IDS Pelajar SMA di Yogya Dikeroyok Hingga Tewas: Jarang Keluar Malam, Cuma Nongkrong di Angkringan - Liputan6
IDS Pelajar SMA di Yogya Dikeroyok Hingga Tewas: Jarang Keluar Malam, Cuma Nongkrong di Angkringan
Advertisement
- Siapa IDS dan apa yang terjadi padanya?
- Mengapa IDS dikeroyok?
- Bagaimana kronologi pengeroyokan IDS?
Liputan6.com, Jakarta - IDS (16) pelajar SMA di Bantul Yogyakarta, dikeroyok gerombolan pemuda di Lapangan Gadung Mlati, Selasa (14/4/2026) malam. Dia dikeroyok karena dituduh anggota salah satu geng. Namun tak terbukti.
Kakak IDS, Rofiq Nur Setyawan menceritakan keseharian adiknya. Sejak setahun terakhir, IDS tidak pernah keluar malam. Kalaupun harus keluar rumah pada malam hari, hanya untuk kebutuhan tertentu.
IDS biasanya keluar rumah untuk kebutuhan jual beli barang dagangannya. Dia tengah belajar bisnis menjual baju thrifting.
“Mungkin maksimal jam sepuluh,” ujar Rofiq saat ditemui di rumah duka, Selasa (21/4/2026).
Adiknya itu sudah cukup lama belajar untuk bisnis kecil-kecilan. Agar bisa memiliki pendapatan sendiri. Meskipun bisnis baju thrifting itu bukan prioritasnya.
Rofiq tidak mengetahui persis kegiatan lain yang dilakukan adiknya. Namun, dia tidak pernah mendengar kabar Kalau adiknya ikut dalam geng tertentu. Menurutnya, adiknya tidak pernah melakukan kegiatan macam-macam.
“Cuma biasa sebatas mungkin nongkrong di angkringan sampai jam sembilan, dia pulang,” ucapnya.
Dia juga tidak pernah mendengar masalah yang dihadapi adiknya di sekolah.
“Teman-teman yang cerita itu enggak pernah ada masalah,” singkatnya.
Advertisement
Jerit Hati Ayah
Ayah kandung almarhum IDS (16), Sugeng Riyanto tidak ikhlas atas perilaku sekelompok pemuda yang menganiaya anaknya hingga berujung meninggal. Menurutnya, penyiksaan yang dilakukan mereka melebihi apa yang terjadi saat peristiwa PKI 1965.
"Ia dijemput dua orang yang mengendarai N-Max pada Selasa (14/4/2026) malam sekitar pukul 21.30 WIB. Sebelumnya pukul 21.00 WIB dia masih bermain dengan keponakannya," kata Sugeng pada Selasa (21/4/2026).
Dia tertidur sejak pukul 21.00 WIB karena kelelahan. Kepergian anaknya ini didapatkan dari para tetangga yang masih terjaga saat itu.
Menurut saksi, IDS ini dibawa oleh kedua rekannya ke area belakang SMAN Bambanglipuro yang juga merupakan tempat ia menempuh pendidikan. Di sana, dia sudah ditunggu beberapa rekannya yang diketahui merupakan kakak kelas.
Tidak berselang lama, datang dua orang mengendarai motor yang kemudian membawa IDS. Karena tidak ada yang kenal dan curiga, salah satu kakak kelasnya kemudian membuntuti hingga sampai ke lapangan Gandung Mlati, Kecamatan Pandak.
Menurut informasi rekan IDS yang membuntuti, di sana ternyata sudah menunggu sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah 10 orang. IDS disuruh duduk jongkok dan hanya ditanya ‘Apakah kamu ikut geng itu?’. Karena memang tidak ikut, IDS menjawab tidak ikut dan langsung dikeroyok.
Sugeng mengatakan, IDS dihajar beramai-ramai dengan menggunakan selang, pipa paralon, gunting, dan disulut rokok. Bahkan di tengah ketidakberdayaannya, beberapa pelaku sempat melindas tubuh IDS berulang kali.
“Terakhir, ada satu pelaku yang berniat memotong telinganya dengan gunting. Namun oleh, rekannya yang tadi mengikuti, gunting tersebut direbut dan para pelaku membubarkan diri,” ujar Sugeng.
Oleh rekannya, IDS dilarikan ke RS Rumah Sakit Saras Adyatma, Bantul untuk mendapatkan perawatan. Korban sempat dirawat selama dua hari. Biaya yang dihabiskan Sugeng mencapai Rp10 juta per hari. Maka IDS dipindahkan untuk mendapatkan perawatan di RS PKU Kota Yogyakarta.
Advertisement
Advertisement
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5561954/original/016823900_1776767677-Screenshot_2026-04-21_at_17.25.34.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5561814/original/078516400_1776761239-Makan_pelajar_SMA_korban_penganiayaan_di_Bantul.jpeg)