Polisi Tokyo Imbau WNI di Jepang Patuhi Hukum, Tegaskan Tak Ada Toleransi untuk Pelanggaran - Tribunnews
Polisi Tokyo Imbau WNI di Jepang Patuhi Hukum, Tegaskan Tak Ada Toleransi untuk Pelanggaran
Ringkasan Berita:
- Kepolisian Jepang menegaskan WNI di Jepang wajib mematuhi hukum tanpa toleransi pelanggaran
- Hata menyebut kasus WNI lebih sering terjadi di luar Tokyo seperti Ibaraki dan Aichi serta mengingatkan aturan baru termasuk bersepeda dan pentingnya CCTV
- Hata menyoroti kerja sama Indonesia-Jepang komitmen mengungkap kasus lama termasuk pembunuhan WNI 2023
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, JEPANG – Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Jepang diimbau untuk memahami dan mematuhi seluruh aturan hukum yang berlaku. Kepolisian Jepang menegaskan tidak ada toleransi terhadap pelanggaran, siapa pun pelakunya.
Hal tersebut disampaikan Takahiro Hata (58), Kepala Divisi Satu Investigasi Kriminal Tokyo Metropolitan Police Department, dalam wawancara khusus dengan Tribunnews.com, Rabu (21/4/2026).
“Banyak aturan hukum di Jepang yang berbeda dengan di Indonesia. Terutama terkait tindak pidana, tidak ada ampun. Semua akan diproses sesuai hukum, baik orang kecil maupun orang besar, karena Jepang adalah negara hukum,” ujarnya.
Hata mengungkapkan, kasus kriminal yang melibatkan WNI justru lebih banyak terjadi di luar Tokyo, seperti di wilayah Ibaraki dan Aichi.
“Di Tokyo pengawasan sangat ketat dan jumlah polisi sangat banyak. Sementara banyak WNI tinggal di daerah. Yang pasti, tolong patuhi semua aturan di Jepang, termasuk aturan baru bersepeda agar tidak didenda,” tegasnya.
Baca juga: Kapal Nelayan Taiwan Mogok di Dekat Senkaku, Dievakuasi Kapal Patroli Jepang, 8 WNI Selamat
Pernah Bertugas di Indonesia
Hata yang menjadi sebagai kepala divisi satu divisi kriminalitas Metropolitan Tokyo sejak 9 Maret 2026 itu bukan sosok asing bagi Indonesia. Ia pernah tinggal lebih dari lima tahun di Tanah Air, termasuk di Bali (2007–2009) dan Jakarta (2012–2015) melalui program Japan International Cooperation Agency
Saat di Bali, ia menjabat sebagai Konjen Jepang dan menangani berbagai kasus, termasuk pelanggaran hukum oleh warga Jepang.
“Semua pelanggaran, termasuk narkoba (ada warga Jepang terlibat kasus narkoba), tetap diproses hukum. Sebaliknya saya melihat secara umum masyarakat Indonesia sangat baik, patuh hukum dan saya senang tinggal di Bali,” katanya.
Peran dalam Sistem Keamanan Indonesia
Di Jakarta, Hata juga berperan sebagai penasihat kepolisian Indonesia, memperkenalkan sistem keamanan lingkungan Jepang seperti koban (pos polisi) yang kini mulai diterapkan di Bekasi.
Ia mengapresiasi sistem keamanan berbasis masyarakat di Indonesia seperti RT/RW dan siskamling.
“Di daerah, Indonesia justru terasa aman. Sistem kekerabatan masyarakatnya sangat baik,” ujarnya.
Jepang Andalkan CCTV
Mengenai kondisi keamanan di Jepang, Hata menyebut keberadaan CCTV dalam jumlah besar sangat membantu kerja kepolisian.
“Dengan CCTV, pelaku kejahatan lebih mudah dilacak. Indonesia juga sebaiknya memperbanyak CCTV untuk mendukung kerja polisi,” katanya.
Soroti Kejahatan Lintas Negara
Hata juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional setelah kasus penipuan oleh 13 warga Jepang yang ditangkap di Bogor.
“Kerja polisi Indonesia sangat profesional. Kerja sama kedua negara sangat penting untuk menangani kejahatan lintas negara,” ungkapnya.
Komitmen Ungkap Kasus WNI
Hata menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan berbagai kasus kriminal yang belum terpecahkan, termasuk kasus pembunuhan seorang WNI di Jepang pada 2023.
Ia juga meminta bantuan masyarakat Indonesia di Jepang untuk memberikan informasi jika mengetahui sesuatu terkait kasus tersebut.
Pihak kepolisian berharap perkembangan teknologi forensik serta informasi dari masyarakat dapat membuka kembali jalan untuk mengungkap pelaku.
“Komunitas Indonesia di Jepang juga diharapkan dapat berperan aktif apabila memiliki informasi terkait kejadian tersebut, mengingat korban merupakan sesama WNI,” katanya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan berat tidak akan pernah ditutup begitu saja, dan aparat Jepang tetap berkomitmen mengusutnya hingga tuntas meski telah berlalu puluhan tahun.
“Saya akan terus mengabdi hingga pensiun di usia 60 tahun, demi menjaga keamanan masyarakat Jepang,” pungkasnya.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com