0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah LPG Spesial

    Harga Minyak-LPG Dunia Melonjak Imbas Perang di Timur Tengah - det8k

    4 min read

     

    Harga Minyak-LPG Dunia Melonjak Imbas Perang di Timur Tengah


    Jakarta -

    Konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, serta jalur distribusi energi telah menciptakan tekanan besar terhadap pasar energi global. Hal ini mendorong tren kenaikan harga BBM, LPG, hingga LNG di berbagai negara.

    Menurut Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro kebutuhan energi harus diamankan oleh negara.

    "Iya energi ini kan kebutuhan. Kalau tidak ada energi maka tidak ada kehidupan. Saat ada krisis maka paling utama diselamatkan ada dua, pertama kebutuhan pangan dan kedua energi. Jadi, kalau ada ketegangan politik, dua hal itu diamankan," ungkap Komaidi dalam keterangan tertulis, Senin (11/5/2026).

    Komaidi mengatakan bahwa kenaikan harga energi akibat geopolitik saat ini bersifat non-fundamental. Situasi semakin sulit ketika jalur distribusi global terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.

    "Ini yang menjadi perhatian pengguna dan konsumen sehingga harga minyak menjadi tinggi dari seharusnya," sebut Komaidi.

    Ketika harga minyak dunia melonjak, otomatis harga energi lain termasuk produk gas seperti LPG dan LNG ikut mengalami kenaikan. Di Indonesia, penyesuaian harga LPG industri non subsidi 50 kg telah mengalami penyesuaian mengikuti kenaikan harga LPG global berbasis CP Aramco.

    Harga LPG industri tercatat meningkat 25-26%, dari sekitar US$ 21,9 per MMBtu menjadi sekitar US$ 28,3 per MMBtu. Dalam rupiah, harga tabung LPG 50 kg naik dari sekitar Rp 850 ribu menjadi sekitar Rp 1,06 juta per tabung pada Mei 2026.

    Begitu juga untuk BBM nonsubsidi di dalam negeri. Indonesia telah memulai proses adaptasi tersebut melalui mekanisme penyesuaian harga BBM non subsidi pada Mei 2026 yang mengikuti dinamika pasar dan biaya energi global.

    Terutama pada solar industri nonsubsidi yang mengalami kenaikan signifikan sekitar 77-84%, dari sekitar US$ 22,7 per MMBtu menjadi sekitar US$ 43 per MMBtu pada Mei 2026. Dalam rupiah, harga solar industri meningkat dari kisaran Rp 14.200-14.500 per liter menjadi sekitar Rp 26.000-27.900 per liter.

    Merujuk data sejumlah lembaga energi internasional, harga energi regional diperkirakan dapat meningkat signifikan apabila terjadi gangguan distribusi atau eskalasi konflik global. Kondisi tersebut membuat banyak negara mulai memperkuat strategi ketahanan energinya melalui diversifikasi sumber energi, penguatan infrastruktur, serta penyesuaian kebijakan energi domestik.

    Potensi Penyesuaian Harga

    Menurutnya penyesuaian harga memang perlu dilakukan dan mayoritas negara telah merealisasikannya di negara masing-masing. Bukan hanya BBM dan LPG, tetapi juga LNG. Apalagi, sepanjang 2026, pasar energi Asia diperkirakan masih menghadapi volatilitas tinggi.

    Fenomena itu tidak hanya terjadi di negara maju. Negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura juga mulai melakukan penyesuaian strategi energi untuk menjaga keberlanjutan energi domestik.

    Vietnam misalnya, kini semakin bergantung pada pasokan LNG dengan harga yang mengikuti pasar spot Asia. Berdasarkan data PetroVietnam dan IEEFA 2026, harga gas di Vietnam telah mencapai sekitar US$ 27,81 per MMBtu.

    Sementara di Filipina, harga LNG tercatat mencapai sekitar US$ 28,50 per MMBtu berdasarkan data S&P Global dan Shell FGEN 2026. Singapura sebagai hub LNG regional mencatat harga yang jauh lebih tinggi.

    Untuk sektor bulk industri, harga gas mencapai sekitar US$ 40,12 per MMBtu. Sedangkan pada sektor retail umum, harga gas Singapura mencapai sekitar US$ 47,54 per MMBtu.

    Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tren kenaikan harga energi terjadi secara luas di kawasan ASEAN, termasuk pada negara-negara berkembang yang kini semakin bergantung pada pasokan LNG dan dinamika pasar energi global.

    Data pasar seperti indeks internasional Japan Korea Marker (JKM) sebagai acuan harga spot LNG Asia dan Japan Customs-Cleared Crude (JCC) yang menjadi acuan kontrak LNG jangka panjang tercatat melonjak secara bersamaan sepanjang 2026. Di JCC terjadi peningkatan sekitar 97% sementara JKM melonjak hingga sekitar 111%.

    Kenaikan tersebut turut mendorong Indonesian Crude Price (ICP) yang ditetapkan pemerintah berbasis JCC dan Brent ikut meningkat secara proporsional. Pada April 2026, ICP bahkan tercatat naik sekitar 99% dibandingkan rencana awal tahun.

    Meskipun relatif terlambat, Komaidi mengatakan, penyesuaian harga energi terutama non subsidi seperti LNG perlu segera dilakukan di dalam negeri. Secara ekonomi, hal ini penting dilakukan supaya LNG domestik dijaga pada tingkat yang sehat dan rasional sesuai harga keekonomian energi global.

    Halaman 2 dari 2

    (hal/ara)

    Komentar
    Additional JS