Bukan Penyebab Kekeringan, Struktur Akar Sawit Justru Ciptakan Biopori Simpan Cadangan Air -
Bukan Penyebab Kekeringan, Struktur Akar Sawit Justru Ciptakan Biopori Simpan Cadangan Air
Hasil penelitian ilmiah membuktikan tanaman kelapa sawit memiliki efisiensi penggunaan air tinggi melalui sistem perakaran serabut masif. Struktur morfologi ini menciptakan biopori alami yang berfungsi meningkatkan infiltrasi serta menjaga cadangan air tanah.
Gambar Ilustrasi - HaiSawit
Bogor, HAISAWIT – Tudingan mengenai tanaman kelapa sawit sebagai penyebab utama kekeringan di berbagai wilayah terpatahkan melalui serangkaian hasil penelitian ilmiah yang membuktikan efisiensi penggunaan air pada komoditas tersebut.
Fenomena kekeringan global sebenarnya merupakan dampak nyata perubahan iklim dunia, sementara perkebunan kelapa sawit justru sering menjadi korban dari kondisi lingkungan yang ekstrem dan bukan menjadi aktor penyebabnya.
Dilansir dari laman Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Kamis (16/04/2026), kebutuhan air kelapa sawit berdasarkan indikator evapotranspirasi hanya sebesar 1.104 milimeter (mm) per tahun, jauh lebih rendah dari tanaman lain.
- Lamtoro dan bambu membutuhkan sekitar 3.000 mm air per tahun.
- Akasia memerlukan 2.400 mm per tahun.
- Sengon menghabiskan 2.300 mm per tahun.
- Pinus dan karet menggunakan sekitar 1.300 mm per tahun.
Data tersebut menunjukkan bahwa tanaman hutan yang sering digunakan untuk reboisasi justru memiliki konsumsi air lebih tinggi, sehingga anggapan sawit sebagai tanaman boros air adalah sebuah kekeliruan data.
Berdasarkan konsep jejak air atau water footprint, kelapa sawit juga tercatat sebagai tanaman minyak nabati paling hemat karena hanya membutuhkan 1.098 meter kubik air untuk menghasilkan satu ton minyak.
Volume penggunaan air tersebut secara signifikan lebih kecil jika dibandingkan dengan tanaman bunga matahari yang mencapai 3.366 meter kubik, maupun tanaman kacang kedelai yang membutuhkan sekitar 2.145 meter kubik air.
Daya tahan dan efisiensi ini merupakan hasil adaptasi ekofisiologi karena tanaman ini berasal dari Afrika, sehingga memiliki mekanisme morfologi unik untuk bertahan hidup pada kondisi lingkungan yang tidak melimpah air.
Struktur pelepah daun yang berlapis berperan sebagai naungan lahan atau canopy cover yang hampir mencapai 100 persen, sehingga tanah terlindungi dari hantaman langsung air hujan yang dapat memicu erosi.
Selain itu, kelapa sawit memiliki sistem perakaran serabut yang sangat masif, luas, serta dalam, sehingga mampu menciptakan sistem lubang resapan biopori alamiah yang sangat efektif di dalam tanah perkebunan.
- Biopori meningkatkan kapasitas menahan air (water holding capacity).
- Mempercepat proses infiltrasi air hujan menuju lapisan solum tanah.
- Mengurangi aliran air permukaan atau run-off secara signifikan.
- Menyimpan cadangan air tanah untuk kebutuhan jangka panjang tanaman.
Keberadaan biopori alamiah ini akan semakin bertambah jumlahnya seiring dengan bertambahnya umur tanaman, sehingga perkebunan yang sudah dewasa memiliki kemampuan konservasi air yang jauh lebih stabil dan sangat mumpuni.
Kapasitas penyimpanan air pada lahan sawit bahkan terbukti lebih baik dibandingkan lahan karet, sehingga kandungan air tanah di area perkebunan sawit tetap terjaga tinggi meski saat musim kemarau tiba.
Melalui mekanisme sistem perakaran dan struktur pelepah daun tersebut, perkebunan kelapa sawit menjalankan fungsi hidrologi atau blue function yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan siklus air di ekosistem sekitarnya.
Fakta empiris ini memperjelas bahwa kelapa sawit bukan hanya sekadar tanaman komoditas, melainkan juga memiliki fungsi konservasi tanah dan air yang berlangsung selama siklus hidupnya hingga masa peremajaan tanaman.***
---
Penulis: Nuha Nur Rifa
Editor: Arsad Ddin