Jejak Global Hiu Paus dan Peta Baru Konservasi Laut Indonesia - Times Indonesia
Jejak Global Hiu Paus dan Peta Baru Konservasi Laut Indonesia
JAKARTA – Di hamparan biru Samudra Indo-Pasifik, batas negara nyaris kehilangan makna bagi seekor raksasa laut yang bergerak pelan namun pasti. Hiu paus (Rhincodon typus), spesies ikan terbesar di dunia yang dikenal jinak dan pemakan plankton, tidak hanya hidup di satu perairan tertentu. Ia menjelajah lintas negara, melintasi zona ekonomi eksklusif, bahkan menyusuri wilayah laut lepas yang tidak berada di bawah yurisdiksi negara mana pun.
Temuan terbaru dari tim peneliti Indonesia lintas lembaga mengubah cara pandang konservasi terhadap spesies ini. Melalui analisis data pelacakan satelit selama satu dekade, para ilmuwan mengungkap bahwa hiu paus Indonesia tidak hanya berada di perairan domestik, tetapi juga bergerak ke sedikitnya 13 negara dan kawasan laut lepas di Indo-Pasifik. Fakta ini menegaskan bahwa perlindungan hiu paus tidak dapat lagi hanya mengandalkan pendekatan lokal.
Penelitian tersebut melibatkan Konservasi Indonesia, Elasmobranch Institute Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, serta Conservation International. Para peneliti menganalisis pergerakan 70 individu hiu paus yang terpantau di empat lokasi agregasi utama di Indonesia, yakni Teluk Cenderawasih di Papua Tengah, Kaimana di Papua Barat, Teluk Saleh di Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Teluk Tomini di Gorontalo. Data yang dikumpulkan pada periode 2015–2025 tersebut kemudian dipetakan untuk melihat pola migrasi di kawasan Indo-Pasifik.
Hasilnya menunjukkan pola yang jauh lebih kompleks dari sekadar peta habitat lokal.
Laut yang Tak Mengenal Batas Negara
“Sekarang kita tidak hanya tahu di mana hiu paus muncul, tetapi juga bagaimana mereka bergerak dan faktor apa yang mendorong pergerakan mereka,” ujar Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, yang memimpin penelitian tersebut.
Menurut Iqbal, temuan ini menjadi titik balik penting dalam memahami ekologi hiu paus. Selama ini, upaya konservasi cenderung berfokus pada lokasi kemunculan seperti teluk atau kawasan konservasi tertentu. Namun data terbaru menunjukkan bahwa hiu paus merupakan spesies migratori jarak jauh yang sangat bergantung pada konektivitas ekosistem laut.
“Mereka tidak hanya tinggal di satu tempat. Mereka bergerak dari pesisir ke laut lepas, mengikuti ketersediaan makanan dan kondisi lingkungan,” kata Iqbal.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa hiu paus menggunakan wilayah laut secara dinamis. Kawasan agregasi menjadi lokasi makan dalam jangka panjang, sementara laut lepas berfungsi sebagai jalur migrasi sekaligus ruang pencarian makan alternatif ketika sumber daya di satu wilayah menurun.
Teluk sebagai Rumah, Laut Lepas sebagai Jalur
Studi ini menemukan bahwa setiap habitat yang digunakan hiu paus memiliki fungsi ekologis berbeda. Teluk seperti Teluk Saleh menjadi pusat aktivitas makan yang stabil sepanjang tahun. Di wilayah ini, hiu paus kerap berkumpul dalam jumlah besar memanfaatkan kelimpahan plankton yang dipengaruhi kondisi oseanografi lokal.
Sementara itu, laut lepas tidak hanya menjadi ruang transisi, tetapi juga area “restoratif” yang memungkinkan hiu paus mencari makan secara oportunistik. Ketika daya dukung di kawasan agregasi menurun, mereka berpindah ke wilayah lain yang lebih produktif secara biologis.
Iqbal menegaskan bahwa hanya sedikit lokasi yang mampu mendukung keberadaan hiu paus sepanjang tahun. Dari hasil penelitian, Teluk Cenderawasih dan Teluk Saleh menjadi dua kawasan yang dinilai sebagai habitat kunci yang tidak tergantikan.
“Dua lokasi ini sangat penting. Mereka bukan sekadar tempat singgah, tetapi benar-benar menjadi habitat inti bagi hiu paus dalam jangka panjang,” ujarnya.
13 Negara dalam Satu Perjalanan
Skala pergerakan hiu paus dalam studi ini melintasi sedikitnya 13 negara dan wilayah, termasuk Australia, Christmas Island, Timor Leste, Kepulauan Gilbert, Guam, Indonesia, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, Papua Nugini, Filipina, dan Kepulauan Solomon. Selain itu, mereka juga memasuki wilayah laut lepas yang tidak berada di bawah kendali negara mana pun.
Skala migrasi tersebut menempatkan hiu paus sebagai spesies laut lintas batas. Konsekuensinya, ancaman terhadap kelestariannya juga bersifat lintas negara, mulai dari tangkapan tidak sengaja (bycatch), tabrakan dengan kapal, hingga degradasi habitat akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia.
Hasil riset juga menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah jelajah hiu paus berada di luar kawasan perlindungan laut yang ada saat ini. Artinya, spesies ini banyak menghabiskan hidupnya di wilayah dengan pengelolaan yang masih terbatas atau belum terkoordinasi secara internasional.
Indonesia di Pusat Jalur Migrasi
Dengan posisi geografisnya, Indonesia berada di jantung jalur migrasi hiu paus Indo-Pasifik. Kondisi ini menjadikan Indonesia bukan hanya negara habitat, tetapi juga pusat konektivitas pergerakan spesies tersebut.
Menurut para peneliti, posisi ini memberi peluang sekaligus tanggung jawab besar. Indonesia dapat menjadi penggerak utama dalam membangun kerangka konservasi regional lintas negara.
“Dengan perannya sebagai hub konektivitas hiu paus di Indo-Pasifik, Indonesia berada pada posisi unik untuk mendorong kebijakan konservasi yang tidak hanya berdampak nasional, tetapi juga memperkuat kerja sama lintas negara,” kata Iqbal.
Laut sebagai Jaringan Jalan Tol Alami
Guru Besar Oseanografi Universitas Diponegoro, Anindya Wirasatriya, yang turut menjadi penulis dalam studi ini, menilai hiu paus memanfaatkan dinamika laut seperti jaringan jalan tol alami. Arus laut, suhu, dan produktivitas perairan membentuk rute pergerakan mereka.
“Arus dan produktivitas perairan mengarahkan pergerakan mereka, sementara area tertentu berfungsi sebagai ‘rest area’ tempat mereka berhenti untuk mencari makan,” kata Anindya.
Ia menekankan bahwa konservasi tidak cukup hanya menetapkan kawasan perlindungan di satu titik, melainkan harus melihat keterhubungan sistem laut secara keseluruhan.
Risiko di Jalur Migrasi
Selain membuka pemahaman baru, penelitian ini juga menyoroti berbagai risiko yang dihadapi hiu paus selama migrasi. Jalur pergerakan yang panjang membuat mereka rentan terhadap tabrakan kapal, terutama di jalur pelayaran internasional yang padat.
Aktivitas penangkapan ikan yang tidak selektif juga berpotensi menyebabkan hiu paus terjerat secara tidak sengaja. Sementara itu, perubahan iklim dan polusi turut mengganggu ketersediaan plankton sebagai sumber makanan utama.
Dengan pemetaan jalur migrasi yang lebih presisi, mitigasi risiko dapat dilakukan lebih terarah, termasuk pengaturan jalur kapal hingga penetapan zona perlindungan sementara.
Pariwisata dan Tantangan Keberlanjutan
Di Indonesia, hiu paus menjadi daya tarik ekowisata bahari, khususnya di Teluk Cenderawasih dan Teluk Saleh. Kehadirannya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis wisata pengamatan satwa liar.
Namun, peningkatan aktivitas wisata perlu diimbangi pengelolaan ketat agar tidak mengganggu perilaku alami hiu paus, terutama saat makan dan bermigrasi.
Menuju Konservasi Lintas Negara
Temuan ini menegaskan bahwa hiu paus adalah warga samudra, bukan milik satu negara.
Pergerakan yang melintasi 13 negara dan wilayah laut lepas menunjukkan bahwa konservasi laut harus bergerak menuju pendekatan global yang terintegrasi. Indonesia berada pada posisi strategis untuk mendorong kerja sama tersebut.
Di tengah tekanan terhadap ekosistem laut dunia, studi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan di bawah laut tidak mengenal batas politik. Yang ada hanya arus, makanan, dan jalur migrasi yang telah berlangsung jauh sebelum peta negara dibuat manusia.
Dan di antara semua itu, hiu paus terus bergerak—tenang, luas, dan tanpa batas. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.