Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan APBN Aman dan Tak Perlu Dihitung Ulang - Kompas TV
Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan APBN Aman dan Tak Perlu Dihitung Ulang
Kompas.tv - 27 Mei 2026, 12:22 WIB
JAKARTA, KOMPAS.TV – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini menembus level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan mengganggu stabilitas fiskal negara.
Pemerintah menegaskan tidak perlu melakukan penghitungan ulang atau merombak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Baca Juga: Budiman Sudjatmiko & Ferry Latuhihin Soal Pengurangan Anggaran di Tengah Rupiah Melemah
Menurut Menkeu Purbaya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) jauh-jauh hari telah mengantisipasi fluktuasi ekonomi global ini.
Pemerintah sudah melakukan berbagai simulasi terhadap beragam skenario ekonomi terburuk, termasuk memperhitungkan potensi lonjakan harga minyak mentah dunia hingga mencapai 100 dolar AS per barel.
“Kita udah hitung. Pada waktu simulasi (minyak global) 100 dolar per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan. Jadi enggak ada masalah, saya enggak harus hitung ulang APBN-nya,” ujar Purbaya di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Rabu (27/5/2026), dikutip dari Antara.
Intervensi Pasar Obligasi dan Langkah Buyback
Selain memastikan ketahanan APBN, Menkeu Purbaya juga menegaskan bahwa kondisi pasar obligasi dalam negeri saat ini masih sangat terkendali, meskipun mata uang Garuda tengah berada di bawah tekanan dolar AS.
Kemenkeu melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) secara aktif melakukan langkah stabilisasi dengan membeli kembali atau melaksanakan skema buyback obligasi negara.
Baca Juga: Menko Airlangga ungkap Alasan Prabowo Kumpulkan Eks Pejabat Ekonomi Bahas Krisis dan Rupiah
Langkah taktis ini bertujuan untuk menahan agar tingkat imbal hasil (yield) obligasi tetap stabil dan tidak melonjak tajam.
“Tapi gini, walaupun rupiah melemahkan bond, yield-nya turun. Karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di bendahara (Direktorat Jenderal Perbendaharaan), untuk sedikit membeli (buyback), supaya yield-nya agak terkendali,” jelas Menkeu.
Purbaya menambahkan bahwa stabilitas di pasar surat utang atau obligasi memegang peranan krusial untuk menjaga kepercayaan pasar.
Hal inilah yang membuat minat investor asing terhadap aset-aset domestik Indonesia tetap terjaga dengan baik.
“Jadi selama bond market terkendali, kemampuan investor asing untuk melakukan investasi bond kita akan terjaga juga. Kita sudah mulai melihat ada yang masuk modal asing ke pasar,” tuturnya optimistis.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimis Rupiah Menguat Sentuh Level 15.000: Kalau Punya Dollar, Jual Sekarang!
Siapkan Amunisi Lanjutan, Sebut Pelemahan "Tidak Masuk Akal"
Lebih lanjut, Bendahara Negara ini membocorkan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dan tengah mematangkan strategi lanjutan untuk mengintervensi pasar serta memperkuat kembali rupiah di pasar spot.
“Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu menaikkan rupiah dengan signifikan,” kata Purbaya menambahkan tanpa merinci lebih detail bentuk intervensi yang dimaksud.
Di sisi lain, Menkeu menilai koreksi tajam yang dialami rupiah akhir-akhir ini sebenarnya tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi nasional.
Menurutnya, indikator makroekonomi Indonesia saat ini masih menunjukkan performa yang solid dan tangguh.
“Ini terjadi karena fundamentalnya bagus, sebetulnya enggak masuk akal. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi,” tegasnya.
Berdasarkan data pasar visual terbaru, nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,20 persen dan merosot hingga mencapai level Rp17.830 per dolar AS.
Baca Juga: Purbaya Targetkan Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Level Rp15.000 per Dolar AS
Sumber : Kompas TV/Antara