Sebulan Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Meroket Lebih 50% - SindoNews
Sebulan Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Meroket Lebih 50%
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Minggu, 29 Maret 2026 - 08:35 WIB
Harga minyak global melonjak lebih dari 50% dalam sebulan sejak pecahnya konflik antara AS dengan Iran. FOTO/AP
JAKARTA - Harga minyak global melonjak lebih dari 50% dalam sebulan sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Lonjakan ini dipicu gangguan pasokan energi, terutama akibat penutupan jalur strategis Selat Hormuz.
Badan Energi Internasional International Energy Agency menyebut gangguan di Selat Hormuz sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global. "Gangguan ini merupakan yang paling luas yang pernah terjadi, sehingga diperlukan pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi," demikian disampaikan lembaga tersebut dikutip dari Itellecti, Minggu (29/3/2026).
Baca Juga: Deal dengan Iran, Kapal Minyak Thailand Bebas Lewat Selat Hormuz, Bagaimana dengan Indonesia?
Penutupan hampir total Selat Hormuz oleh Iran berdampak signifikan terhadap pasokan energi dunia, mengingat sekitar 20% distribusi minyak mentah dan gas alam cair global melewati jalur tersebut setiap hari. Kondisi ini mendorong 32 negara anggota IEA melepas sekitar 400 juta barel cadangan minyak, menjadi langkah kolektif terbesar sepanjang sejarah.
Sebelum konflik, harga minyak mentah Brent berada di kisaran USD72 per barel. Namun, hingga akhir Maret, harga melonjak di atas 106 dolar AS, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menembus level USD99 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap konflik yang berkepanjangan.
Kenaikan harga energi tersebut turut membebani konsumen, khususnya di AS. Harga bensin rata-rata dilaporkan naik signifikan dalam sebulan terakhir, sementara harga solar mencatat lonjakan lebih tajam seiring meningkatnya tekanan pada sektor energi.
Baca Juga: Krisis Avtur Hantam Vietnam, Maskapai Pangkas Massal Jadwal Penerbangan
Lonjakan harga minyak juga menambah tekanan terhadap kebijakan moneter global. Bank sentral, termasuk Federal Reserve, dihadapkan pada risiko inflasi yang meningkat sehingga membuka kemungkinan pengetatan kebijakan suku bunga lebih lanjut.
Perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump memperpanjang tenggat bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz selama 10 hari hingga awal April. Meski demikian, Iran dilaporkan masih menolak pembicaraan langsung dengan Washington dan tetap membatasi lalu lintas kapal di kawasan tersebut.
Situasi ini membuat prospek pasar energi global tetap dibayangi ketidakpastian tinggi. Para analis menilai volatilitas harga minyak masih akan berlanjut seiring belum adanya tanda deeskalasi konflik dalam waktu dekat.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran