0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Purbaya Yudhi Sadewa Selat Malaka Singapura Spesial

    Singapura Tolak Angan-angan Purbaya Ingin Pungut Tarif Melintas Selat Malaka - Viva

    5 min read

     

    Singapura Tolak Angan-angan Purbaya Ingin Pungut Tarif Melintas Selat Malaka

    Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan

    Kamis, 23 April 2026 - 08:44 WIB

    VIVA – Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan merespons wacana pembatasan Selat Malaka dan mendorong jalur perairan strategis itu tetap terbuka demi kepentingan negara-negara Asia yang terletak di sepanjang Selat Malaka.

    Baca Juga

    Ia menolak wacana yang disampaikan Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa untuk mematok tarif di Selat Malaka, yang menurutnya hak melintas jalur pelayaran itu telah dijamin untuk semua negara. 

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    "Hak untuk melintas dijamin untuk semua negara. Kami tidak akan ikut serta dalam upaya apa pun untuk menutup, mencegat, atau mengenakan bea masuk di wilayah sekitar kami," kata Balakrishnan kepada CNBC, Rabu, 23 April 2026. 

    Baca Juga

    Sebelumnya Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengaku, sempat terlintas ide di pikirannya untuk mengenakan tarif atau pajak di lintasan Selat Malaka, sebagaimana yang diwacanakan pemerintah Iran terhadap Selat Hormuz

    Menurut Purbaya wacana itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin, karena adanya keunggulan dari posisi strategis Indonesia yang berada di persimpangan jalur perdagangan dan energi global. 

    Baca Juga

    "Seperti arahan presiden, Indonesia ini bukan negara pinggiran, kita ada di jalur strategis perdagangan dan energi dunia," kata Purbaya di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu, 22 April 2026. 

    "Tapi kapal lewat Selat Malaka enggak kita charge, enggak tahu itu betul apa salah?" ujarnya. 

    Purbaya berpendapat, apabila Indonesia, Malaysia, dan Singapura bisa menjalin kerja sama untuk mengenakan tarif atau pajak bagi perlintasan kapal di Selat Malaka, maka hal itu tentunya akan memberikan keuntungan bagi ketiga negara tersebut. 

    "Jadi kalau (pajak Selat Malaka) kita bagi tiga, Indonesia, Malaysia, Singapura, lumayan kan? Punya kita jalurnya paling besar, paling panjang," ujar Purbaya. Namun, dia mengakui bahwa wacana itu tentunya akan sangat sulit dan menantang untuk diimplementasikan atau direalisasikan secara nyata. 

    ADVERTISEMENT

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Selat Malaka memiliki peran strategis yang kerap disandingkan dengan Terusan Suez dan Selat Hormuz, karena menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, serta merupakan jalur pelayaran tersibuk di dunia.

    Indonesia, Malaysia dan Singapura diketahui berbatasan langsung dengan Selat Malaka -- salah satu rute perdagangan global paling penting, dengan lebar tersempit sekitar dua mil laut, sehingga menjadi titik krusial bagi distribusi energi di Asia Timur, termasuk untuk ekspor menuju China. 

    Angkatan Laut IRGC Iran sita kapal tanker

    Iran Sita 2 Kapal di Selat Hormuz Usai Trump Perpanjangan Gencatan Senjata

    Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz dan mengarahkannya ke pantai Iran, beberapa jam setelah Trump perpanjang gencatan senjata

    img_title

    VIVA.co.id

    22 April 2026

    Komentar
    Additional JS