0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Inovasi Spesial

    Kulit Buah Disulap Jadi Deterjen Ramah Lingkungan di Tangsel - Tribunnews

    6 min read

     

    Kulit Buah Disulap Jadi Deterjen Ramah Lingkungan di Tangsel

    Warta Kota/Ikhwana Mutuah Mico A-A+ PENGOLAHAN SAMPAH - Pelaku UMKM laundry ini mengubah limbah kulit buah menjadi deterjen ramah lingkungan berbasis eco enzyme, sekaligus mengajak masyarakat melihat sampah rumah tangga sebagai peluang cuan dan solusi lingkungan, 
    Ringkasan Berita:
    • Anantasari, pemilik usaha laundry rumahan Binatu Koe di Pondok Aren, Tangerang Selatan, memanfaatkan limbah kulit buah dan sayur menjadi deterjen ramah lingkungan berbahan eco enzyme.
    • Sejak 2021, ia beralih dari deterjen kimia demi mengurangi pencemaran limbah dan sampah plastik.
    • Cairan hasil fermentasi limbah organik itu kini menjadi identitas usahanya sekaligus sarana edukasi pengelolaan sampah rumah tangga bagi warga sekitar di Tangerang Selatan.

    WARTAKOTALIVE.COM, TANGERANG - Kulit buah yang biasanya berakhir di tempat sampah, di tangan Anantasari justru berubah menjadi bahan utama deterjen laundry ramah lingkungan.

    Dari rumah sekaligus tempat usahanya, perempuan pelaku UMKM itu membuktikan limbah dapur ternyata bisa menjadi cuan sekaligus solusi kecil untuk persoalan sampah rumah tangga.

    Usaha miliknya Binatu Koe sebuah laundry rumahan di perumahan Pondok Jaya, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten sudah berdiri sejak 2011.

    Perubahan besar terjadi akhir 2021 ketika ia memutuskan meninggalkan deterjen kimia dan beralih menggunakan eco enzyme, cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayur.

    "Yang paling saya pedulikan itu lingkungan. Laundry kami ada di perumahan, jadi saya tidak ingin limbah sabunnya mencemari air di sekitar,” ujar Anantasari kepada TribunTangerang.com, Pondok Aren, Tangsel, Kamis (28/5/2026).

    Baca juga: Sadis! Balita di Jatisampurna Bekasi Ditemukan Tewas Mengenaskan, Warga Menduga Korban Pembunuhan

    Keputusan itu bukan tanpa resiko. Saat sebagian besar usaha laundry mengandalkan deterjen beraroma tajam dan penuh busa, Ananta justru memakai cairan berwarna cokelat dengan aroma alami hasil fermentasi buah. Ia sadar pelanggannya bisa saja ragu.

    “Orang biasanya beli sabun lihat warna dan wanginya. Sementara eco enzyme warnanya cokelat dan kami tidak pakai pewangi tambahan,” ujar Ananta tersenyum.

    Perjalanannya mengenal eco enzyme bermula pada masa pandemi 2020. Saat pulang ke rumah orang tuanya di Malang, Jawa Timur, ia membaca artikel koran tentang seorang pegiat eco enzyme.

    Rasa penasaran membuatnya mencari informasi lewat internet hingga mengikuti webinar komunitas lingkungan.

    Dari situlah ia mulai mencoba membuat eco enzyme sendiri di rumah. Formula pembuatannya cukup sederhana, yakni satu bagian gula, tiga bagian limbah organik, dan sepuluh bagian air yang difermentasi minimal selama 90 hari.

    “Nah, semua rumah pasti punya sampah organik. Kulit buah, sisa sayur, itu sebenarnya bisa dimanfaatkan,” ucapnya.

    Di sudut ruang laundry miliknya, berjajar galon dan wadah fermentasi berisi kulit jeruk, nanas, hingga berbagai limbah buah lain. Beberapa wadah tampak masih mengeluarkan gas, tanda proses fermentasi sedang berlangsung.

    Saat tutup salah satu wadah dibuka, aroma segar menyerupai tape bercampur jeruk langsung tercium.

    "Kalau kulit jeruknya banyak, aromanya lebih segar,” kata Ananta.

    Bahan baku limbah organik itu ia dapatkan secara gratis dari rumah tangga hingga pelaku usaha herbal di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

    “Kalau limbah kulit buah biasanya orang kasih gratis. Mereka senang karena sampahnya bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

    Tidak hanya mengurangi sampah organik, Ananta mulai mengurangi limbah plastik dari usahanya.

    Jika dulu ia rutin membuang jirigen deterjen bekas, kini wadah yang sama digunakan berulang kali karena sabun diproduksi sendiri.

    “Dulu saya sedih lihat jirigen bekas terus bertambah. Sekarang paling tidak tidak menambah sampah lagi,” ucapnya.

    Meski menggunakan bahan alami, Ananta memastikan kualitas cucian tetap terjaga. Ia mengaku belum pernah menerima keluhan pelanggan sejak menggunakan deterjen berbahan eco enzyme.

    “Saya sempat takut pelanggan tidak cocok. Tapi alhamdulillah sampai sekarang tidak ada masalah,” tuturnya

    Usaha laundry itu memang sempat terpukul setelah pandemi COVID-19. Dari sebelumnya mampu mencuci hingga 100 kilogram pakaian per hari, kini jumlahnya turun menjadi sekitar 30 kilogram. Persaingan usaha laundry yang semakin banyak menjadi tantangan tersendiri.

    Namun di tengah penurunan itu, konsep ramah lingkungan justru menjadi identitas baru usahanya. Beberapa pelanggan bahkan datang karena penasaran dengan eco enzyme yang ia pajang di area laundry.

    “Mereka bilang keren karena limbah bisa jadi sabun,” katanya.

    Bagi Ananta, persoalan sampah bukan hanya soal membuang pada tempatnya, tetapi juga soal kesadaran memilah sejak dari rumah.

    Ia mengaku sedih melihat tempat sampah umum yang isinya bercampur antara organik dan anorganik.

    “Orang merasa yang penting sudah buang sampah. Padahal yang benar itu membuang sesuai jenisnya,” ujarnya.

    Kini, selain menjalankan laundry, Ananta juga aktif mengenalkan eco enzyme kepada warga sekitar.

    Ia berharap semakin banyak masyarakat mencoba mengolah sampah organik rumah tangga, meski dalam skala kecil.

    “Saya lebih senang banyak orang bikin eco enzyme sedikit-sedikit di rumah, daripada cuma satu dua orang bikin dalam jumlah besar,” katanya.

    Dari kulit buah yang dulu dianggap limbah, Ananta menemukan cara baru menjaga lingkungan sekaligus mempertahankan usahanya. (m30)

    Komentar
    Additional JS