0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Jayapura Spesial

    Jayapura Darurat Sampah, Warga Diajak Pilah dari Rumah - Sumbawanews

    2 min read

     

    Jayapura Darurat Sampah, Warga Diajak Pilah dari Rumah

    Sumbawanews.com,- Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Jayapura mengungkapkan bahwa produksi sampah harian di ibu kota Papua mencapai 240 ton, dengan lonjakan hingga 300 ton pada hari-hari raya keagamaan. Angka yang mengkhawatirkan ini menjadi titik kritis bagi sistem pengelolaan limbah yang masih terbatas, terutama di wilayah pinggiran seperti Koya Barat, Koya Timur, dan Distrik Muara Tami.

    Pelaksana tugas Kepala DLHK Simon Petrus Koirewoa mengakui, armada pengangkut sampah yang tersedia—terdiri dari 14 unit mobil roda empat, 14 unit mobil ambrol, dan 36 unit dump truck—belum mampu menjangkau seluruh titik penumpukan. Di Koya saja, hanya tiga kendaraan yang dikerahkan, membuat pelayanan menjadi tidak merata dan banyak wilayah terabaikan.

    Untuk mengurangi tekanan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Koya Koso yang baru saja diresmikan pada 27 Mei 2026, pemerintah kota mengajak seluruh masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah tangga. “Kami tidak bisa terus mengandalkan pengangkutan dan penimbunan. Solusi jangka panjang dimulai dari kesadaran setiap keluarga untuk memisahkan sampah organik dan anorganik,” ujar Simon.

    Selain itu, pemerintah juga membuka peluang bagi pihak ketiga untuk berinvestasi dalam pengolahan sampah bernilai ekonomi, seperti plastik, logam, dan bahan daur ulang lainnya. Dengan potensi sampah yang mencapai ratusan ton per hari, peluang bisnis berbasis ekonomi sirkular dinilai sangat menjanjikan—asalkan didukung oleh partisipasi aktif masyarakat.

    Polemik serupa pernah dihadapi oleh Kabupaten Bekasi, yang mewajibkan setiap rukun warga membentuk Bank Sampah Unit sebagai upaya menekan volume limbah dari hulu. Di sana, kepala desa dan lurah ditugaskan memfasilitasi pelatihan pengomposan, budidaya maggot, hingga akses pasar bagi hasil daur ulang. Namun, di Jayapura, langkah awal yang lebih mendasar justru menjadi tantangan utama: mengubah kebiasaan masyarakat yang masih sering membuang sampah sembarangan atau membakarnya secara terbuka.

    “Kami tidak ingin TPA Koya Koso menjadi kuburan sampah yang cepat penuh. Ini adalah kesempatan untuk membangun sistem yang berkelanjutan—mulai dari rumah, sampai ke tempat akhir,” tegas Simon.

    Dengan infrastruktur yang masih terbatas, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Tanpa partisipasi warga dalam memilah sampah sejak sumbernya, upaya pemerintah untuk mengelola limbah akan terus berjalan di tempat—meski TPA baru telah berdiri megah di ujung kota.

    Komentar
    Additional JS