliau memeriksa ada kasus campak di tanggal 8 (Maret 2026) kemudian 19 dan tanggal 21," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Andi menjelaskan bahwa AMW merupakan dokter IGD di RSUD Pangelaran yang sempat berdinas dalam dua hari berturut-turut pada 15–16 Maret 2026. Kemudian, dokter muda ini mengeluh demam, flu, dan batuk. Ia meminta izin untuk tidak berdinas dan telah diizinkan.

Namun, AMW tetap datang untuk berdinas selama tiga hari berturut-turut dan menangani kasus campak pada 19 dan 21 Maret, bahkan AMW tetap bertugas padahal telah mengalami ruam.

Kata Andi, AMW akhirnya mengajukan cuti karena kondisinya semakin lemah. Kemudian, pada 25 Maret pukul 23.00 WIB, AMW masuk IGD RS Cimacan. Andi menyebut, keluarga menyampaikan bahwa AMW mengalami penurunan kesadaran selama satu jam yang sebelumnya mengalami akral dingin.

Dalam pemeriksaan, tekanan AMW tercatat 90/60 dan nadinya 144 kali per menit. Dia juga mengalami sesak napas dengan saturasi oksigen 35 persen. Saturasi oksigen AMW pun menjadi 60 persen usai dibantu oksigen dengan sungkup 15 liter per menit.

Namun, Andi mengatakan, pada pukul 00.30 WIB 26 Maret, AMW dipindahkan ke ICU dan kondisinya memburuk hingga 09.15 WIB dan dilakukan intubasi. AMW dinyatakan meninggal pada pukul 11.30 WIB dengan diagnosis campak dengan gangguan jantung dan otak di RSUD Cimacan.

"Kasus dinyatakan meninggal dunia dengan diagnosis akhir campak dengan gangguan jantung dan otak," ujar Andi.