0
News
    Home Berita Featured Plastik Spesial Toyota

    Harga Mobil Bakal Naik Imbas Melonjaknya Harga Plastik? Ini Kata Toyota - Tribunnews

    7 min read

     

    Harga Mobil Bakal Naik Imbas Melonjaknya Harga Plastik? Ini Kata Toyota

    Industri otomotif berharap stabilitas pasokan plastik pulih dan mendorong inovasi material alternatif di tengah krisis


    Ringkasan Berita:
    • Harga plastik melonjak akibat gangguan pasokan global dari Timur Tengah, berdampak ke industri otomotif.
    • Meski biaya produksi naik, produsen mobil memilih menahan harga demi menjaga daya beli masyarakat.
    • Industri berharap stabilitas pasokan pulih dan mendorong inovasi material alternatif di tengah krisis.

     

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lonjakan harga bahan baku plastik yang terjadi belakangan ini mulai menjadi perhatian pelaku industri, termasuk sektor otomotif

    Kenaikan tersebut dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah akibat adanya perang Israel-Amerika Serikat vs Iran.

    Plastik merupakan salah satu komponen penting dalam industri otomotif, mulai dari interior kendaraan hingga berbagai komponen penunjang lainnya. 

    Baca juga: Pedagang Kaget Harga Plastik Melonjak Tiba-tiba: Biasanya Naik Rp10.000, Sekarang Rp150.000 

    Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengakui bahwa kondisi ini perlu segera diatasi agar tidak mengganggu aktivitas produksi secara keseluruhan.

    "Kalau sektor otomotif pasti membutuhkan plastik. Bukan hanya otomotif, sektor-sektor lain seperti makanan dan minuman itu banyak menggunakan plastik. Jadi saya berharap bahwa kelangkaan bahan baku plastik ini jangan sampai mengganggu produksi," tutur Bob kepada Wartawan di Jakarta, Jumat (3/4/2026).

    Stabilitas pasokan plastik menjadi krusial, tidak hanya bagi industri otomotif, tetapi juga sektor-sektor strategis lainnya.

    Meski harga plastik naik, di tengah tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku, industri otomotif justru memilih menahan diri untuk tidak serta-merta menaikkan harga jual kendaraan. 

    Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat yang masih dalam tahap pemulihan.

    "Kita berharap ini bisa segera teratasi dengan baik. Biasanya kalau otomotif kita justru mempertahankan. Jadi jangan sampai daya beli terpukul kita menaikkan harga," ungkapnya.

    Menurut Bob, seluruh rantai pasok industri juga diharapkan dapat bersikap serupa, yakni menahan kenaikan harga demi menjaga keseimbangan antara produsen dan konsumen.

    "Kemudian di supply chain begitu juga. Walaupun kelangkaan ini akan memacu kenaikan harga, tapi sedapat mungkin kita di sektor industri untuk menahan diri. Jangan sampai menaikkan harga dalam situasi yang sulit saat ini. Sama-sama menjagalah supaya baik produsen maupun konsumen bisa tetap terjaga kelangsungannya," jelas Bob Azam.

    Di sisi lain, kondisi sulit ini dinilai dapat menjadi momentum bagi lahirnya berbagai inovasi, termasuk dalam penggunaan material alternatif maupun efisiensi produksi.

    "Pastilah setiap ada kesulitan itu akan muncul inovasi-inovasi baru. Kita sih berharap akan muncul inovasi-inovasi baru di setiap kesulitan, termasuk kesulitan bahan baku yang saat ini kita hadapi," ujar Bob.

    Imbas Perang di Timur Tengah

    Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menjelaskan, lonjakan harga plastik dipicu gangguan pasokan bahan baku global.

    "Ini imbas dari ketegangan di Middle East, sehingga dengan ditutupnya Selat Hormuz itu 70 persen bahan baku nafta yang kita butuhkan itu jadi tidak bisa keluar dari sana," tutur Fajar saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (3/4/2026).

    Ia menambahkan, ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan terjadi saat kebutuhan mulai meningkat selama periode Lebaran.

    "Demand H+10 Lebaran ini mulai aktif, sehingga antara permintaan dengan suplai memang terjadi ketidakseimbangan," jelas Fajar.

    Menurut Fajar, kenaikan harga sebenarnya sudah terjadi sejak konflik di kawasan Timur Tengah memanas, namun baru terasa signifikan setelah aktivitas pasar kembali normal pasca Lebaran.

    "Seolah-olah harganya naiknya besar sekali, padahal kenaikannya itu sudah mulai dari minggu kedua pada saat perang di Iran dan Israel tadi," ujarnya.


    Komentar
    Additional JS