Israel Bombardir Gaza Hampir Tiap Hari Sepanjang Serangan ke Iran - Republika
Israel Bombardir Gaza Hampir Tiap Hari Sepanjang Serangan ke Iran
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Sejak 28 Februari, ketika Israel dan Amerika mulai membom Iran, Israel juga, hampir setiap hari, melancarkan serangan terhadap Lebanon, Gaza, dan Tepi Barat yang diduduki. Lebih dari seribu kali pelanggaran gencatan senjata sejak Oktober 2025 lalu.
Sejak deklarasi “gencatan senjata” di Jalur Gaza enam bulan lalu, Israel telah melanggar perjanjian tersebut ribuan kali, dengan serangan yang dilakukan hampir setiap hari.
Selama 40 hari terakhir, Israel tidak hanya terus membom Gaza, namun juga menutup penyeberangan Rafah dan menahan pasokan makanan dan obat-obatan yang dapat menyelamatkan jiwa.
Menurut analisis Aljazirah, Israel telah menyerang Gaza sebanyak 36 kali dari 40 hari terakhir, yang berarti hanya ada empat hari di mana tidak ada serangan kekerasan, kematian atau cedera yang dilaporkan di Jalur Gaza.
Antara 28 Februari dan 8 April, serangan Israel menewaskan sedikitnya 107 orang di Gaza dan melukai 342 lainnya. Sejak “gencatan senjata” di Gaza mulai berlaku enam bulan lalu, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 738 orang dan melukai lebih dari 2.000 orang.
Secara total, sejak melancarkan perang genosida di Gaza, Israel telah membunuh atau melukai sedikitnya 10 persen penduduk Jalur Gaza, menewaskan lebih dari 72.000 orang, mayoritas dari mereka adalah wanita dan anak-anak, dan melukai sedikitnya 172.000 lainnya, dan ribuan lainnya terkubur di bawah reruntuhan dan diperkirakan tewas.
Pada hari Rabu, ketika dunia menunggu jeda serangan antara AS, Israel dan Iran yang sangat dinanti-nantikan, Israel membunuh jurnalis lain di Gaza – koresponden Aljazirah Mohammed Wisash, yang terbunuh dalam serangan pesawat tak berawak yang ditargetkan.
Pada hari yang sama, Israel melancarkan salah satu serangan terbesarnya di Lebanon dalam satu hari, melancarkan gelombang serangan yang menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 1.165 orang.
Halaman 2 / 2
Pada tanggal 28 Februari, hari dimana Israel dan Amerika Serikat mulai menyerang Iran, pemerintah Israel menutup semua penyeberangan ke Gaza, menghentikan pemindahan pasien yang terluka ke luar negeri dan menghentikan evakuasi medis.
Diantaranya adalah penyeberangan Rafah, satu-satunya pintu gerbang Gaza ke dunia luar melalui Mesir, yang seharusnya dibuka berdasarkan 20 poin rencana gencatan senjata yang ditengahi AS untuk Jalur Gaza. Berdasarkan perjanjian, 50 pasien per hari, ditambah pendamping mereka – biasanya satu atau dua orang per pasien – seharusnya diizinkan keluar dari wilayah kantong untuk mendapatkan perawatan.
Serangan Israel selama lebih dari dua tahun telah menyebabkan ribuan orang terluka dan membutuhkan perawatan medis segera. Menurut OCHA, lebih dari 18.500 pasien kritis, termasuk 4.000 anak-anak, memerlukan evakuasi medis.
Pada 19 Maret, otoritas Israel mengumumkan dimulainya kembali evakuasi medis terbatas melalui Rafah.

Menurut Kantor Media Gaza, sejak 28 Februari, 625 dari 7.800 warga telah diizinkan meninggalkan Gaza untuk mendapatkan perawatan – sekitar 8 persen dari jumlah yang disepakati.
Israel terus membatasi pasokan makanan dan obat-obatan yang mendesak, sehingga memperburuk kekurangan yang parah dan memperdalam krisis kemanusiaan.
Menurut Klasifikasi Fase Terpadu (IPC), lembaga pemantau kelaparan global, lebih dari tiga perempat (77 persen) penduduk Gaza menghadapi kerawanan pangan akut tingkat tinggi.
Dari 1,6 juta orang yang dianalisis oleh IPC, 475.000 orang berada di Fase 2, stres pangan. 1.027.790 orang berada di Fase 3, krisis pangan. Sementara 570.980 orang berada di Fase 4, darurat pangan, kemudian 1.885 orang berada di Fase 5, kelaparan.
Menurut Kantor Media Gaza, sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai, Israel hanya mengizinkan 4.999 dari 23.400 truk yang ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata masuk ke Jalur Gaza – hanya seperlima dari pengiriman yang dijanjikan.