0
News
    Home Berita Featured IMF Keuangan Spesial

    Tekanan Fiskal Meningkat, IMF Wanti-wanti Ledakan Utang Publik Global - Sindonews

    10 min read

     

    Tekanan Fiskal Meningkat, IMF Wanti-wanti Ledakan Utang Publik Global


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Sabtu, 18 April 2026 - 09:39 WIB

    IMF memperingatkan rasio utang global bisa mencapai 100% di 2029 akibat tekanan fiskal yang terus meningkat. FOTO/AP

    A A A

    JAKARTA - Utang publik global diproyeksikan melonjak ke level mengkhawatirkan, dengan Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan rasio tersebut bisa mencapai 100% dari PDB global pada 2029 seiring meningkatnya tekanan fiskal di negara maju maupun berkembang.

    Berdasarkan laporan Fiscal Monitor terbaru, IMF menyoroti pelemahan berkelanjutan pada keuangan publik meskipun ekonomi global tetap tangguh. Tingkat utang meroket menjadi hampir 94% dari PDB pada 2025 dan diprediksi terus naik didorong defisit yang berlanjut, biaya bunga lebih tinggi serta guncangan geopolitik baru.

    Baca Juga: Utang Amerika Bengkak jadi Rp635.572 Triliun, IMF: Ekonomi Global dalam Bahaya

    Mengutip dari Business Today, pemicu utama yang memperburuk prospek adalah konflik Timur Tengah berkepanjangan, mengganggu pasar energi, dan memperketat kondisi keuangan secara global. Pemerintah kian terjepit antara melindungi rumah tangga dari kenaikan harga bahan bakar dan pangan dengan menjaga disiplin fiskal.

    Beban ini jatuh lebih berat pada negara pengimpor energi dan berpenghasilan rendah, yang menghadapi tagihan impor membengkak serta ruang fiskal terbatas. Di tengah situasi ini, India muncul sebagai titik terang relatif. Bersama Meksiko dan Turki, India berhasil memperbaiki posisi fiskalnya berkat pengendalian pengeluaran primer.

    IMF juga mencatat, trajektori utang India diproyeksikan stabil atau bahkan turun seiring waktu, didukung pertumbuhan PDB nominal yang kuat dan upaya konsolidasi fiskal yang berkelanjutan. Namun, rasio utang terhadap PDB India tetap tinggi di atas 84%, dan negara tersebut rentan terhadap risiko global.

    Kenaikan harga energi, likuiditas global yang mengetat, serta aliran modal yang fluktuatif bisa menyulitkan pengelolaan fiskal, terutama jika ketegangan geopolitik berlanjut. IMF menekankan bahwa bantalan fiskal global telah terkikis habis. Seabad lalu, negara-negara masih punya ruang untuk menstabilkan utang, tapi kini cadangan itu nyaris nol.

    Sementara itu, biaya pinjaman yang melonjak memperparah masalah. Pembayaran bunga melonjak tajam dari sekitar 2% menjadi hampir 3% dari PDB global hanya dalam empat tahun, seiring pemerintah merefinansial ulang utang pada tingkat suku bunga lebih tinggi.

    Baca Juga: 9 Negara yang Pernah Bangkrut karena Utang Menggila, Pelajaran bagi Indonesia

    Ekonomi besar tetap menjadi sorotan utang global. Amerika Serikat (AS) terus mencatat defisit 7–8% dari PDB, meskipun utangnya diproyeksikan mencapai 142% dari PDB pada 2031. China juga mengalami defisit yang naik saat mendukung permintaan domestik dengan utang diprediksi mendekati 127% dari PDB pada periode yang sama.

    Sementara, sebagian Uni Eropa (UE) melonggarkan aturan fiskal untuk menampung peningkatan belanja pertahanan. IMF memperingatkan bahwa risiko cenderung ke arah negatif. Skenario buruk seperti konflik berkepanjangan atau koreksi pasar keuangan utang global bisa melonjak lebih cepat.

    (nng)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Berita Terkait

    Rekomendasi

    Infografis

    Kaleidoskop 2025: 7...

    Kaleidoskop 2025: 7 Peristiwa Hukum yang Menyita Perhatian Publik

    Terpopuler

    1

    2

    3

    4

    5

    Berita Terkini

    Tangguh Kelola Investasi...

    Inovasi Digital, BRI...

    Purbaya Ungkap Alasan...

    Jasaraharja Putera Perkokoh...

    Pendekatan Ekonomi Sirkular...

    BRI Insurance BeriPerlindungan...

    Komentar
    Additional JS