Gubernur BI optimis rupiah menguat pada semester II, mengapa? - IDN Finan
Gubernur BI optimis rupiah menguat pada semester II, mengapa?
BI yakin rupiah menguat mulai semester II 2026 di tengah tekanan global dan tingginya dolar AS.
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo meyakini nilai tukar rupiah akan kembali menguat pada semester II 2026 meski saat ini masih berada di bawah tekanan akibat tingginya permintaan dolar AS dan gejolak global.
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (18/5), Perry menilai pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor musiman dan dinamika global, sehingga kurs rupiah dinilai masih undervalued dibandingkan fundamental ekonomi domestik.
“Kami masih percaya bahwa rata-rata nilai tukar sepanjang tahun berada di Rp16.500. Rata-ratanya di kisaran Rp16.200-Rp16.800,” ujarnya dalam rapat tersebut.
Perry menjelaskan tekanan terhadap rupiah meningkat pada April hingga Juni karena tingginya kebutuhan pembayaran bunga, dividen, dan utang luar negeri yang mendorong permintaan dolar AS.
“April, Mei, dan Juni permintaannya memang tinggi, tetapi mulai Juli, Agustus, September rupiah akan menguat,” lanjutnya.
Ia juga menegaskan bahwa kondisi rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi nasional.
“Kami percaya saat ini rupiah sedang undervalued,” kata BI.
Selain faktor domestik, BI menyebut perang di Timur Tengah, tingginya inflasi Amerika Serikat, dan kenaikan yield US Treasury turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Dolar yang kuat menekan nilai tukar mata uang dunia, termasuk rupiah,” jelas BI.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI menyiapkan tujuh langkah kebijakan, mulai dari memperbesar intervensi pasar valas, menaikkan imbal hasil instrumen moneter SRBI, menjaga likuiditas rupiah melalui pembelian SBN, hingga memperketat pembelian dolar tanpa underlying.
“Kebijakan moneter mulai tahun ini bersifat pro-stabilitas,” tegas BI.
BI mengungkapkan intervensi tidak hanya dilakukan di pasar spot, tetapi juga melalui instrumen swap dan forward untuk menjaga kecukupan likuiditas valas domestik.
Selain itu, Bank Indonesia akan menurunkan batas pembelian dolar tanpa underlying menjadi 25 ribu dolar AS mulai Juni 2026 guna menekan transaksi spekulatif.
Meski tekanan global masih tinggi, BI tetap optimistis rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun masih dapat dijaga sesuai asumsi APBN.
“Sepanjang tahun kami masih yakin rata-rata nilai tukar rupiah tetap berada dalam kisaran asumsi tertinggi APBN, yaitu Rp16.800. Kami berusaha mendekati Rp16.500,” ujarnya. (DK)
Tambahkan
sebagai sumber pilihan di Google