0
News
    Home Berita Featured Plastik Spesial

    Harga Plastik Meroket Imbas Perang Iran, Nasib Es Teh Rp3.000 Kini di Ujung Tanduk - Tribunnews

    4 min read

      

    Harga Plastik Meroket Imbas Perang Iran, Nasib Es Teh Rp3.000 Kini di Ujung Tanduk


    Harga plastik meroket imbas perang Iran! Nasib es teh Rp3.000 terancam, untung pedagang sisa Rp500. Simak analisis krisisnya di sini.

    Ringkasan Berita:
    • Dampak Global: Konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga Nafta (bahan baku plastik) dunia hingga 917 USD/ton.
    • Tekanan UMKM: Margin keuntungan pengusaha es teh murah merosot hingga tersisa Rp500 per gelas akibat kenaikan modal kemasan.
    • Efek Berantai: Industri otomotif dan bahan bangunan mulai memperketat efisiensi guna menahan kenaikan harga jual ke konsumen.

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Fenomena bisnis es teh manis Rp3.000 yang menjamur di berbagai wilayah kini berada di situasi sulit. Lonjakan harga kemasan plastik yang meroket imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) akibat biaya operasional yang membengkak.

    Salah satu pengusaha es teh di Semarang, Nafis Ghifari, mengungkapkan bahwa kenaikan harga gelas plastik (cup), penutup plastik (sealer), hingga kantong plastik telah menggerus margin keuntungan secara signifikan.

    Dengan harga jual eceran Rp3.000 per gelas, kini pedagang hanya mampu meraup untung bersih sekitar Rp500.

    "Kondisi saat ini sudah tidak ideal untuk menutup biaya operasional. Biaya kemasan naik hingga 65 persen bagi ratusan cabang usaha kami," ujar Nafis.

    Anomali Harga di Pasar Tradisional

    Kondisi serupa terjadi di pasar tradisional.

    Ina, pedagang di Pasar Musyawarah Jakarta Barat, menyebut fluktuasi harga terjadi hampir setiap hari. 

    Harga plastik kemasan putih yang semula Rp10.000 kini melonjak menjadi Rp15.000.

    "Hari ini belanja, besok harganya sudah berubah lagi. Kenaikannya sangat mendadak," ucap Ina, Jumat (3/4/2026). Bahkan, kenaikan harga per karton (grosir) dari tingkat distributor dilaporkan mencapai Rp150.000.

    Gangguan Pasokan di Selat Hormuz

    Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz telah memutus akses 70 persen bahan baku Nafta (produk minyak bumi untuk industri petrokimia) yang diimpor Indonesia dari Timur Tengah.

    Saat ini, harga Nafta global telah menyentuh 917 USD/ton.

    "Kenaikan ini terjadi bertahap sejak eskalasi konflik meningkat. Krisis pasokan juga dirasakan manufaktur di Singapura, China, hingga Korea Selatan," jelas Fajar, Jumat (3/4/2026).

    Baca juga: Banyak Negara Krisis Energi, Thailand Malah Akan Pangkas Harga BBM

    Mitigasi Industri dan Pemerintah

    Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memperingatkan bahwa disrupsi ini bisa bertahan hingga enam bulan ke depan.

    Akibatnya, harga komoditas lain seperti beras dan bahan bangunan berpotensi ikut terdampak.

    Sektor otomotif turut meningkatkan kewaspadaan.

    Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, mengakui plastik adalah komponen krusial dalam interior kendaraan. Namun, industri berupaya menahan diri untuk tidak menaikkan harga jual.


    Komentar
    Additional JS