Kisah Beras Kuno Berusia 1000 Tahun di Situs Liyangan - Tirto
Kisah Beras Kuno Berusia 1000 Tahun di Situs Liyangan

tirto.id - Sekitar seribu tahun lalu, lereng timur laut Gunung Sindoro diguncang letusan besar yang memuntahkan awan dan aliran panas. Permukiman agraris yang hidup di kaki gunung itu lenyap seketika, terkubur di bawah abu dan batu tebal.
Di balik malapetaka yang mematikan itu, tidak ada temuan kerangka manusia ataupun ternak, yang membuka kemungkinan masyarakatnya sudah memiliki sistem mitigasi bencana alam di lingkungan vulkanik yang mereka huni.
Di Liyangan, sebuah dusun di Temanggung, para peneliti justru menemukan butiran beras kuno yang telah menjadi arang, tersimpan di sisa lumbung kayu. Padi yang membatu itu menjadi saksi bisu bagaimana leluhur mereka mengelola pangan di tanah vulkanis yang subur sekaligus berbahaya.
Butiran beras itu merekam jejak migrasi besar dari Asia Tenggara, menuturkan kisah tentang manusia zaman baheula yang membawa benih pangan melintasi lautan, lalu menanam akar peradaban agraris di jantung Jawa.
Mataram Kuno di Bawah Selimut Abu Vulkanik
Kisah penyingkapan Situs Liyangan bermula pada tahun 2000 ketika penggalian fondasi rumah warga tak sengaja menabrak susunan balok batu kuno. Sempat terabaikan, hingga pada 2008 para penambang pasir di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, menemukan struktur talud, arca, dan komponen candi dari kedalaman belasan meter.
Sejak saat itu, perhatian para arkeolog tertuju pada lereng Sindoro. Lewat ekskavasi terungkap permukiman kuno yang terintegrasi, lengkap dengan hunian, tempat ibadah, dan lahan pertanian. Permukiman ini diperkirakan berkembang pesat sejak abad ke-8 hingga 10, menjadikannya salah satu pusat sipil penting pada masa awal Mataram Kuno.
Berada di ketinggian 1.100–1.200 meter, masyarakat Liyangan menghadapi tanah miring dan udara dingin pergunungan. Alih-alih meratakan lahan, mereka membangun sistem berundak yang mengikuti kontur Sindoro. Dinding batu andesit penahan tanah, selain sebagai solusi teknis, juga lanskap spiritual yang menyatukan arsitektur dengan kosmologi.
Merujuk kajian Berkala Arkeologi berjudul "Lanskap Spiritual Situs Liyangan" (2019), bangunan suci di Liyangan justru menghadap tenggara, diarahkan ke Gunung Merapi, Perbukitan Baka, atau kompleks Prambanan, pusat politik dan spiritual Mataram Kuno, bukan timur-barat sebagaimana pakem klasik.
Kehidupan sehari-hari masyarakat Liyangan terekam jelas dari temuan ribuan artefak, seperti periuk tembikar lokal, keramik Dinasti Tang, perkakas pertanian, senjata, hingga perhiasan.
Ekskavasi pada tahun 2010 dan kemudian pada 2018 mengungkap rumah panggung berdinding anyaman bambu, beratap ijuk, dan ditopang kayu puspa serta jamuju. Erupsi Sindoro membakar cepat struktur organik ini, lalu abu vulkanik menciptakan ruang hampa oksigen yang mencegah pembusukan. Kayu dan bambu berubah menjadi arang fosil, detail seratnya terawetkan selama berabad-abad.
Di salah satu sudut permukiman, tim arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan gundukan arang beras, arang kayu, dan arang bambu yang tersusun rapi. Analisis yang dipublikasikan pada 2022 itu menunjukkan lumbung padi berskala besar. Fondasi kayu tebal disusun melintang, di atasnya bambu utuh membentuk lantai panggung berventilasi.
Lembaran anyaman bambu menjadi alas panen, lalu di atasnya bertumpuk gabah yang kini terkarbonisasi setebal 20–30 sentimeter per lapisan. Setiap lapisan dipisahkan kembali dengan anyaman bambu, menciptakan sistem penyimpanan berjenjang. Teknik ini menunjukkan surplus pertanian dan pengetahuan pengawetan hasil panen yang maju.
Mengurai Genetika Beras Kuno Liyangan
Penemuan tumpukan gabah beras yang membatu di Liyangan menjadikannya area pengetahuan yang menyimpan rahasia pertanian kuno. Menurut para peneliti, saat gabah-gabah ditemukan, bentuknya sudah tertata dengan ikatan-ikatan yang menyiratkan pada cara penyimpanan padi di lumbung.
Cristina Cobo Castillo, ahli arkeobotani dari University College London, memimpin penelitian dengan penuh kehati-hatian. Ia dan timnya menyeleksi 56 butir gabah utuh dari sisa lumbung kayu yang rapuh, lalu mengukur rasio panjang dan lebar setiap bulir untuk mengungkap identitas genetik yang terkubur seribu tahun.
Meski gabah terbakar menjadi arang, rasio panjang-lebar tetap terjaga. Hasil pengukuran menunjukkan bentuk gabah Liyangan berada di antara tipe indica yang ramping dan tipe temperate japonica yang bulat. Dua kelompok ini merupakan kelompok silsilah utama dari spesies padi Asia atau Oryza sativa.
Analisis statistik memperlihatkan mayoritas sampel, sekitar 64 persen, termasuk ke dalam subkelompok tropical japonica—varietas padi yang tangguh menghadapi iklim khatulistiwa, curah hujan tinggi, dan tanah vulkanik.
Signifikansi penemuan ini tergolong luar biasa. Untuk pertama kalinya, bukti fisik menunjukkan tropical japonica pernah dibudidayakan di Jawa. Kajian ini memperkuat hipotesis bahwa penyebaran padi di Asia selalu berjalan seiring dengan pergerakan kelompok manusia pionir yang membawanya.
Seturut Te-Tzu Chang dan Eliseo A. Bardenas dalam The Morphology and Varietal Characteristics of the Rice Plant (1965:24), varietas ini erat kaitannya dengan istilah padi javanica atau "padi bulu" yang dikenal petani tradisional Jawa. Padi bulu memiliki batang tinggi, kokoh, jumlah anakan sedikit, tetapi menghasilkan malai panjang dengan gabah melimpah.
Bukti paling otentik terlihat dari ciri morfologi gabah Liyangan, yakni berbulu panjang di ujung cangkang (awned). Bulu itu merupakan bentuk adaptasi biologis yang melindungi bulir dari hama, menjaga kelembapan, dan membantu penyebaran benih di alam liar.
Pertanyaannya kemudian, dari mana benih tropis ini berasal?
Menurut makalah bertajuk "Genomic History and Ecology of the Geographic Spread of Rice", semua bermula dari lembah Sungai Yangtze, Tiongkok, tempat domestikasi awal padi japonica, sekitar sembilan ribu tahun lalu. Rute migrasi tropical japonica berbeda dari jalur Austronesia. Benih tropis ini kemungkinan besar dibawa oleh petani awal dari daratan Asia Tenggara, menyusuri sungai besar, menyeberang Semenanjung Malaya, mendarat di Sumatra, menembus Kalimantan, lalu berakar kuat di tanah vulkanik Jawa.
Kepingan tersebut semakin lengkap dengan penemuan arkeologis di Klaster F Liyangan. Pada 2013, arkeolog menemukan kerangka manusia yang diberi kode Liyangan F1. Analisis bioarkeologi mengindikasikan bahwa kerangka ini tidak berkaitan langsung dengan peristiwa bencana yang mengubur situs, melainkan merupakan bagian dari praktik pemakaman yang telah lebih dahulu berlangsung.
Pola susunan tulangnya menunjukkan ciri kubur sekunder. Jenazah mula-mula dibiarkan membusuk atau dikubur sementara, lalu setelah jaringan lunak hancur, tulang-belulang digali kembali, dibersihkan, ditata ulang, dan dikuburkan lagi di liang yang dianggap lebih suci.
Peneliti juga menunjukkan lubang kubur sekunder itu menembus lapisan tanah yang jauh lebih tua usianya. Sementara bekal kubur berupa buli-buli porselen mungil dari Dinasti Tang menegaskan keterhubungan lintas budaya.
Jejak budaya daratan Asia Tenggara juga tampak pada kebiasaan modifikasi gigi dan menyirih dengan kapur gamping, yang meninggalkan tanda jelas pada enamel kerangka Liyangan F1. Tradisi menyirih ini berusia belasan ribu tahun, lahir dari daratan Asia Tenggara, dan menjadi praktik biokultural yang menyatukan tubuh dengan ritual komunal.
Lanskap Pertanian dan Irigasi Liyangan
Guna membedah lanskap pertanian, para peneliti menemukan beberapa talud, yakni susunan batu untuk memperkuat dinding tebing. Talud tersusun berundak (terasering) mengikuti kontur lereng yang mengarah ke puncak Gunung Sindoro, berfungsi menstabilkan tanah vulkanik sekaligus mengurangi risiko erosi.
"Area pertanian berada pada lokasi di luar area pemujaan, dilengkapi dengan struktur-struktur boulder (batu besar) untuk penguat sekaligus sebagai batas lahan," ujar Sugeng Riyanto, Kepala Balai Arkeologi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam Situs Liyangan dan Sejarahnya, Peradaban Adiluhung di Lereng Gunung (2020:33).
Masyarakat saat itu menciptakan gundukan tanah memanjang, sering disebut larikan, sebagai bedengan lahan pertanian, lengkap dengan lubang tiang bambu dan kayu untuk penyangga tanaman serta pagar organik.
Sistem berundak itu terhubung dengan jaringan hidrologi yang dirancang presisi sekaligus sarat makna spiritual. Di lokasi pertanian, para arkeolog menemukan petirtaan atau saluran air kuno yang berintegrasi dengan sebuah yoni berlubang tiga di sekitar candi, tersusun dari balok batu dan bukan monolit.
Dari cerat yoni, air dialirkan ke parit batu menuju sawah di bawahnya. Aliran ini juga digunakan untuk ritual sakral, di mana air diberkati sebelum menetes ke ladang. Keberadaan dua sungai di sekitar situs, Kali Progo dan Kali Deres, serta mata air alami menjadi sumber air utama yang dimanfaatkan melalui sistem teras dan saluran ini.
Dinukil dari buku Liangan:Mozaik Peradaban Mataram Kuno di Lereng Sindoro (2014:99), ekskavasi juga menyingkap anyaman bambu, ijuk, arang kayu, dan perkakas logam seperti parang, cangkul, tang, dan sabit. Itu membuktikan petani Liyangan sudah menguasai teknologi pengolahan lahan untuk mengelola medan pergunungan.
Mereka juga tidak bergantung pada satu komoditas. Bersama padi ditemukan pula biji-bijian dan tanaman lain yang terkarbonisasi. Semua hasil bumi itu disimpan dalam lumbung kayu berarsitektur panggung, gabah ditata berlapis di atas anyaman bambu, diberi ruang sirkulasi udara, dan dipayungi atap ijuk untuk menepis kelembapan.
Situs Liyangan membuktikan bahwa identitas agraris Nusantara telah lama dirajut dari benih-benih kecil yang menyeberangi samudra, dan dari peradaban yang mampu bertahan melampaui amukan lahar gunung berapi.
tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi