Hizbullah Melawan di Tengah Serangan Intens Israel, Rudal-Rudal Perlawanan Hantam Wilayah Zionis - Republika
Hizbullah Melawan di Tengah Serangan Intens Israel, Rudal-Rudal Perlawanan Hantam Wilayah Zionis
REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT— Hizbullah meluncurkan gelombang pertama serangan roketnya ke arah Israel, dalam serangan pertama yang dilancarkan sejak diumumkannya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Serangan perlawanan ini dilakukan setelah hari yang penuh kekerasan di Lebanon, dan setelah sekitar sembilan jam keadaan tenang.
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth, dilansir Aljazeera, Kamis (9/4/2026) melaporkan pada dini hari Kamis ini bahwa sebuah roket yang diluncurkan dari wilayah Lebanon ke arah wilayah Galilea Atas di utara Israel telah berhasil dicegat.
Front Dalam Negeri Israel mengumumkan bahwa sirene peringatan berbunyi di kota-kota Al-Manara dan Margiliot dekat perbatasan Lebanon, di tengah kekhawatiran akan jatuhnya pecahan roket di wilayah sasaran.
Saluran 15 Israel mengutip pernyataan militer bahwa roket diluncurkan dari Lebanon ke arah utara Israel, sekitar sembilan jam setelah situasi tenang di front utara.
Hizbullah tidak lama kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini, dengan mengumumkan—dalam pernyataan resmi—bahwa mereka bertanggung jawab atas peluncuran roket tersebut, dalam serangan pertama yang dilancarkan sejak perjanjian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Kamis dini hari pukul 02.30, partai tersebut menjelaskan bahwa pejuang Perlawanan Islam menargetkan pemukiman Al-Manara dengan serangan roket pada pukul tersebut.
Hizbullah menegaskan serangan ini merupakan balasan atas pelanggaran musuh terhadap perjanjian gencatan senjata.
Hal ini merujuk pada puluhan serangan udara Israel yang brutal terhadap Lebanon pada Rabu kemarin, sambil mengancam bahwa balasan ini akan terus berlanjut hingga agresi Israel-Amerika terhadap negara dan rakyat kami berhenti.
Halaman 2 / 7
Israel telah meningkatkan intensitas serangan udaranya ke Lebanon pada Rabu secara signifikan, dengan pengumuman hanya beberapa menit sebelumnya, dalam serangan yang menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya, serta menargetkan 10 lokasi selama 100 serangan, yang kembali memunculkan pertanyaan mendasar mengenai sifat sasaran dan makna eskalasi ini.
Eskalasi ini terjadi sementara Iran, Pakistan, dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Lebanon, Nabih Berri, mengumumkan bahwa Lebanon termasuk dalam gencatan senjata antara Washington dan Teheran yang diumumkan pada Rabu kemarin.
Namun, tentara Israel mengatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata tersebut dan melanjutkan serangannya setelah gencatan senjata dimulai, sementara Hizbullah telah menegaskan -sebelumnya- bahwa darah para syuhada tidak akan sia-sia, dan pembantaian ini menegaskan hak alami dan hukum kami untuk melawan pendudukan.
Kompleksitas situasi dan implikasi eskalasi
Kembalinya Hizbullah ke medan pertempuran dengan cepat memiliki implikasi strategis yang penting, karena hal ini pertama-tama menunjukkan bahwa kebijakan membiarkan kesempatan berlalu dan diam di lapangan yang diterapkan oleh partai tersebut selama hari pertama gencatan senjata tidak lagi memungkinkan, mengingat besarnya kerugian dan pembantaian yang dilakukan Israel yang menargetkan basis pendukungnya.
Selain itu, perkembangan ini menempatkan perjanjian gencatan senjata antara Washington dan Teheran—yang digambarkan rapuh—di hadapan ujian serius, yang berpotensi mempersulit jalannya negosiasi yang dijadwalkan di Islamabad besok Jumat.

Para pengamat berpendapat bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah menimbulkan pertanyaan tentang reaksi pihak-pihak lain dalam apa yang disebut Iran sebagai poros perlawanan.
Sementara Teheran mungkin menunda intervensi langsung, beberapa pengamat tidak mengesampingkan kemungkinan pihak lain mengambil tindakan militer terhadap Israel, sebagai bentuk solidaritas dan untuk meringankan tekanan pada front Lebanon.
Di saat yang sama, perhatian kini tertuju pada pemerintahan AS untuk melihat bagaimana mereka menangani situasi rumit ini, terutama setelah Presiden AS Donald Trump—dalam pernyataan sebelumnya—menyiratkan bahwa perang di Lebanon merupakan konflik terpisah, dan berjanji bahwa hal itu akan ditangani dan diselesaikan juga.
Oleh karena itu, jam-jam mendatang akan menjadi penentu apakah diplomasi AS-Pakistan mampu menengahi eskalasi timbal balik ini dan memasukkan Lebanon ke dalam penyelesaian, ataukah kekukuhan Israel untuk memisahkan medan pertempuran akan mendorong kawasan ini tergelincir kembali ke arah konfrontasi menyeluruh.

Halaman 3 / 7
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa jumlah korban terdiri dari 92 gugur dan 742 luka-luka di ibu kota Beirut, serta 61 gugur dan 200 luka-luka di pinggiran selatan Beirut.
Ditambahkan bahwa tercatat 18 gugur dan 28 luka-luka di distrik Baalbek, serta sembilan gugur dan enam luka-luka di distrik Hermel (timur).
Jumlah korban juga mencakup 28 gugur dan 59 luka-luka di Nabatieh, 17 gugur dan 6 luka-luka di distrik Aley, 12 gugur dan 56 luka-luka di Saida, serta 17 gugur dan 68 luka-luka di Tyre (selatan), menurut pernyataan tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon juga melaporkan bahwa jumlah korban sementara akibat serangan Israel di negara tersebut pada Rabu mencapai 182 orang gugur dan 890 orang luka-luka.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nasiruddin, mengatakan kepada Aljazeera bahwa ambulans masih mengangkut korban ke rumah sakit, seraya menyerukan lembaga-lembaga internasional untuk membantu sektor kesehatan Lebanon.
Dalam pernyataan sebelumnya, dia menyebutkan bahwa rumah sakit dipenuhi oleh korban tewas dan terluka.
Koresponden Aljazeera melaporkan bahwa serangan Israel semakin meluas, mencakup wilayah luas di selatan negara itu, melewati Pegunungan Lebanon, hingga ke pinggiran selatan, serta wilayah di dalam ibu kota Beirut, serta Tyre, Hermel, dan Bekaa.
Halaman 4 / 7
Menurut Hanna, tujuan Israel adalah memperkuat apa yang disebut zona penyangga dalam wilayah Lebanon, yang membentang antara 7 hingga 10 kilometer, dalam upaya melumpuhkan kemampuan Hizbullah untuk membalas.
Sementara perkiraan lapangan menunjukkan 75 persen roket yang diluncurkan Hizbullah berasal dari utara Sungai Litani.
Dia menyatakan keyakinannya bahwa Hizbullah hanya memiliki satu pilihan jika perjanjian tidak dipatuhi, yaitu berperang dan melakukan balasan militer.
Dia mencatat Israel hingga saat ini telah menanggung kerugian finansial yang besar, karena perang sejak 7 Oktober 2023 telah menelan biaya sebesar 92 miliar dolar AS, yang mencerminkan skala eskalasi dan taruhannya di panggung Lebanon.
Hizbullah menegaskan—dalam serangkaian pernyataan militer—bahwa serangannya terhadap pasukan dan kendaraan Israel dilakukan untuk membela Lebanon dan rakyatnya seiring berlanjutnya agresi Israel terhadap negara tersebut sejak 2 Maret lalu.
Implikasi Politik
Sementara itu, penulis dan analis politik Tony Francis berpendapat bahwa serangan Israel tersebut mencerminkan sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menolak melibatkan Lebanon dalam perjanjian gencatan senjata dengan Iran.
“Serangan-serangan ini bertujuan untuk menciptakan kegemparan politik guna merumuskan ulang draf perjanjian tersebut,” kata Francis.
انهيار مبنى في كورنيش المزرعة بالعاصمة اللبنانية بيروت إثر غارة إسرائيلية.. مراسل الجزيرة جوني طانيوس ينقل المشهد من موقع الغارة#الأخبار pic.twitter.com/aEhqtx0AmM — قناة الجزيرة (@AJArabic) April 8, 2026
Halaman 5 / 7
Francis mengatakan kepada Aljazeera bahwa Iran, melalui Hizbullah, telah menjadi pihak utama dalam setiap negosiasi regional, terutama dengan kemungkinan penutupan kembali Selat Hormuz jika gencatan senjata menyeluruh tidak dipatuhi.
Menurut Francis, Israel memang menargetkan Hizbullah, namun serangan tersebut menimpa warga sipil secara tak terduga, sehingga meningkatkan jumlah korban menjadi sangat besar.
Dia menegaskan semua langkah ini merupakan bagian dari persiapan untuk pertemuan yang kemungkinan akan digelar di Pakistan antara pihak-pihak internasional yang terlibat.
Francis menyimpulkan Iran akan mencoba bernegosiasi atas nama Hizbullah untuk memastikan posisi yang kuat dalam dinamika regional.
Sementara Israel menekan secara militer untuk memaksakan syarat-syaratnya di meja perundingan.
Direktur Kantor Al Jazeera di Lebanon, Mazen Ibrahim, menegaskan bahwa serangan Israel ini merupakan yang terberat sejak invasi tahun 1982.
Hal ini karena Beirut tidak pernah mengalami serangan seintensif ini di jantung ibu kota selama Perang 2006, sambil mencatat bahwa peristiwa ini mencerminkan eskalasi besar dalam tingkat operasi.
Serangan brutal Israel ke Lebanon dilakukan tak lama setelah Trump mengumumkan gencatan senjata kemarin.
Serangan udara Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya di berbagai wilayah Lebanon sejak dini hari Rabu ini telah menewaskan 254 orang dan melukai 1.165 orang lainnya, demikian dilaporkan Kantor Berita Nasional mengutip pernyataan dari Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil Lebanon.
وزير الدفاع الإسرائيلي كاتس: حذرنا نعيم قاسم من أن حزب الله سيدفع ثمنا باهظا لمهاجمته إسرائيل نيابة عن إيران وسيأتي الدور عليه#الأخبار pic.twitter.com/OcQlJjsDPV — قناة الجزيرة (@AJArabic) April 8, 2026
Halaman 6 / 7
Lebanon mengalami eskalasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh tentara pendudukan Israel pada Rabu (9/4/2026).
Serangan menargetkan ibu kota Beirut dan wilayah luas yang membentang dari selatan hingga utara Lebanon, di tengah berlanjutnya negosiasi internasional mengenai gencatan senjata dengan Iran.
Israel melancarkan serangan udara dalam hitungan menit, yang menargetkan dua blok apartemen dan lebih dari 100 bangunan sipil, menurut peta interaktif yang ditayangkan Aljazeera, dikutip Kamis (9/4/2026).
Sementara Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz mengatakan ratusan anggota Hizbullah menjadi sasaran serangan mendadak terhadap markas mereka di seluruh Lebanon, dalam serangan terkonsentrasi terbesar.
Dalam konteks ini, pakar militer Brigadir Jenderal Elias Hanna mengatakan bahwa serangan Israel terjadi dalam situasi kritis, di mana perjanjian gencatan senjata dengan Iran mencakup poin-poin melibatkan Lebanon, sehingga serangan Israel tersebut mengejutkan dan telah direncanakan sejak lama.
Hanna—dalam segmen analisis militer di Aljazeera—menyebutkan bahwa serangan udara tidak hanya terbatas di pinggiran selatan Beirut, tetapi mencakup seluruh ibu kota, selatan dan utara Sungai Litani, serta Bekaa.
"Serangan tersebut tampaknya ditujukan khusus kepada pimpinan Hizbullah, namun menimpa warga sipil dan bangunan perumahan secara luas," kata dia menegaskan.
Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, dalam sebuah pernyataan, mengancam tentara akan terus melakukan serangan udara ke Lebanon tanpa henti.
Sementara Katz mengatakan Israel bersikeras memisahkan perang dengan Iran dari pertempuran di Lebanon, dengan dalih bahwa hal itu untuk mengubah realitas di Lebanon dan menghilangkan ancaman yang dihadapi Israel utara.
المديرية العامة للدفاع المدني اللبناني تعلن حصيلة أولية لضحايا الغارات الإسرائيلية على لبنان اليوم#إنفوغراف pic.twitter.com/eFQT2EqlLA — قناة الجزيرة (@AJArabic) April 8, 2026
Halaman 7 / 7
Ini bersamaan dengan pengumuman tentara Israel tentang pelaksanaan serangan besar-besaran terhadap Lebanon sejak dimulainya perang, beberapa jam setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran selama dua pekan.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyerukan kepada komunitas internasional untuk menjalankan tanggung jawabnya dan mengakhiri apa yang dia gambarkan sebagai sikap agresif yang mengancam stabilitas kawasan.
"Berlanjutnya kebijakan agresif Israel hanya akan menimbulkan ketegangan yang lebih besar,"ujar dia.
— Nawaf Salam نواف سلام (@nawafsalam) April 8, 2026
Sementara itu, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengatakan Israel mengabaikan prinsip-prinsip hukum internasional dan kemanusiaan, tanpa mempedulikan semua upaya regional dan internasional untuk menghentikan perang.
Dia menyerukan kepada teman-teman negaranya untuk membantu menghentikan serangan Israel dengan segala cara.
Salam menulis dalam sebuah unggahan di platform X, "Meskipun kami menyambut baik kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat serta mengintensifkan upaya kami untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di Lebanon, Israel terus memperluas serangannya yang menargetkan kawasan pemukiman padat dan menewaskan warga sipil tak bersenjata di berbagai wilayah Lebanon."