Kisah Petani Punk Gunungkidul: Bertani Organik agar Petani Generasi Muda Tidak Hilang - Kompas
Kisah Petani Punk Gunungkidul: Bertani Organik agar Petani Generasi Muda Tidak Hilang
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pemandangan tak biasa terlihat di Padukuhan Kalangan, Kalurahan Ngipak, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Di bawah cuaca cerah, sejumlah pria berbusana hitam dengan tato menyusuri jalan menuju lahan pertanian.
Meski berpenampilan sangar dan dikenal sebagai bagian dari komunitas punk, mereka ternyata adalah para petani.
Lahan yang mereka kelola kini ditanami berbagai komoditas. Salah satu lahan ditanami padi, sementara lahan lainnya baru saja dipanen cabai dan terong.
Kronologi Dua ART Nekat Lompat dari Lantai 4 di Benhil
Baca juga: Kisah Ismanto: Tinggalkan Profesi Satpam, Kini Sukses Budidaya Mamey Sapote Beromzet Puluhan Juta
Hasil panen tersebut tidak semata untuk keuntungan pribadi, tetapi juga dibagikan kepada warga yang membutuhkan.
Sebelum menuju sawah, perwakilan Petani Punk Gunungkidul, SiBagz, mengajak Kompas.com singgah di rumahnya, Selasa (14/6/2026).
Rumah singgah sederhana di belakang rumah utama itu terasa sejuk, dengan karpet tergelar dan beberapa hidangan serta kopi yang telah disiapkan.
Baca juga: Cerita Bambang, Pensiunan PNS Purworejo yang Bertani Black Sapote: Perawatan Minim, Bernilai Tinggi
Awal mula memilih ide bertani

Lihat Foto
Di tempat itu, SiBagz mulai bercerita tentang awal mula dirinya bersama puluhan rekannya terjun ke dunia pertanian.
Ia merantau sejak 2004, berpindah-pindah dari Jabodetabek hingga Yogyakarta, hingga akhirnya kembali ke Gunungkidul pada 2015.
Setelah menikah pada 2017, ia tetap aktif di komunitas punk.
Perubahan hidupnya bermula pada 2018, saat ia dan teman-temannya duduk di pinggir sawah dan memperhatikan para petani yang bekerja mengolah lahan.
"Saat itu mentertawakan petani yang sudah tua masih bekerja, dan saat pulang ke rumah tersadar jika petani tidak ada regenerasinya. Bagaimana mau regenerasi jika kalangan anak muda tidak mengetahui cara menyemprot, dan mengolah lahan," kata SiBagz sambil menunjukkan lahan di Padukuhan Kalangan, Selasa (14/4/2026).
Baca juga: Kisah Penjual Tisu di Samarinda Mengejar Cukup, Hidup Sesuai Kemampuan dan Makan Seadanya
Dari kesadaran itu, ia memberanikan diri meminjam sertifikat tanah orang tuanya senilai Rp 25 juta untuk memulai usaha tani, meski belum memiliki pengalaman.
Bersama sekitar 15 anak jalanan dari berbagai daerah, ia mulai menanam bawang merah di lahan seluas sekitar 1.500 meter persegi.
Proses belajar mereka penuh tantangan, termasuk kesalahan-kesalahan saat menggunakan alat pertanian.
"Ya sebenarnya kami takut, kalau tidak berhasil mengangsur, orang tua saya juga jadi punk, karena akan menjadi gembel, tidak punya tempat tinggal," ucapnya sambil tersenyum.
Baca juga: Cerita Pak Udin, Tukang Sol Sepatu di Samarinda yang Tak Pernah Menyerah demi Keluarga
Upaya tersebut ternyata membuahkan hasil. Mereka berhasil panen dan melunasi kewajiban.
"Saat itu berhasil menanam bawang merah, dan berhasil menyelesaikan kewajiban kami," kata bapak dua anak ini.
Kini, komunitas tersebut berkembang menjadi sekitar 40 anggota dari berbagai daerah seperti Surabaya hingga Jabodetabek, dengan sekitar 15 orang berasal dari Gunungkidul.
Mengajak anak muda kembali ke sawah
Seiring waktu, SiBagz melihat banyak pemuda di kampungnya yang tidak tertarik bertani, meski berasal dari keluarga petani.
Pada 2022, ia mulai mengajak ratusan anak muda untuk belajar bercocok tanam.
Mereka memanfaatkan lahan kosong di sekitar makam untuk ditanami.
Dengan menggunakan sekitar 1.500 polybag, mereka berhasil menanam cabai dan panen dengan baik. Saat ini, sekitar 120 pemuda menjadi binaannya di bidang pertanian.
Dalam prosesnya, mereka tetap menjaga tradisi lokal, termasuk ritual sebelum menanam.
"Goal saya adalah ada anak muda yang mengerti bertani. Tujuan kita bukan untuk kita sendiri (komunitas punk Gunungkidul) tetapi agar petani ada regenerasi. Jangan sampai investor datang dan hanya bekerja sebagai satpam atau pegawai lainnya," ucap pria yang sempat memiliki usaha kaos ini.
Baca juga: Cerita Guru Honorer, Rela Tempuh 150 Kilometer Setiap Hari demi Mengajar dari Gempol ke Malang
Gunakan pupuk alami
Dalam mengelola lahan, komunitas ini memilih tidak menggunakan pupuk kimia.
Mereka membuat pupuk dan pestisida alami dari bahan-bahan seperti urin kambing, air leri, dan empon-empon.
"Kita memanfaatkan potensi yang ada untuk pupuk dan pestisida," kata dia.
SiBagz juga sempat mengajak petani lain untuk membuat pupuk sendiri, namun sebagian memilih membeli.
"Saya tidak jual produk saya, kalau mau ayo bersama-sama membuat nanti tinggal ambil gratis," kata dia.
Baca juga: Fenomena Anak Punk Singgah di Banyuwangi, Ini Kata Warga
Hasil panen untuk berbagi
Hasil pertanian mereka tidak hanya untuk kebutuhan anggota, tetapi juga untuk membantu warga.
"Kami itu tidak butuh uangnya, uangnya ya digunakan untuk bagi takjil, membangun rumah. Sudah dua rumah yang kami bangun mulai dari rata dengan tanah," kata dia.
"Pemuda di sini hasilnya untuk kegiatan kemarin tahun baru untuk kegiatan bersama. Yang terpenting anak muda mengenal pertanian," kata SiBagZ.
Untuk modal tanam berikutnya, mereka kembali mengumpulkan dana dari anggota yang bekerja sebagai pengamen, penjual makanan, dan usaha lainnya.
"Jadi saat menanam kami menyisihkan sebagian lahan untuk tanaman sayuran, seperti kangkung dan tomat. Jadi ada yang dibawa pulang seusai dari ladang," kata dia.
Baca juga: Bangunan SDN Mencon Pati Runtuh, Siswa Mengungsi untuk Belajar
Bidik Program Makan Bergizi Gratis
Ke depan, komunitas ini berencana menjadi pemasok bahan pangan untuk program makan bergizi gratis (MBG).
Namun, mereka memiliki prinsip sendiri dalam penyaluran hasil panen.
"Mengapa kami tidak mau menyetor, kami khawatir tidak semuanya terserap malah terbuang. Saya tidak rela sayuran terbuang, biarkan mereka ke sini dan memilih, jika ada sisa bisa dimanfaatkan warga," kata dia.
Salah satu warga setempat, Timbul Widodo, menyambut baik aktivitas para pemuda tersebut. Ia bahkan menyediakan lahan untuk mereka belajar bertani.
"Karena generasi muda mau cari petani muda sulit. Harus memberi contoh pemuda Kalangan untuk bertani," kata dia.
Baca juga: Momen Prabowo Berikan Topi RI 1 kepada Sultan HB X
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang