0
News
    Home Berita Featured Kopi Kuliner Spesial Teh

    Secangkir Kopi dan Teh Kini Lebih Mahal, Efek Perang Mulai Terasa di Sektor Kuliner - Viva

    5 min read

     

    Secangkir Kopi dan Teh Kini Lebih Mahal, Efek Perang Mulai Terasa di Sektor Kuliner

    Ilustrasi kopi.

    Jumat, 24 April 2026 - 03:10 WIB

    Jakarta, VIVA – Memanasnya konflik Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat ikut memicu gejolak ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz sebagai jalur penting distribusi minyak dunia membuat harga energi naik, berdampak pada biaya listrik, gas, hingga distribusi bahan baku.

    Baca Juga

    Efeknya mulai terasa di berbagai sektor, termasuk usaha makanan dan minuman. Sejumlah warung kopi di negara tetangga pun mulai menaikkan harga minuman seperti kopi dan teh agar operasional tetap berjalan di tengah lonjakan biaya.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Di Singapura, sejumlah coffee shop tradisional dilaporkan mulai menaikkan harga minuman sekitar 10 hingga 30 sen atau setara Rp1.300 hingga Rp3.900 per gelas, dengan asumsi kurs Rp13.000 per dolar Singapura.

    Baca Juga

    Salah satu yang lebih dulu melakukan penyesuaian adalah salah satu kafe di kawasan MacPherson. Tempat tersebut sebelumnya memasang pemberitahuan kepada pelanggan bahwa mulai 1 April, seluruh minuman dan beberapa menu makanan dari tenant mereka akan mengalami kenaikan harga sekitar 10 hingga 20 sen.

    Tak hanya itu, beberapa kedai lain juga mulai mengambil langkah serupa. Pemilik kafe lain di Bedok mengatakan pihaknya akan menaikkan harga beberapa minuman setidaknya 10 sen per cangkir mulai 1 Mei. Ia juga akan menerapkan kebijakan serupa di tiga kafe lain miliknya yang berada di asrama pekerja migran.

    Baca Juga

    Menurutnya, bahkan saat pandemi Covid-19, ia tidak menaikkan harga di tiga lokasi tersebut. Namun lonjakan biaya gas dan listrik saat ini membuat kondisi menjadi sulit dipertahankan.

    “Kami benar-benar sudah tidak sanggup lagi,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Mothership, Jumat, 24 April 2026. “Kami harus melakukan penyesuaian.”

    Pengelola kios minuman di Blok 116 Toa Payoh Lorong 2 yang sudah lebih dulu menaikkan harga sebesar 10 sen per gelas pada April juga menyampaikan hal serupa. Mereka menegaskan bahwa penyesuaian harga diperlukan agar usaha tetap berjalan dan berharap pelanggan bisa memahami kondisi tersebut.

    Terkait ini, Ketua Foochow Coffee Restaurant and Bar Merchants Association, Hong Poh Hin, menyebut operator coffee shop memang menghadapi kenaikan berbagai biaya hingga 20 persen sejak awal 2026. Tagihan listrik juga diperkirakan masih akan terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

    Jaringan Kim San Leng yang mengoperasikan lebih dari 30 coffee shop juga mulai menyesuaikan harga secara bertahap sejak 15 April. Namun kenaikan tarif tidak dilakukan seragam di semua lokasi. Direktur perusahaan menjelaskan bahwa tiap outlet memiliki pertimbangan berbeda, seperti biaya sewa, jumlah pelanggan, hingga tingkat persaingan di area tersebut.

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Lokasi yang lebih strategis kemungkinan mengalami kenaikan harga yang lebih tinggi. Secara umum, kenaikan dimulai dari 20 sen atau sekitar Rp2.600 dan tidak melebihi 40 sen atau sekitar Rp5.200.

    Menurutnya, ketidakstabilan rantai pasok global juga ikut menambah tekanan bagi pelaku usaha makanan dan minuman. Meski demikian, tidak semua operator yang langsung menaikkan harga.

    Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz

    Israel Siapkan Serangan Mematikan di Tengah Aksi Iran Sita Kapal di Selat Hormuz

    Iran perketat kontrol Selat Hormuz dan tangkap kapal asing, Israel ancam serangan baru. Ketegangan meningkat, harga minyak melonjak, ekonomi global terancam.

    img_title

    VIVA.co.id

    24 April 2026

    Komentar
    Additional JS