0
News
    Home Berita Featured Keuangan Spesial

    Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Ini Beda Situasi Sekarang & 1998! - CNBC Indonesia

    4 min read

     

    Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Ini Beda Situasi Sekarang & 1998!

    Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

    Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah telah resmi menyentuh level psikologis Rp17.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (1/4/2026).

    Melansir data Refinitiv, memang rupiah sempat menembus level tersebut pada pukul 09.31 WIB pagi tadi, bahkan pelemahan pun sempat berlanjut hingga menyentuh level Rop17.026/US$. Dan menjadikannya level terlemah rupiah sepanjang masa secara intraday.

    Meskipun, pada siang harinya rupiah berhasil rebound dengan berbalik menguat 0,09% di level Rp16.975/US$ atau kembali keluar dari level psikologisnya.

    Namun, pertanyaaannya tetap pada apakah kondisi rupiah yang sempat menembus level yang dinilai banyak pihak sebagai level krusial ini perlu dikhawatirkan akan terjadi kondisi yang tidak diinginkan?

    Untuk menjawabnya, kondisi saat ini perlu dilihat secara lebih proporsional, salah satunya dengan membandingkannya dengan periode terburuk rupiah pada masa lalu.

    Perlu Waspada, Tapi Belum Saatnya Panik

    Dalam membaca pergerakan nilai tukar, pasar tidak hanya melihat level akhirnya, tetapi juga kecepatan dan rentang pelemahannya. Ini penting, karena pelemahan yang berlangsung perlahan dan terukur umumnya masih jauh lebih baik dibanding lonjakan tajam dalam waktu singkat.

    Dengan kata lain, kurs yang melemah memang tetap perlu diwaspadai. Namun, tingkat kekhawatirannya akan berbeda apabila pergerakannya masih relatif tertata dan tidak berlangsung liar.

    Jika dibandingkan dengan 1998, situasi saat ini memang tetap perlu dicermati, tetapi karakternya sangat berbeda.

    Pada masa krisis 1998, Indonesia tidak hanya menghadapi pelemahan nilai tukar, melainkan krisis berlapis yang mencakup ekonomi, perbankan, politik, dan sosial. Tekanan awal datang dari krisis finansial Asia 1997 yang membuat rupiah ambruk, lalu situasi memburuk ketika kepercayaan pasar terhadap pemerintah dan sektor keuangan runtuh.

    Kondisi itu diperparah oleh kerusuhan besar setelah penembakan mahasiswa Trisakti pada Mei 1998, gelombang demonstrasi, penjarahan, hingga lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

    Karena itu, pelemahan rupiah saat itu berlangsung sangat tajam dan penuh kepanikan.

    Pada fase paling kelam itu, rupiah ditutup di Rp15.200/US$ pada 16 Juni 1998 dan sempat menyentuh Rp16.800/US$ secara intraday.

    Namun, pembeda utamanya bukan semata pada level kurs, melainkan pada cara rupiah melemah.

    Berdasarkan data Refinitiv, pada 2 Januari 1998 rupiah masih berada di Rp6.000/US$. Artinya, hanya dalam waktu sekitar lima setengah bulan rupiah ambruk 153,3% hingga ke level Rp15.200/US$.

    Itu adalah pelemahan yang sangat agresif dalam waktu singkat dan terjadi di tengah kepanikan pasar yang luar biasa. Rupiah jatuh bukan hanya karena guncangan eksternal, tetapi juga karena fondasi domestik saat itu ikut goyah secara bersamaan.

    Bandingkan dengan kondisi sekarang. Rupiah memang telah menyentuh Rp17.000/US$, bahkan sempat lebih lemah dari itu secara intraday.

    Namun, pelemahannya tidak terjadi secara mendadak seperti pada 1998.

    Dari 26 Maret 2026 saat rupiah berada di Rp16.895/US$ hingga 1 April 2026 di Rp17.000/US$, depresiasinya hanya sekitar 0,62%. Bahkan jika dihitung sejak awal 2026 hingga 1 April 2026, pelemahannya sekitar 1,7%. Inilah perbedaan penting yang perlu dipahami.

    Bagi pasar keuangan, level memang penting, tetapi rentang pergerakan dan tempo pelemahan juga sama pentingnya.

    Mata uang yang melemah secara perlahan umumnya masih lebih mudah dikelola dibanding kurs yang bergerak liar dalam waktu singkat. Selama pergerakan rupiah belum menunjukkan lonjakan harian yang sangat agresif dan belum disertai kepanikan sistemik seperti 1998, maka situasinya masih berbeda jauh dengan masa krisis besar tersebut.

    Artinya, Indonesia tentu tetap perlu waspada, tetapi tidak perlu langsung panik. Level Rp17.000/US$ memang berat secara psikologis dan tetap memberi sinyal bahwa tekanan eksternal maupun domestik sedang besar.

    Namun sejauh ini, pelemahan rupiah masih lebih mencerminkan tekanan pasar yang bertahap.

    CNBC INDONESIA RESEARCH

    research@cnbcindonesia.com


    Komentar
    Additional JS