0
News
    Home BBM Berita Dunia Internasional Featured Spesial

    Pakar: Meski Perang Iran Benar Berakhir dalam 2 Minggu, Masalah BBM Tidak Bisa Langsung Selesai - Tribunnews

    8 min read

     

    Pakar: Meski Perang Iran Benar Berakhir dalam 2 Minggu, Masalah BBM Tidak Bisa Langsung Selesai

    Meski Donald Trump menyebut perang bisa selesai dalam 2–3 minggu, pemulihan sektor energi global butuh waktu jauh lebih lama.

    Ringkasan Berita:
    • Meski Donald Trump menyebut perang bisa selesai dalam 2–3 minggu, pemulihan sektor energi global butuh waktu jauh lebih lama.
    • Produksi minyak, distribusi tanker, hingga keamanan Selat Hormuz diperkirakan baru normal dalam 6–8 minggu atau lebih.
    • Biaya pengiriman, ranjau laut, dan kerusakan infrastruktur membuat krisis energi bisa berlanjut meski perang berakhir.


    TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump menyampaikan dalam pidatonya pada Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat bahwa perang di Iran akan segera berakhir.

    “Berkat kemajuan yang telah kita capai, saya dapat mengatakan malam ini bahwa kita berada di jalur yang tepat untuk menyelesaikan semua tujuan militer Amerika dalam waktu singkat, sangat singkat,” ujar Trump, dikutip dari WhiteHouse.gov.

    “Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan.”

    “Kita akan membawa mereka kembali ke ‘zaman batu’, tempat mereka seharusnya berada. Sementara itu, diskusi masih berlangsung. Kita memiliki semua kartu; mereka tidak memiliki satu pun.”

    Baca juga: 10 Poin yang Disampaikan Donald Trump dalam Pidato Terbarunya tentang Perang Iran

    Produksi Minyak Tidak Bisa Langsung Kembali Normal

    Mengutip NDTV, dengan asumsi perang benar-benar berakhir dalam dua minggu, masih dibutuhkan 6 hingga 8 minggu sebelum produksi minyak kembali ke tingkat sebelum perang dan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz kembali normal.

    Hal ini karena, seperti dicatat dalam laporan Thomson Reuters pada awal perang, terdapat jeda minimal dua hingga empat minggu dalam dampaknya.

    Artinya, dampak dari kapal tanker yang saat ini masih tertahan belum sepenuhnya terasa.

    BLOKADE SELAT HORMUZ - Lalulintas kapal di Selat Hormuz sebelum blokade militer oleh Iran dampak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Selat ini menjadi jalur vital bagi lalulintas kapal pengangkut minyak dari produsen-produsen minyak dunia yang berada di kawasan Timur Tengah.
    BLOKADE SELAT HORMUZ - Lalulintas kapal di Selat Hormuz sebelum blokade militer oleh Iran dampak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Selat ini menjadi jalur vital bagi lalulintas kapal pengangkut minyak dari produsen-produsen minyak dunia yang berada di kawasan Timur Tengah. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

    “Dua Minggu sebelum Normalisasi Dimulai”

    Strategis Macquarie Group, Vikas Dwivedi, mengatakan:

    “Mungkin akan memakan waktu beberapa minggu sebelum semuanya mulai normal."

    "Minyak yang tersimpan, yang telah menumpuk dalam jumlah besar, harus dipindahkan ke kapal terlebih dahulu agar produksi dapat dipulihkan."

    "Proses ini sendiri akan memakan waktu beberapa minggu lagi.”

    Ia juga memperingatkan bahwa perbaikan dan pembangunan kembali infrastruktur energi yang rusak akibat serangan udara Iran, AS, atau Israel akan memakan waktu lebih lama, terutama karena tingkat kerusakannya belum sepenuhnya diketahui.

    “Sebagian kerusakan bisa diperbaiki dengan cepat, seperti kerusakan akibat drone, dalam hitungan hari hingga beberapa minggu."

    "Namun, jika menyangkut unit proses besar, perbaikannya bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga satu tahun,” katanya kepada Yahoo Finance.

    Tantangan Pembersihan Ranjau Pascaperang

    Proses pemulihan juga akan semakin kompleks karena adanya kebutuhan pembersihan ranjau, yang merupakan pekerjaan berbahaya dan memakan waktu.

    Reuters melaporkan pada awal Maret bahwa Iran memasang ranjau Maham-3 dan Maham-7 di Selat Hormuz, jalur sempit selebar 33 km di titik tersempitnya, dengan dua jalur pelayaran utama yang masing-masing hanya selebar 3,2 hingga 3,7 km.

    Selain itu, puing-puing dari kapal yang diserang juga harus dibersihkan sebelum jalur pelayaran benar-benar aman.

    Tantangan Biaya Pengiriman

    Faktor lain adalah tarif sewa VLCC (Very Large Crude Carrier), yakni kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar yang digunakan untuk mengangkut minyak dari kawasan Teluk.

    Perang menyebabkan tarif sewa melonjak hingga lebih dari US$400.000 per hari. Bahkan, sebuah kapal tanker tujuan India dilaporkan membayar hingga US$770.000 per hari pada awal Maret.

    Analis senior di Rystad Energy, Erik Grundt, mengatakan:

    “US$100.000 per hari saja sudah tergolong tarif yang kuat. Ini jauh di atas kondisi normal.”

    Ia menambahkan bahwa biaya pengiriman tidak hanya mencakup sewa kapal, tetapi juga bahan bakar, biaya pelabuhan, kanal, dan lainnya, yang bisa menambah sekitar US$50.000 per hari.

    Tarif pengiriman ini perlu kembali normal agar krisis pasokan minyak mereda. Stabilisasi tersebut membutuhkan bukti bahwa jalur pelayaran aman serta operasional pemuatan kembali berjalan lancar.

    Menurut para ahli, proses ini bisa memakan waktu dua hingga empat minggu, bahkan hingga enam minggu, termasuk untuk penyesuaian asuransi maritim dan pengalihan rute melalui Tanjung Harapan (mengelilingi Afrika).

    Namun, semua ini merupakan skenario terbaik.

    Jika Pertempuran Berlanjut

    Jika perang tidak berakhir dalam waktu dekat, normalisasi bisa memakan waktu berminggu-minggu tambahan, bahkan berbulan-bulan.

    Setiap tambahan satu minggu konflik dapat memperpanjang pemulihan pasokan dan harga selama satu hingga dua minggu.

    Data yang dimodelkan oleh Federal Reserve Bank of Dallas menunjukkan bahwa penutupan selama 13 minggu dapat membutuhkan hingga delapan minggu untuk pulih.

    Jika penutupan berlangsung hingga 26 minggu, pemulihan ekspor dan harga minyak bisa memakan waktu tiga hingga empat bulan.

    Penyebab Krisis Energi

    Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 mengubah kawasan Teluk, yang merupakan pusat ekspor minyak dunia—menjadi zona konflik.

    Respons Iran dengan memblokade Selat Hormuz mendorong harga minyak Brent melampaui US$100 per barel.

    Harga sempat mencapai puncak US$119,5 pada 9 Maret, mendorong harga bensin rata-rata di AS melampaui US$4 per galon, serta naik 15–17 persen di negara-negara Eropa seperti Prancis dan Jerman.

    Negara-negara Asia seperti Pakistan, Bangladesh, Filipina, dan Sri Lanka mengalami dampak lebih berat, dengan pemberlakuan keadaan darurat energi serta penjatahan bahan bakar dan gas.

    Harga energi juga melonjak di China, salah satu pembeli utama minyak Iran, hingga hampir 20 persen sejak perang dimulai.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)


    Komentar
    Additional JS