0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Chernobyl Featured Spesial

    7 Hewan dan Organisme 'Mutan' di Chernobyl, Ada Jamur Misterius - deitk

    6 min read

     

    7 Hewan dan Organisme 'Mutan' di Chernobyl, Ada Jamur Misterius

    Jakarta -

    Ledakan reaktor nuklir di Bencana Chernobyl pada 26 April 1986 meninggalkan radiasi yang masih membekas hingga sekarang. Meski kawasan di sekitar pembangkit listrik nuklir itu ditinggalkan manusia, berbagai hewan dan organisme ternyata tetap bertahan hidup di zona terlarang tersebut.

    Dilansir dari BBC, para ilmuwan menemukan sejumlah perubahan unik pada satwa dan organisme di kawasan Chernobyl. Ada yang mengalami perubahan warna tubuh, mutasi genetik, hingga diduga beradaptasi terhadap radiasi tinggi. Berikut beberapa hewan dan organisme unik yang ditemukan di kawasan Chernobyl.

    Katak Pohon Berwarna Lebih Gelap

    Salah satu temuan paling menarik datang dari katak pohon timur (Eastern tree frog). Ahli biologi evolusi Pablo Burraco menemukan banyak katak di zona Chernobyl memiliki warna tubuh lebih gelap dibanding katak sejenis di luar area radiasi.

    Terdapat penelitian yang dipublikasikan pada 2022 yang menunjukkan katak-katak di area bekas radiasi tinggi cenderung memiliki kadar melanin lebih besar. Para peneliti menduga warna gelap itu mungkin membantu mengurangi dampak radiasi, meski hipotesis tersebut masih diperdebatkan.

    Jamur Hitam Misterius di Reaktor Nuklir

    Di dalam reruntuhan reaktor Chernobyl, ilmuwan juga menemukan jamur hitam yang tumbuh di area dengan tingkat radiasi sangat tinggi. Jamur ini menarik perhatian karena pigmen melaninnya diduga membantu organisme tersebut bertahan di lingkungan ekstrem.

    Dilansir dari ScienceDaily, beberapa penelitian bahkan menunjukkan jamur tertentu dapat tumbuh lebih cepat ketika terpapar radiasi. Namun, ilmuwan menegaskan belum ada bukti bahwa jamur itu "memakan" radiasi seperti yang sering muncul di internet.

    Bank Vole dengan Perubahan Genetik

    Penelitian lain menemukan mamalia pengerat vole bank (bank vole) di kawasan terkontaminasi memiliki variasi genetik lebih tinggi pada mitokondria sel mereka. Sebagian ilmuwan menduga hal ini berkaitan dengan mutasi akibat paparan radiasi.

    Menariknya, penelitian juga menunjukkan perubahan kromosom pada bank vole tetap muncul selama beberapa generasi, bahkan setelah hewan tersebut dipindahkan ke laboratorium bebas radiasi.

    Burung Layang-layang Bertumor

    Beberapa studi terdahulu mendokumentasikan burung layang-layang (barn swallow) di sekitar Chernobyl mengalami berbagai kelainan, mulai dari tumor, bulu abnormal, hingga ukuran otak lebih kecil.

    Peneliti juga menemukan kombinasi radiasi dan perubahan iklim kini memberi tekanan tambahan bagi spesies tersebut, sehingga kemampuan bertahan hidupnya bisa menurun.

    Anjing Liar Keturunan Hewan Peliharaan

    Setelah evakuasi besar-besaran tahun 1986, banyak hewan peliharaan ditinggalkan pemiliknya. Kini, keturunannya berkembang menjadi populasi anjing liar yang hidup di sekitar kawasan reaktor.

    Dilansir dari Phys.org, penelitian genetik menemukan anjing-anjing ini memiliki pola genetik berbeda dibanding populasi anjing di luar zona Chernobyl. Meski begitu, ilmuwan belum bisa memastikan apakah perubahan tersebut disebabkan langsung oleh radiasi.

    Pohon Pinus "Hutan Merah"

    Bukan hanya hewan, tumbuhan di Chernobyl juga mengalami dampak besar. Banyak pohon pinus mati akibat paparan radiasi tinggi setelah ledakan reaktor. Kawasan itu kemudian dikenal sebagai "Red Forest" atau Hutan Merah karena warna pepohonannya berubah kemerahan sebelum mati.

    Setelah puluhan tahun, area tersebut perlahan berubah menjadi ekosistem baru yang didominasi pohon birch dan vegetasi lain yang lebih tahan.

    Serigala dan Beruang Justru Bertambah

    Meski radiasi masih ada, beberapa satwa liar justru berkembang pesat setelah manusia meninggalkan kawasan tersebut. Populasi serigala di zona itu disebut mencapai tujuh kali lebih banyak dibanding cagar alam di sekitarnya.

    Selain itu, beruang cokelat yang sempat menghilang lebih dari 100 tahun di wilayah itu juga kembali terlihat pada 2014 melalui kamera jebak.

    Fenomena ini menunjukkan, hilangnya aktivitas manusia ternyata memberi ruang besar bagi banyak spesies untuk berkembang, meski mereka tetap hidup di lingkungan yang terkontaminasi radiasi.

    (rhr/twu)

    Komentar
    Additional JS