0
News
    Home Berita Featured Kasus Spesial Yogyakarta

    Kondisi Tragis Pelajar SMA di Yogya Korban Kebrutalan Gerombolan Pemuda, Dokter Sampai Ragu Operasi - Liputan6

    4 min read

     

    Kondisi Tragis Pelajar SMA di Yogya Korban Kebrutalan Gerombolan Pemuda, Dokter Sampai Ragu Operasi


    Ilustrasi jenazah atau mayat. (Unsplash)

    Begini kondisi terakhir anaknya usai dikeroyok secara brutal oleh sekelompok pemuda.

    Liputan6.com, Jakarta - Ayah pelajar SMA di Yogyakarta IDS (16), Sugeng Riyanto mengungkapkan kondisi terakhir anaknya usai dikeroyok secara brutal oleh sekelompok pemuda. Sugeng mengatakan, anak bungsunya tersebut tidak sadarkan diri dengan kondisi luka parah saat tiba di rumah sakit.

    Bahkan, kata Sugeng, dokter yang akan melakukan tindakan operasi tidak berani karena anaknya mengalami luka parah pada kepala hingga terjadi pembengkakan.

    "Karena memang lukanya cukup parah dan itu pun untuk mau dioperasi, akhirnya berat kata dokter karena benar-benar lukanya parah," kata Sugeng saat bercerita kondisi sang anak, Selasa (21/4/2026).

    Dia menyebut, sang anak tidak pernah sadarkan diri setelah disiksa gerombolan pemuda sampai akhir hayatnya.

    "Itu bengkak pada kepala, sehingga dia tidak sadarkan diri sampai meninggal itu belum pernah sadar. Sebentar pun memang belum sadar sampai akhirnya meninggal," ujar dia.

    Setelah kejadian mencekam pengeroyokan itu, IDS dilarikan ke RS Rumah Sakit Saras Adyatma, Bantul oleh rekannya untuk mendapatkan perawatan. Korban sempat dirawat selama dua hari.

    Biaya yang dihabiskan Sugeng mencapai Rp10 juta per hari. Oleh karena itu, IDS dipindahkan untuk mendapatkan perawatan di RS PKU Kota Yogyakarta.

    "Anak saya pada Minggu (19/4/2026) malam pukul 22.00 WIB dinyatakan meninggal dan kemarin sudah dimakamkan," kata Sugeng.

    Sebagai orang tua, Sugeng tidak ikhlas anak bungsunya tersebut meninggal dengan sangat tidak manusiawi. Berbeda jika itu memang atas kehendak Allah SWT, Ia dan keluarga pasti merelakannya.

    "Ini penganiayaan yang melebihi dulu ketika PKI. Hal seperti itu membuat saya, saya sakit," ujar Sugeng.

    Oleh karena itu, dia dan keluarga sangat berharap para pelaku segera ditangkap oleh aparat kepolisian dan dihukum seberat-beratnya.

    Kronologi Penyiksaan Korban

    Pada Selasa malam, korban dijemput oleh dua pemuda yang mengendarai sepeda motor sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, Sugeng mengaku sudah tertidur sehingga tidak mengetahui anaknya keluar rumah.

    Berdasarkan keterangan salah satu teman korban yang membuntuti, IDS sebelumnya dibawa ke belakang SMAN 1 Bambanglipuro oleh sejumlah kakak kelas dan kelompoknya. Kemudian, IDS dibawa oleh dua orang berbeda ke Lapangan Gadung Mlati.

    “Menurut rekannya, di sana anak saya sudah ditunggu sekitar 10 orang. Ia hanya sempat ditanya soal ikut geng, kemudian langsung dikeroyok,” ujarnya.

    Saat ditemukan, tubuh IDS dilaporkan mengalami kekerasan membabi buta menggunakan selang dan pipa paralon. Selain itu, tubuh korban juga disundut api rokok sehingga menyebabkan luka serius.

    Sugeng juga menceritakan penyiksaan oleh pelaku tidak berhenti di situ. IDS yang sudah tidak berdaya bahkan disebut dilindas sepeda motor berulang kali. Seorang pelaku juga diduga sempat hendak melukai telinga korban sebelum dicegah oleh temannya yang mengikuti dari belakang.

    “Waktu sudah pingsan, masih mau dipotong telinganya, tetapi temannya berhasil merebut gunting,” ungkap Sugeng.

    Ketika dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, korban IDS tidak sadarkan diri dan kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu malam.

    Komentar
    Additional JS