0
News
    Home Berita Featured Spesial Wonogiri

    Warga Wonogiri Bangun Rumah Unik Menyerupai Bus Double Decker - Babel Insight

    7 min read

     

    Warga Wonogiri Bangun Rumah Unik Menyerupai Bus Double Decker

    Aditya Rachman

    Author

    KOMPAS.com/ Selma Aulia

    Smallest Font

    Largest Font

    Supardi (43) membangun hunian unik menyerupai armada bus tingkat di Dusun Tandan, Desa Kopen, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri pada Senin (27/4/2026). Bangunan yang menarik perhatian warga tersebut dirancang berdasarkan kegemaran pemiliknya menggunakan moda transportasi umum antarkota.

    Dilansir dari Otomotif, rumah tersebut berdiri di atas lahan seluas 90 meter persegi dengan dua massa bangunan yang berbeda ukuran. Struktur utama memiliki dimensi lebar 4 meter, tinggi 5 meter, dan panjang 13 meter yang didesain mengikuti bentuk bus tingkat.

    Pemilik rumah mengungkapkan bahwa ide pembangunan ini berasal dari identitas pribadinya sebagai pengguna setia layanan transportasi bus. Keputusannya memilih konsep ini didorong oleh keinginan untuk memiliki hunian dengan tampilan yang berbeda dari rumah tinggal pada umumnya.

    "Sejak awal saya memang pelanggan Agra Mas. Pulang-pergi ke Jakarta selalu pakai armada Agra Mas, dari dulu sampai sekarang. Dari situ saya terinspirasi untuk membuat rumah berbentuk bus, karena saya ingin tampil beda dari yang lain," ucap Supardi.

    Selain bangunan utama yang menyerupai bus tingkat, terdapat bangunan kedua dengan skala yang lebih kecil. Penyesuaian ukuran ini dilakukan agar area lahan tetap memiliki ruang fungsional untuk menampung kendaraan pribadi di bagian depan.

    "Kalau yang bus kecil itu sengaja saya buat ukurannya lebih kecil supaya masih ada ruang untuk garasi di bagian depan. Jadi tidak saya maksimalkan sampai ke depan, karena garasi juga penting untuk rumah," tutur pria yang akrab disapa Bagong tersebut.

    Proses konstruksi bangunan sejauh ini telah memakan waktu pengerjaan selama enam minggu dengan melibatkan enam tenaga kerja. Total biaya yang telah dikeluarkan untuk pengadaan material dan upah tukang mencapai angka sekitar Rp 125 juta.

    Supardi menjelaskan bahwa tahap akhir pembangunan nantinya akan difokuskan pada pengecatan dan pemberian ornamen eksterior. Ia berencana menyertakan identitas teknis bus pada bagian kaca depan rumah agar semakin menyerupai bentuk aslinya.

    "Nanti juga ada tulisan Scania K410. Tulisan di kaca depan nanti juga akan dibuat seperti bus pada umumnya," ucap Supardi.

    Detail fisik seperti penggunaan ban truk asli juga diterapkan untuk memperkuat fasad bangunan agar menyerupai kendaraan nyata. Bagian depan rumah juga telah disematkan kode-kode tertentu yang merepresentasikan identitas wilayah tempat tinggalnya.

    "Tulisan ‘BG’ di depan itu ada maknanya. BG adalah panggilan saya di sini, bisa Bagong atau BG. Angka 02 itu menunjukkan RT 02, lalu BG 07 itu RW 07. Jadi semua ada arti. Termasuk pelat nomor B 490 MG, itu juga bisa dibaca Bagong, semacam nomor seri saja," jelas Supardi.

    Progres pembangunan rumah bertema otomotif ini diperkirakan baru menyentuh angka 50 hingga 60 persen. Proyek hunian tersebut untuk sementara belum dapat diselesaikan sepenuhnya karena keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh sang pemilik.

    Editors Team

    Daisy Floren

    Daisy Floren

    • Like

      0

      Like

    • Dislike

      0

      Dislike

    • Funny

      0

      Funny

    • Angry

      0

      Angry

    • Sad

      0

      Sad

    • Wow

      0

      Wow

    Komentar
    Additional JS