Delegasi Iran Tiba di Islamabad, Ultimatum ke AS: Penuhi Syarat atau Negosiasi Gagal - Viva
VIVA –Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf tiba di Islamabad, Pakistan Jumat malam 10 April waktu setempat untuk menggelar pembicaraan dengan perwakilan Amerika Serikat.
Qalibaf diketahui ditemani oleh sejumlah pejabat tinggi negara Iran mulai dari Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Sekretaris Dewan Pertahanan Nasional Tertinggi Ali-Akbar Ahmadian, Gubernur Bank Sentral Abdolnasser Hemmati, serta beberapa anggota parlemen.
Kedatangan delegasi Iran ini disertai peringatan dari Tehran bahwa kegagalan memenuhi prasayarat yang mereka ajukan dapat mengagalkan seluruh negosiasi.
Setibanya di Islamabad, Qalibaf menyebut jika Washington menjadikan negosiasi sekadar sebagai pertunjukan sia-sia atau operasi penipuan, maka Iran siap memperjuangkan hak-haknya dengan mengandalkan kekuatan sendiri.
Ia menegaskan bahwa serangan balasan Iran yang terukur dan tegas selama konflik terakhir menjadi bukti kesiapan negara tersebut dalam mempertahankan kepentingan nasional dan menjaga kedaulatannya.
Dia juga mengingatkan pengalaman Iran di masa lalu yang kerap dikhianati oleh Amerika Serikat, bahkan saat proses diplomasi sedang berlangsung.
“Dua kali dalam kurun kurang dari setahun, di tengah negosiasi, dan meskipun pihak Iran menunjukkan itikad baik, mereka justru menyerang kami dan melakukan berbagai kejahatan perang,” ujarnya seperti dilansir dari laman presstv.ir, Sabtu 11 April 2026
Ia menambahkan bahwa baik agresi terbaru maupun perang sebelumnya yang melibatkan AS dan Israel pada Juni lalu terjadi setelah Washington mulai menjalin proses diplomatik dengan Teheran.
“Kami memiliki itikad baik, tetapi tidak memiliki kepercayaan [kepada pihak lawan],” tegasnya.
Menurut Qalibaf, Amerika Serikat hanya akan melihat kesiapan Iran untuk mencapai kesepakatan jika benar-benar berniat membuat perjanjian yang adil serta menghormati hak-hak bangsa Iran.
Sementara itu dari pihak Amerika Serikat delegasi akan diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance, utusan kawasan Steve Witkoff, serta penasihat sekaligus menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, juga telah tiba di Islamabad.
Sebelumnya, pada hari Selasa, Trump mengumumkan penghentian sementara serangan Amerika terhadap Iran selama dua pekan. Pengumuman itu muncul 40 hari setelah AS bergabung dengan Israel dalam aksi agresi terbaru yang dianggap tanpa provokasi terhadap Iran.
Langkah tersebut diambil setelah Angkatan Bersenjata Iran melancarkan sedikitnya 99 gelombang serangan balasan yang terarah dan dinilai berhasil, menyasar target-target sensitif dan strategis milik Amerika dan Israel di berbagai wilayah.
Pada Jumat pagi, Qalibaf menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon serta pencairan aset Iran yang diblokir menjadi syarat utama sebelum negosiasi dengan Amerika Serikat bisa dimulai.
Iran juga telah mengajukan proposal berisi 10 poin yang oleh Trump disebut sebagai “dasar yang dapat dijalankan untuk bernegosiasi sekaligus kerangka utama pembicaraan.” Dalam proposal tersebut, ditegaskan bahwa gencatan senjata hanya bisa terwujud jika seluruh bentuk agresi dihentikan, termasuk yang terjadi di Lebanon.
Namun sejak pengumuman Trump, Israel justru meningkatkan serangan ke Lebanon secara signifikan, yang telah menewaskan ratusan orang, termasuk perempuan dan anak-anak.