0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah Spesial Wamenlu

    Wamenlu: Konflik Timur Tengah Potensi Membuat Kelaparan Dunia -

    2 min read

     

    Wamenlu: Konflik Timur Tengah Potensi Membuat Kelaparan Dunia


    Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Anis Matta. (Foto: Publicanews/dok)

    PUBLICANEWS, Jakarta - Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta mengatakan bahwa ancaman paling berbahaya dari konflik Amerika Serikat-Israel, dan Iran di Timur Tengah (Timteng) bukan sekadar kenaikan harga minyak. Menurutnya, ancaman seriusnya adalah krisis pupuk yang berpotensi memicu kelaparan khususnya kawasan Asia dan terhentinya mobilitas perdagangan dunia.

    Asia, ia menambahkan, menjadi kawasan paling rentan karena ketergantungan besar terhadap energi dari Timteng. Asia dengan populasi lebih dari empat miliar jiwa hampir sepenuhnya bergantung pada jalur distribusi yang melewati Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk untuk pasokan pupuk.

    Sementara China, India, Asia Tenggara, dan Jepang disebut tidak memiliki sumber daya energi yang cukup, sehingga Selat Hormuz sebagai jalur vital menjadi titik rawan.

    “Begitu pergerakan terhenti di kawasan ini, seluruh dunia akan menghadapi masalah. Korban terbesar dari choke point ini adalah Asia, dan ancaman pupuk justru lebih serius dibanding energi,” kata Anis Matta dalam keterangan tertulis, Minggu (31/5).

    Wamenlu Urusan Dunia Islam ini menilai mayoritas negara di kawasan Asia dan Afrika membutuhkan pasokan pupuk untuk menjaga ketahanan pangan. Namun, impor dari Rusia terkendala sistem pembayaran akibat sanksi internasional.

    ”Dan masalah pupuk ini akan menjadi masalah semua negara di kawasan Asia ini,” ujar Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia ini.

    Anis Matta juga menyoroti Eropa yang tidak memiliki sumber energi memadai sehingga industri mereka tidak kompetitif ketika harga minyak melonjak. Karena itu, jika jalur ini tersumbat akibat konflik yang berkepanjangan, maka ancaman kelaparan bukan lagi sekadar skenario terburuk.

    “Jika perang terus berlanjut, maka ancaman jangka menengah adalah kelaparan. Saya suka mengatakan kepada teman-teman di Timur Tengah, Anda berperang, kami yang mati," katanya.

    Sebagai langkah antisipasi, pemerintah kini fokus pada keamanan pangan. Indonesia mendorong perubahan zona konflik menjadi zona pembangunan dengan prasyarat utama, yaitu perdamaian.

    “Ketidakpastian di Timur Tengah sangat merugikan industri Indonesia karena kenaikan harga minyak membuat produk domestik menjadi tidak kompetitif di pasar global,” ia menjelaskan. (jay)

    Komentar
    Additional JS