Tugu Malang, Monumen Pertama Kemerdekaan Indonesia - Times Indonesia
Tugu Malang, Monumen Pertama Kemerdekaan Indonesia
Malang – Di tengah pusat Kota Malang berdiri sebuah monumen yang selama ini lebih dikenal sebagai ikon kota dan ruang publik. Namun di balik taman bunga dan kolam yang mengelilinginya, Tugu Malang menyimpan posisi yang jauh lebih penting dalam sejarah Indonesia: menjadi salah satu monumen pertama menandai berdirinya Negara Republik Indonesia.
Pakar Sejarah Universitas Negeri Malang, Reza Hudiyanto, menjelaskan bahwa jika dilihat dari perspektif perkembangan sejarah kota-kota di Indonesia, Malang termasuk daerah yang paling awal menghadirkan monumen kemerdekaan ketika banyak kota lain belum sempat melakukannya.
“Kota Malang kalau dilihat dari perspektif perkembangan sejarah kota-kota di Indonesia merupakan monumen yang terhitung pertama kali didirikan di Indonesia ketika kota-kota lain belum mendirikan monumen,” ujar Reza.
Menurutnya, sejak awal Tugu Malang tidak dibangun sebagai elemen estetika kota, tetapi sebagai simbol berdirinya negara baru yang telah merdeka.
“Di Malang sendiri dibangun untuk memperingati berdirinya Negara Republik Indonesia. Jadi ini makna terpenting dan utama dari monumen di Kota Malang,” katanya.
Peletakan batu pertama dilakukan pada 17 Agustus 1946, tepat satu tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Doel Arnowo, Gubernur Jawa Timur, dan disaksikan langsung oleh M. Sardjono Wiryohardjono, wali kota pertama Malang pada masa kemerdekaan yang menjabat pada 1945–1958.
Menurut Reza, pembangunan monumen tersebut menjadi penanda penting bahwa Indonesia mulai membangun identitasnya secara nyata di ruang publik setelah puluhan tahun berada di bawah kolonialisme.
“Ini menjadi salah satu titik awal untuk menandai bahwa bangsa Indonesia telah memiliki tanahnya sendiri setelah hampir seratus tahun berada di bawah dominasi kolonialisme Belanda,” ujarnya.
Keputusan membangun monumen pada masa itu bukan perkara sederhana. Tahun 1946 merupakan periode ketika sebagian kota besar Indonesia masih berada dalam situasi politik yang belum stabil. Jakarta, Semarang, dan Surabaya berada dalam tekanan Belanda.
Sementara hanya beberapa kota yang relatif memungkinkan menjadi representasi kehadiran Republik Indonesia, seperti Yogyakarta, Madiun, Kediri, dan Malang.
Menurut Reza, Malang memiliki keunggulan dari sisi infrastruktur. “Malang dari aspek infrastruktur paling modern waktu itu. Lapangan kerja, stasiun kereta api, dan tata kotanya paling baik,” katanya.
Karena itu, secara politik dan simbolik, Malang dipandang paling representatif untuk menghadirkan monumen kemerdekaan.
Selain memiliki nilai sejarah, Tugu Malang juga menyimpan filosofi pada setiap bagian bangunannya. Melansir buku BIPA Tingkat 3 Berbasis Budaya Lokal Malang karya Helmi Muzaki, puncak monumen berbentuk bambu runcing yang melambangkan alat perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah.
Di bagian lain terdapat ornamen rantai sebagai simbol persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia. Kemudian terdapat bintang dengan 17 fondasi dan delapan tingkat, serta empat dan lima sudut tangga, yang membentuk simbol tanggal kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.
Sementara bunga teratai merah putih yang mengelilingi kolam menjadi lambang keberanian dan kesucian sebagaimana warna bendera Indonesia. Sejarah Tugu Malang juga tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Kota Malang itu sendiri.
Malang pernah menjadi wilayah kerajaan yang berpusat di Dinoyo pada masa Raja Gajayana. Kemudian memasuki era kolonial sejak tahun 1767 dan berkembang pesat setelah jalur kereta api mulai beroperasi pada 1879.
Perjalanan pemerintahan Kota Malang juga terekam melalui pergantian kepemimpinan dari masa kolonial hingga sekarang. Berikut daftar wali kota dan pimpinan pemerintahan Kota Malang dari masa ke masa:
1. 1919–1929: H. I. Bussemaker
2. 1929–1933: Ir. Voorneman
3. 1933–1936: Ir. Lakemar
4. 1936–1942: J. H. Boerstra
5. 1942–1945: I. RAA. Sam (caretaker) dan Mr. Soewarso Tirtowijogo (caretaker)
6. 1945–1958: M. Sardjono Wiryohardjono
7. 1958–1966: Koesno Soeroatmodjo
8. 1966–1968: Kol. M. Ng Soedarto (caretaker)
9. 1968–1973: Kol. R. Indra Soedarmadji
10. 1973–1983: Kol. Soegiyono
11. 1983: Drs. Soeprapto
12. 1983–1988: dr. H. Tom Uripan N, SH
13. 1988–1998: H. M. Soesamto
14. 1998–2003: Kol. Inf. H. Suyitno
15. 2003–2013: Drs. Peni Suparto, M.AP
16. 2013–2018: H. Moch. Anton
17. 2018–2023: Drs. H. Sutiaji
18. 2025–2030: Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM
Di tengah perkembangan kota selama lebih dari satu abad, Tugu Malang tetap berdiri sebagai salah satu penanda perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Bukan sekadar ikon kota, tetapi simbol bahwa pernah ada masa ketika Malang mengambil peran untuk menegaskan hadirnya Indonesia melalui sebuah monumen kemerdekaan.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.