Sempat Dianggap Punah, Populasi Monyet Langka Ini Melonjak 3 Kali Lipat - Kompa
Sempat Dianggap Punah, Populasi Monyet Langka Ini Melonjak 3 Kali Lipat
KOMPAS.com — Di antara dahan-dahan pohon hijau abadi, sepasang mata dengan lingkaran biru cerah menatap ke sekeliling kanopi hutan batu kapur Khau Ca.
Pemandangan ini merupakan sekilas perjumpaan langka dengan salah satu monyet paling terancam punah di dunia—sebuah momen yang sangat disyukuri oleh konservasionis lapangan, Canh Xuan Chu.
Monyet hidung pesek Tonkin (Tonkin snub-nosed monkey) merupakan satwa endemik Vietnam. Primata ini hanya dapat ditemukan di fragmen-fragmen hutan yang terisolasi di dua provinsi paling utara Vietnam yang berbatasan langsung dengan China.
Pada tahun 2002, sebuah populasi yang hanya terdiri dari 50 ekor ditemukan di Khau Ca.
Trump Mau Tumbangkan Rezim Kuba, Cari “Pengkhianat” di Internal Pemerintah
Penemuan ini menambah daftar segelintir lokasi tempat spesies ini ditemukan kembali pada akhir tahun 1980-an dan 1990-an, setelah sebelumnya sempat dianggap punah dari muka Bumi.
Baca juga: 13 Spesies Kuda Laut di RI Terancam akibat Perdagangan dan Kerusakan Habitat
Kini, monyet-monyet tersebut hampir kehilangan seluruh habitatnya di tempat lain.
Namun, berdasarkan sensus menyeluruh yang dilakukan oleh organisasi nirlaba konservasi Fauna & Flora International, populasi di Khau Ca dilaporkan telah melonjak lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 2002.
Saat ini, sebanyak 160 ekor monyet yang berstatus Kritis (Critically Endangered) tersebut hidup aman di dalam cagar alam—mencakup sekitar 80 persen dari perkiraan total seluruh spesies yang tersisa di planet ini.
Baca juga: Gegara Drone, Banyak Sniper Ukraina Jadi "Menganggur"
“Ini adalah salah satu survei kami yang paling sukses,” ungkap Chu, yang menjabat sebagai manajer proyek untuk program konservasi monyet hidung pesek Tonkin di Fauna & Flora International.
Hasil survei ini memberikan secercah harapan baru bagi kelangsungan hidup spesies yang rapuh tersebut, sekaligus menjadi model percontohan bagi hutan-hutan lain di Vietnam untuk memulihkan populasi primata endemik mereka.
Karakteristik Pemalu dan Ancaman Perburuan Liar
Meski memiliki corak wajah yang mencolok dan unik, monyet-monyet ini memiliki sifat yang sangat pemalu.
Baca juga: Ilmuwan Temukan Dinosaurus Terbesar di Asia Tenggara, Hidup Saat Bumi Memanas
Menurut Chu, mereka selalu menghindari kontak dengan manusia dan akan langsung menghilang begitu mendengar suara asing sekecil apa pun. Sifat inilah yang membuat proses penghitungan populasi mereka menjadi sangat sulit selama beberapa dekade terakhir.
Akibat diburu secara masif untuk bahan baku obat tradisional dan terkadang dikonsumsi sebagai daging buruan (bushmeat), keberadaan monyet hidung pesek Tonkin menjadi sangat jarang terlihat. Hal inilah yang sempat membuat para ilmuwan di tahun 1980-an berasumsi bahwa spesies ini telah punah.
Sesaat setelah populasi di Khau Ca ditemukan, Fauna & Flora International langsung mendirikan stasiun lapangan konservasi.
Baca juga: Ikan Sapu-Sapu Tinggi Protein, Peneliti BRIN Ungkap Syarat Mengonsumsinya
Mereka membentuk tim konservasi berbasis masyarakat untuk berpatroli menjaga hutan, membantu membersihkan jerat hewan, serta melaporkan tanda-tanda pembalakan liar atau perburuan.
Untuk mendukung perekonomian warga lokal yang biasanya mengandalkan pendapatan dari bertani atau merambah hutan, proyek ini membuka lapangan kerja baru melalui kelompok patroli tersebut.
Mitra konservasi lainnya, seperti New Nature Foundation dan Denver Zoo, turut membantu mengurangi ketergantungan warga terhadap hutan dengan mendistribusikan kompor hemat energi yang mampu memangkas kebutuhan kayu bakar hingga 50 persen.
Tran Van On, salah satu anggota tim konservasi komunitas Fauna & Flora International, mengamati adanya peningkatan signifikan pada kesadaran masyarakat sekitar terkait pentingnya menjaga kelestarian monyet ini.
“Masyarakat kini tidak hanya lebih sadar untuk melindungi spesies endemik Vietnam ini, tetapi juga lebih menyadari pentingnya menjaga habitat hutan dan spesies satwa liar lainnya,” ujar On dalam sebuah pernyataan tertulis.
Baca juga: BRIN Temukan 10 Spesies Anggrek Baru di Indonesia, Ada di Mana Saja?
Sensus Modern: 10 Hari di Area 1,000 Hektar
Sensus populasi terbaru yang rampung dilaksanakan pada akhir tahun 2025 kemarin diklaim sebagai survei yang paling komprehensif dan lengkap hingga saat ini.
Lebih dari 30 orang yang terdiri dari unit konservasi dan masyarakat lokal dibagi menjadi 10 kelompok. Mereka berkemah di dalam hutan selama 10 hari berturut-turut untuk menyisir area taman nasional seluas 1.000 hektar.
Chu menjelaskan bahwa mereka menerapkan metodologi baru dengan membagi peta cagar alam menjadi beberapa sektor khusus. Setiap kelompok bertanggung jawab atas satu "sel" area untuk menghindari duplikasi penghitungan dan meningkatkan efisiensi di lapangan.
Baca juga: Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Selain pemetaan manual, tim di lapangan juga memanfaatkan teknologi modern seperti:
- Drone dengan pencitraan termal (thermal imaging).
- Kamera jebak (camera traps).
- Audiomoths, sensor akustik pintar yang digunakan untuk mendeteksi suara panggilan khas dari monyet tersebut.
Bagi Chu, yang telah mendedikasikan dirinya pada proyek ini selama tujuh tahun, mengenali setiap individu monyet bukanlah hal yang sulit.
“Mereka sangat berbeda: Anda bisa melihat warnanya, Anda bisa melihat ekornya; dan hal lainnya adalah, suara panggilan mereka satu sama lain berbeda, jadi itu sangat jelas,” kata Chu.
Baca juga: Ikuti Anjing ke Hutan, Remaja Ini Temukan Gua Lascaux yang Tersembunyi Ribuan Tahun
Kisah Kontras Dua Hutan: Khau Ca vs Quan Ba
Kondisi pemulihan yang sukses di Khau Ca berbanding terbalik dengan situasi di kawasan hutan Quan Ba, wilayah yang sebelumnya tercatat sebagai rumah bagi populasi monyet Tonkin terbesar kedua.
Berdasarkan penuturan Chu, tim patroli di Quan Ba sama sekali tidak pernah lagi melihat keberadaan spesies ini sejak tahun 2020. Bahkan, dalam survei habitat terakhir yang dilakukan pada tahun 2024, mereka tidak menemukan tanda-tanda kehidupan monyet tersebut sedikit pun.
Masalah terbesar di Quan Ba dipicu oleh maraknya pertanian kapulaga di dalam kawasan hutan. Kapulaga memang komoditas rempah yang berharga tinggi untuk bahan pangan dan obat-obatan, serta mampu memberikan pendapatan besar bagi petani.
Baca juga: Misteri Genetik Terpecahkan, Penguin Gentoo Kini Resmi Terbagi Menjadi 4 Spesies Berbeda
Namun, budidayanya mengharuskan warga menebang pohon untuk mengurangi kelebatan kanopi hutan serta menebang kayu bakar untuk mengeringkan buah kapulaga setelah panen. Aktivitas ini lambat laun merusak ekosistem hutan yang sangat dibutuhkan monyet hidung pesek Tonkin untuk bertahan hidup.
Saat populasi kuat monyet ini pertama kali ditemukan di Quan Ba pada tahun 2007, Fauna & Flora International sempat membentuk tiga tim patroli komunitas untuk perlindungan. Namun, tidak seperti Khau Ca, wilayah Quan Ba bukanlah kawasan yang berstatus dilindungi secara resmi oleh hukum negara. Perbedaan status ini sangat membatasi ruang gerak organisasi lingkungan dalam menerapkan manajemen habitat jangka panjang dan pembatasan hukum yang ketat.
Meski demikian, pihak Fauna & Flora International menegaskan belum menyerah terhadap kelestarian di Quan Ba. Mereka tetap menyiagakan satu kelompok patroli di sana.
Baca juga: Fosil Ikan 380 Juta Tahun di Antarktika Ungkap Awal Mula Transisi Makhluk Air ke Darat
“Kawasan tersebut sangat luas, sehingga peluang untuk melihat mereka memang sangat rendah—jadi kami menganggap mereka belum 100 persen menghilang,” ungkap Chu.
Saat ini, organisasi nirlaba tersebut tengah berupaya membangun koridor margasatwa (wildlife corridors) dari Khau Ca, yang diharapkan suatu hari nanti dapat terhubung kembali dengan hutan Quan Ba untuk menyelamatkan primata ikonik Vietnam ini dari kepunahan total.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang