Gejala Kanker Ginjal Sering Terlambat Disadari, Ini Cara Mendeteksinya Lebih Cepat - Liputan6
Gejala Kanker Ginjal Sering Terlambat Disadari, Ini Cara Mendeteksinya Lebih Cepat
Gejala kanker ginjal sering terlambat disadari. Kenali tanda awal dan cara deteksi dini dengan teknologi medis terkini untuk cegah risiko lebih parah.
- Mengapa kanker ginjal sering terdeteksi pada stadium lanjut?
- Apa saja gejala kanker ginjal yang perlu diwaspadai?
- Mengapa deteksi dini sangat penting untuk kanker ginjal?
Liputan6.com, Jakarta - Banyak kasus kanker ginjal di Indonesia baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut. Kondisi ini membuat pilihan pengobatan menjadi lebih terbatas dan peluang kesembuhan menurun. Padahal, kanker ginjal termasuk jenis kanker yang bisa diobati dengan hasil baik jika ditemukan sejak dini.
Sayangnya, gejala kanker ginjal sering kali tidak disadari sejak awal. Penyakit ini kerap berkembang tanpa tanda yang jelas, sehingga banyak pasien baru memeriksakan diri ketika kondisi sudah memburuk.
Gejala Kanker Ginjal yang Sering Terlewat
Dokter Spesialis Onkologi Medis di Mount Elizabeth Novena Hospital, Dr. Tanujaa Rajasekaran mengatakan bahwa pada tahap awal, kanker ginjal biasanya tidak menimbulkan keluhan spesifik.
Namun, seiring perkembangan penyakit, beberapa gejala mulai muncul, seperti darah dalam urine, nyeri di area pinggang, kelelahan, hingga penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Karena gejalanya mirip dengan gangguan kesehatan lain yang lebih ringan, lanjut Tanujaa, banyak orang cenderung mengabaikannya. Inilah yang menyebabkan kanker ginjal sering terlambat terdiagnosis.
"Apabila terdeteksi sejak dini, kanker ginjal sangat bisa diobati dan memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi. Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya pemeriksaan berkala," ujarnya.
Lebih lanjut Tanujaa, mengingatkan, deteksi dini menjadi kunci utama dalam meningkatkan peluang kesembuhan kanker ginjal. Pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi individu dengan faktor risiko seperti riwayat keluarga, obesitas, atau hipertensi, sangat dianjurkan.
Selain itu, pemeriksaan pencitraan medis seperti USG, CT scan, atau MRI dapat membantu mendeteksi adanya kelainan pada ginjal sejak tahap awal, bahkan sebelum gejala muncul.
Kini, perkembangan teknologi medis juga membuka peluang deteksi yang lebih cepat dan akurat.
Pengobatan Kanker Ginjal Kini Lebih Personal
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3220677/original/041613900_1598513373-photo-1559757175-0828e13882ed.jpg)
Salah satu inovasi terbaru dalam dunia medis adalah tes berbasis DNA dan Multi-Cancer Early Detection (MCED). Teknologi ini memungkinkan dokter mendeteksi sinyal kanker melalui sampel darah, bahkan sebelum gejala fisik terlihat.
Dengan metode ini, risiko kanker dapat diketahui lebih awal, sehingga intervensi medis bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
"Melalui skrining genetik dan tes DNA seperti MCED, kita tidak hanya dapat mendeteksi risiko kanker jauh lebih awal, tetapi juga merancang program pengobatan presisi sesuai kondisi pasien," kata Tanujaa.
Selain deteksi dini, kemajuan lain juga terlihat pada metode pengobatan kanker ginjal. Kini, terapi tidak lagi bersifat satu metode untuk semua pasien, melainkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Pengobatan berbasis profil genetik tumor memungkinkan dokter memberikan terapi yang lebih tepat, seperti terapi target dan imunoterapi. Bahkan, pada beberapa kasus kanker ginjal stadium lanjut, metode ini mampu memberikan peluang remisi jangka panjang.
Di sisi lain, teknik operasi juga semakin berkembang. Prosedur seperti bedah robotik memungkinkan pengangkatan tumor tanpa merusak jaringan ginjal yang masih sehat.
Dokter spesialis nefrologi, Dr. Lye Wai Choong, menekankan pentingnya pendekatan yang menyeluruh dalam menjaga kesehatan ginjal.
"Skrining awal memegang peran yang krusial. Dengan deteksi dini, kita bisa mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius," ujarnya.
Dia juga mengingatkan bahwa menjaga gaya hidup sehat, seperti mengatur pola makan, menjaga berat badan, dan rutin berolahraga, dapat membantu menurunkan risiko penyakit ginjal, termasuk kanker.