0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kasus Laskar Pelangi Lomba Cerdas Cermat MPR Pendidikan Spesial

    Viral Juri Cerdas Cermat MPR Dinonaktifkan, Netizen Teringat Adegan Laskar Pelangi - Inilah

    5 min read

     

    Viral Juri Cerdas Cermat MPR Dinonaktifkan, Netizen Teringat Adegan Laskar Pelangi

    Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com + Gabung

    KecilBesar

    Cuplikan film Laskar Pelangi (2008) kembali viral mengiringi kasus nyata polemik dewan juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. 

    Adegan perlawanan tokoh Lintang terhadap juri yang tidak cermat saat itu kini disandingkan publik dengan insiden serupa yang dialami oleh para siswa SMAN 1 Pontianak di dunia nyata.

    Saat itu, Lintang, si jenius dari SD Muhammadiyah Gantong yang sederhana, berhadapan dengan anak-anak dari sekolah elite SD PN Timah. Momen puncaknya terjadi ketika dewan juri menyalahkan jawaban Lintang secara sepihak terkait sebuah perhitungan matematika.

    Tidak terima, Lintang dengan gagah berani memprotes keputusan tersebut. Ia maju, menjelaskan logika perhitungannya secara rinci, dan membuktikan kebenaran jawabannya di hadapan semua orang. Sang juri yang awalnya angkuh pun terdiam, menyadari ketidakcermatannya sendiri, dan terpaksa membenarkan Lintang. Adegan ini abadi di ingatan penonton sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan ketidakcermatan seorang penilai.

    Siapa sangka, delapan belas tahun sejak film itu rilis, memori publik kembali ditarik pada adegan tersebut. Sayangnya, kali ini bukan terjadi di layar lebar, melainkan di dunia nyata pada ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

    Awal Mula Insiden dan Ucapan Kontroversial MC

    Ketegangan bermula pada salah satu sesi lomba ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak melayangkan protes terkait penilaian dewan juri atas jawaban yang telah mereka berikan. 

    Namun, alih-alih mendapatkan verifikasi yang objektif, protes tersebut justru ditanggapi dengan pernyataan kontroversial dari pembawa acara atau MC bernama Shindy Lutfiana.

    Shindy melontarkan kalimat yang menyebut bahwa protes tersebut mungkin hanya perasaan peserta saja. Pernyataan ini sontak memicu kekecewaan karena dinilai meremehkan argumen logis dari para siswa. 

    Potongan video kejadian tersebut kemudian menyebar luas di media sosial. Netizen yang geram langsung mengkritik tajam dewan juri yang dianggap lalai, serta mengecam respons sang MC yang dinilai menjatuhkan mental siswa yang sedang bertanding. Publik pun serentak menyamakan kejadian ini dengan ketidakadilan yang dialami Lintang dalam film Laskar Pelangi.

    MPR Minta Maaf dan Ambil Tindakan Tegas

    Menyadari besarnya kekecewaan publik, Sekretariat Jenderal MPR RI langsung merespons polemik tersebut melalui akun Instagram resminya pada Selasa (12/5/2026). 

    "MPR RI melalui Sekretariat Jenderal MPR RI menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian dewan juri yang menyebabkan polemik terkait pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI di Provinsi Kalimantan Barat," demikian keterangan resmi dari MPR.

    Sebagai bentuk tindak lanjut yang tegas, panitia pelaksana memutuskan untuk memberhentikan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam insiden tersebut. 

    "Terkait ramainya pemberitaan di media sosial tentang LCC Empat Pilar 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat, mengenai penilaian jawaban peserta pada salah satu sesi lomba, panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI telah menonaktifkan dewan juri dan MC pada kegiatan LCC ini," lanjut pernyataan tersebut.

    Pihak MPR menekankan pentingnya menjaga esensi dalam sebuah kompetisi pendidikan. 

    "MPR RI memahami bahwa kegiatan pendidikan dan pembinaan generasi muda, termasuk LCC Empat Pilar, harus menjunjung tinggi nilai sportivitas, objektivitas, keadilan, serta semangat pembelajaran yang konstruktif," ujar perwakilan MPR.

    Ke depannya, MPR berjanji akan membenahi sistem perlombaan secara total. 

    "MPR RI akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek teknis pelaksanaan lomba, termasuk mekanisme penilaian, sistem verifikasi jawaban peserta, dan tata kelola keberatan dalam perlombaan agar pelaksanaannya ke depan dapat berlangsung semakin baik, transparan, dan akuntabel," tambahnya.

    MPR juga menutup pernyataannya dengan apresiasi positif. "Selain itu, MPR RI juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, guru pendamping, panitia daerah, serta masyarakat yang terus memberikan perhatian terhadap pendidikan kebangsaan dan pelaksanaan LCC Empat Pilar."

    Penyesalan Mendalam Sang Pembawa Acara

    Di hari yang sama, Shindy Lutfiana selaku MC LCC MPR Kalbar juga mengunggah permohonan maaf terbuka melalui akun Instagram pribadinya. Ia mengaku sangat menyesali sikapnya saat memandu jalannya lomba. 

    "Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya, terutama yaitu 'mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja' yang seharusnya tidak patut saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai MC pada kegiatan tersebut," ujar Shindy.

    Shindy mengakui secara terbuka dampak negatif dari ucapannya. "Saya menyadari sepenuhnya bahwa pernyataan tersebut telah menimbulkan kekecewaan, ketidaknyamanan, bahkan melukai perasaan berbagai pihak, khususnya adik-adik peserta lomba, guru-guru pendamping atau pembimbing dari SMA Negeri 1 Pontianak, serta seluruh masyarakat terutama masyarakat Provinsi Kalimantan Barat yang mengikuti dan memberikan perhatian terhadap kegiatan ini," katanya.

    Ia menegaskan bahwa peristiwa viral ini akan menjadi titik balik bagi profesionalitasnya ke depan. "Peristiwa ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya untuk lebih berhati-hati, bijaksana, serta lebih cermat dalam memilih dan menggunakan diksi ketika menjalankan tugas di ruang publik," tuturnya menutup klarifikasi.

    Komentar
    Additional JS