Di Tengah Sensor Ketat, Beredar Rekaman CCTV Rudal Iran Hantam Israel Secara Presisi - Republika
Di Tengah Sensor Ketat, Beredar Rekaman CCTV Rudal Iran Hantam Israel Secara Presisi
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Seiring dimulainya perang Amerika Serikat dan Israel, terungkap gambaran di lapangan bertolak belakang dengan yang coba digambarkan lembaga militer Israel.
Sementara sensor militer memberlakukan pembatasan ketat terhadap lokasi jatuhnya roket, kamera pengawas dan sumber terbuka berhasil mendokumentasikan momen-momen ketika roket Iran dan roket Hizbullah menembus pertahanan udara, sehingga mengungkap peta sasaran yang mencakup pusat kota dan fasilitas sensitif.
Dokumentasi yang melampaui sensor
Dilansir Aljazeera, Rabu (8/4/2026), sumber terbuka melacak puluhan rekaman yang disiarkan di ruang digital dan memantau klip video yang direkam melalui kamera pengawas sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu.
Setelah proses verifikasi teknis digital, peta lokasi jatuhnya roket serta wilayah paling parah terkena dampak dan menjadi sasaran pun berhasil diidentifikasi
Lokasi yang terkena serangan langsung sebagaimana terlihat dalam dokumentasi visual, peta menunjukkan sebagian besar serangan terkonsentrasi di tengah Israel, termasuk wilayah Tel Aviv Raya (Petah Tikva, Rishon LeZion, Ramat Gan, dan Gush Dan), serta kota-kota Lod dan Beit Shemesh di sebelah barat Yerusalem yang diduduki.
Serangan tersebut meluas hingga mencakup sasaran-sasaran vital di utara dan selatan, di mana tercatat jatuhnya pecahan peluru di kilang minyak Haifa, serta serangan yang menargetkan pabrik-pabrik petrokimia di dalam kota Beersheba.
Halaman 2 / 5
Sementara pemukiman di dekat perbatasan dengan Lebanon, seperti Kiryat Shmona, Ma'alot-Tarshiha, dan Avivim, mengalami serangan intensif, dan data menunjukkan serangan terfokus diarahkan ke sasaran militer dan fasilitas industri sensitif.
Perang untuk menerapkan sensor
Sumber Terbuka memantau rekaman-rekaman ini setelah beredar di akun-akun Israel di platform Telegram, X, dan Facebook.
Di sini terlihat sebuah paradoks mencolok, yaitu media resmi Israel mengabaikan penyebaran hampir setengah dari rekaman ini melalui platform mereka.
Hal ini arena tidak mendapatkan persetujuan dari sensor militer, sehingga platform Telegram dan akun-akun yang tidak diawasi menjadi sumber utama penyebaran gambar-gambar ini dan memecahkan hambatan sensor.
Dalam konteks ini, Direktur Jenderal Gerakan untuk Kebebasan Informasi di Israel, Hedi Negev, mengungkap intensitas kerja sensor militer dalam perang saat ini, dengan menegaskan perwakilan sensor hadir di ruang redaksi televisi sepanjang hari untuk meninjau semua materi sebelum disiarkan.
Menurut data Negev, selama 2024, sensor militer telah mencegah publikasi 1.635 berita jurnalistik dan melarang publikasi bagian-bagian tertentu dari 6.265 berita lainnya.
Angka-angka yang belum pernah terjadi sebelumnya ini mencerminkan besarnya campur tangan dalam pencegahan publikasi dan penyensoran terkait aspek-aspek keamanan.
Korban jiwa yang besar dan kelelahan pertahanan
Halaman 3 / 5
Berdasarkan data lapangan, Iran meluncurkan setidaknya 31 rudal balistik ke arah Israel dalam 450 menit pertama menewaskan 12 orang selama perang.
Surat kabar Haaretz mengonfirmasi bahwa serangan tersebut langsung menghantam Tel Aviv, Beit Shemesh, Yerusalem, Beersheba, Dimona, Arad, Safed, dan Hadera
Selain itu, 42 rudal cluster berhasil menembus sistem pertahanan udara, melepaskan puluhan bom kecil yang menghantam lebih dari 230 lokasi, sebagian besar di pusat Israel.
Serangan Iran ini mengakibatkan tewasnya 16 orang di Israel selama bulan pertama, dan dalam perkembangan yang menyoroti meningkatnya kegagalan pertahanan, surat kabar Yedioth Ahronoth awal pekan ini mengumumkan penemuan jenazah empat warga Israel.
Keempat mayat itu sebelumnya dilaporkan hilang di bawah reruntuhan sebuah gedung yang terkena serangan langsung Iran di Haifa, di mana sistem pertahanan gagal mencegat rudal yang jatuh tanpa meledak.
Seiring dengan serangan Iran, Hizbullah meningkatkan serangan roketnya dari Lebanon yang menjangkau wilayah luas di utara dan tengah Israel.
Serangan tersebut menargetkan fasilitas-fasilitas vital, termasuk stasiun satelit di Beit Shemesh, dan serangan roket tersebut secara jelas difokuskan pada kota-kota dan pemukiman yang dekat dengan perbatasan Lebanon.
בכביש, בין בתים וללא אזעקה: תיעוד פגיעת הרקטה בקריית שמונה
(אורלי אלקלעי) pic.twitter.com/ZeQNXrLd5W — כאן חדשות (@kann_news) April 4, 2026
Halaman 4 / 5
Ini dalam langkah yang menegaskan bahwa partai tersebut—melalui pernyataannya—bertujuan memaksa penduduk mengungsi dan menjaga front utara dalam keadaan terkuras secara terus-menerus.
Erosi deterensi dan krisis kepercayaan
Dalam analisis terhadap situasi ini, pakar urusan Israel Dr Muhannad Mustafa berpendapat bahwa perang telah memasuki fase "pengurasan" yang kini menjadi beban berat bagi masyarakat Israel.
Mustafa menunjuk—dalam wawancaranya dengan Aljazeera Net - pada kontradiksi yang mencolok antara pernyataan berulang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengenai pencapaian kemenangan dan penghancuran kemampuan rudal Iran.
Kenyataannya, rudal-rudal Iran terus tiba dan menimbulkan kerusakan serta korban jiwa, yang mengakibatkan penurunan dukungan terhadap perang dari 50 persen pada awalnya menjadi 82 persen saat ini.
Mustafa menambahkan, berlanjutnya serangan roket tanpa kemampuan militer untuk menghentikannya telah memperdalam jurang pemisah antara rakyat Israel dan kepemimpinan politik serta militer mereka, sambil menegaskan bahwa perang ini telah melampaui perkiraan waktu lima pekan.
Dia mencatat Israel telah memasuki keadaan darurat dan penutupan total yang melumpuhkan ekonomi serta menghentikan operasional bandara dan proyek-proyek komersial.
Halaman 5 / 5
Selain itu juga memperburuk ketidakpastian, terutama dengan dibukanya front Lebanon di mana kemampuan Hizbullah mengejutkan tentara Israel dan menyeretnya ke dalam lingkaran setan pengurasan yang kedua.
Pakar urusan Israel tersebut menyimpulkan bahwa tetap ditutupnya wilayah udara serta pembatalan penerbangan oleh maskapai penerbangan internasional—seperti maskapai Amerika Serikat, United Airlines—hingga September mendatang, semakin memperparah rasa putus asa di kalangan masyarakat.
Kini, masyarakat Israel mengajukan pertanyaan mendasar: "Jika memang ada kemenangan seperti yang diklaim Netanyahu, mengapa perang belum berhenti? Dan mengapa roket-roket masih terus menghujani kami, sementara biaya ekonomi dan sosialnya melampaui semua perkiraan?"