0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Demam Berdarah Featured Hantavirus ISPA Kesehatan Spesial

    Virus Hanta Bisa Menyerupai ISPA hingga Demam Berdarah, Dinkes Kukar Minta Tenaga Medis Waspada - Niaga Asia

    4 min read

     

    Virus Hanta Bisa Menyerupai ISPA hingga Demam Berdarah, Dinkes Kukar Minta Tenaga Medis Waspada

    Kadinkes Kukar Ismi Mufiddah. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

    TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) meminta seluruh rumah sakit, puskesmas, hingga klinik di wilayahnya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi penyebaran penyakit Virus Hanta.

    Instruksi tersebut tertuang dalam surat Dinkes Kukar dengan Nomor B-2204/DINKES/P3PL-SIPKLB/400.7.7.1/5/2026 terkait Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Penyakit Virus Hanta.

    Kepala Dinkes Kukar Ismi Mufiddah meminta agar fasilitas pelayanan kesehatan dapat memperkuat pelaksanaan surveilans atau pemantauan penyakit.

    Utamanya lanjut Ismi, terhadap kasus Severe Acute Respiratory Infection (SARI), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hingga pneumonia yang berkaitan dengan Virus Hanta tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

    “Melakukan pemantauan dan verifikasi tren kasus Severe Acute Respiratory Infection (SARI), ISPA, dan pneumonia untuk penyakit Virus Hanta tipe HPS,” ujarnya kepada media niaga.asia, Minggu malam (17/5/2026).

    Tak hanya gangguan pernapasan, ia juga meminta tenaga kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien dengan gejala klinis yang menyerupai sejumlah penyakit lain.

    “Untuk mendeteksi tipe HFRS perlu dilakukan pemantauan terhadap suspek leptospirosis, sindrom jaundice (kuning), suspek dengue, suspek demam tifoid, suspek rickettsiosis yang secara klinis tidak spesifik namun memiliki gambaran klinis dan faktor risiko yang sesuai dengan definisi operasional kasus HFRS,” jelasnya

    Dinkes Kukar menilai gejala Virus Hanta dapat menyerupai beberapa penyakit yang umum ditemukan di masyarakat, sehingga tenaga medis diminta lebih teliti dalam melakukan pemeriksaan dan penanganan pasien.

    Pemantauan kasus diminta dilakukan melalui sistem surveilans berbasis indikator atau Indicator Based Surveillance (IBS) dengan memanfaatkan aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) maupun laporan surveilans sentinel lainnya.

    Selain pengawasan, fasilitas kesehatan juga diminta aktif melakukan penemuan kasus terhadap pasien dengan sindrom pernapasan akut berat, sindrom kuning akut disertai demam, serta sindrom demam berdarah virus yang memiliki faktor risiko penyakit Virus Hanta.

    Terkait aspek pengendalian faktor risiko, Dinkes Kukar meminta agar seluruh fasilitas kesehatan memperkuat kewaspadaan standar dan kewaspadaan berbasis transmisi.

    “Memperkuat kewaspadaan, termasuk kewaspadaan standar dan kewaspadaan berbasis transmisi (kontak, droplet, dan airborne untuk prosedur khusus yang menghasilkan aerosol) serta penyediaan alat pelindung diri (APD) dan ruang isolasi dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di fasilitas pelayanan kesehatan,” tuturnya.

    Fasilitas kesehatan juga diminta segera melakukan investigasi dan respons penanggulangan apabila ditemukan dugaan kasus dengan berkoordinasi bersama Dinas Kesehatan dan pihak terkait lainnya.

    Ia juga meminta agar dapat meningkatkan promosi kesehatan bagi para tenaga medis maupun masyarakat terkait pencegahan penyakit Virus Hanta.

    Fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama maupun lanjutan juga diminta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam penemuan kasus, proses rujukan, hingga tata laksana pasien.

    Sementara untuk rumah sakit jejaring pengampuan pelayanan penyakit infeksi emerging, diminta untuk mengoptimalkan pelayanan rujukan dan kemampuan penanganan penyakit Virus Hanta.

    “Lakukan kegiatan peningkatan kapasitas sumber daya manusia/refreshment di lingkungan internal fasilitas pelayanan kesehatan terkait deteksi dan tata laksana penyakit Virus Hanta bekerja sama dengan jejaring pengampuan pelayanan PIE,” tegasnya.

    Sebagai bagian dari kesiapsiagaan, rumah sakit di Kukar juga diminta rutin memperbarui data ketersediaan fasilitas pelayanan melalui aplikasi RS Online dan ASPAK.

    “Langkah ini kami lakukan sebagai bentuk mitigasi risiko dan untuk meningkatkan kewaspadaan daerah terhadap potensi kemunculan penyakit infeksi emerging di Kabupaten Kukar,” tutupnya.

    Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

    Tag: 

    Komentar
    Additional JS