0
Terkini
    Home Berita Featured Hantavirus Kesehatan Spesial WHO

    Jadi Masalah Internasional, Eks Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Minta Jangan Remehkan Hantavirus - Jawa Poz

    4 min read

     

    Jadi Masalah Internasional, Eks Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Minta Jangan Remehkan Hantavirus

    ILUSTRASI: Hantavirus. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)

    JawaPos.com – Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama meminta masyarakat dan pemerintah tidak meremehkan hantavirus meskipun penyebarannya dinilai tak semasif Covid-19.

    Hal itu menyusul munculnya kasus di kapal pesiar MV Hondius yang melibatkan penumpang dari berbagai negara. Ia menilai, kejadian tersebut sudah menjadi persoalan kesehatan internasional.

    “Kejadian di kapal pesiar ini jelas merupakan masalah internasional,” kata Tjandra dalam keterangannya, Sabtu (9/5).

    Menurutnya, terdapat sedikitnya tiga alasan mengapa kasus tersebut perlu menjadi perhatian dunia. Pertama, kapal pesiar itu membawa penumpang dari 23 kewarganegaraan berbeda. Kedua, kapal tersebut singgah di berbagai negara selama perjalanan. Ketiga, penumpang yang turun dari kapal sudah melakukan penerbangan ke berbagai negara sehingga berpotensi menularkan penyakit ke orang lain.

    Ia juga menyinggung dugaan penularan terhadap seorang pramugari maskapai KLM yang tengah menjadi perhatian otoritas kesehatan internasional.

    Pola Penyakit Bisa Berubah

    Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes itu juga menjelaskan, selama ini terdapat perbedaan pola kasus hantavirus di kawasan Amerika dibandingkan Eropa dan Asia. Kasus di Amerika disebut cenderung lebih berat dengan angka kematian lebih tinggi.

    “Pola yang sekarang ada memang beda antara kejadian di kawasan Amerika dengan kasus di Eropa dan Asia yang angka kematiannya lebih rendah,” ujarnya.

    Namun, ia mengingatkan pola penyakit dapat berubah sewaktu-waktu sebagaimana yang terjadi pada berbagai penyakit menular lain.

    “Dari pengalaman berbagai penyakit selama ini maka tentu pola yang ada bisa saja berubah, walaupun sejauh ini belum ada laporan perubahan untuk Hantavirus,” tuturnya.

    Karena itu, Tjandra meminta seluruh negara termasuk Indonesia tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penyebaran lintas negara.

    “Semua negara termasuk Indonesia tentu harus waspada, dan dari pengalaman selama ini memang mungkin saja penyakit dari satu negara berpindah ke negara lainnya,” katanya.

    Soroti Angka Kematian Hantavirus di Indonesia

    Tjandra juga menyoroti data Kementerian Kesehatan terkait angka kematian hantavirus di Indonesia yang disebut mencapai 13 persen. Menurutnya, angka tersebut perlu menjadi perhatian serius karena lebih tinggi dibandingkan rata-rata di Asia.

    “Data Asia selama ini angka kematian Hantavirus di Asia adalah di bawah 5 persen, bahkan ada yang menyebutkan 1 persen,” jelasnya.

    Ia mengakui pasien yang meninggal di Indonesia disebut memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Namun menurutnya, kasus di negara lain kemungkinan juga memiliki kondisi serupa tetapi angka kematiannya tetap lebih rendah.

    “Yang meninggal di negara kita ada komorbid, tetapi yang di negara lain mungkin juga ada komorbid dan angka kematiannya lebih rendah,” katanya.

    Lima Langkah Pencegahan Hantavirus

    Tjandra mengimbau masyarakat menerapkan sejumlah langkah pencegahan untuk menghindari penularan hantavirus dalam kehidupan sehari-hari.

    Langkah pertama adalah menjaga kebersihan lingkungan, terutama rumah dan tempat penyimpanan makanan agar tidak menjadi sarang tikus.

    Kedua, menggunakan alat pelindung seperti masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi urin atau kotoran tikus.

    Ketiga, menghindari kontak langsung dengan tikus maupun mencit, termasuk tidak menyentuh bangkai hewan pengerat tanpa perlindungan.

    Keempat, menutup celah atau lubang di rumah guna mencegah tikus masuk dan berkembang biak.

    Kelima, menyimpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup agar tidak terkontaminasi hewan pengerat.

    Komentar
    Additional JS