5 Orang Meninggal Dunia, Ekonom CELIOS: Latsarmil untuk Manajer KDMP Tak Relevan - Jawa Pos
JawaPos.com - Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyoroti kasus meninggalnya 5 peserta latihan dasar militer (latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Bhima menilai, Latsarmil kepada calon manajer KDMP tidak relevan dengan kemampuan teknis untuk mengelola koperasi. Bahkan, Bhima meminta pemerintah untuk memberhentikan latsarmil kepada calon manajer tersebut.
"Orang cari kerja malah meninggal, pelatihannya jelas tidak relevan dengan kebutuhan sebagai pengelola koperasi. Harus distop latihan ala militer di program kopdes merah putih," kata Bhima kepada Jawapos.com, Sabtu (27/6).
Bhima memandang, cara pemerintah untuk memberikan latsamir kepada calon manajer KDMP semata menunjukkan bahwa supremasi sipil lemah. Karena itu, cara komando militer sangat tidak relevan terhadap kebutuhan pengelolaan koperasi.
"Kenapa latihannya militer? Ini kan biar menunjukkan supremasi sipil lemah, maka komandonya adalah militer. Nah jadi ini kan juga perluasan militer yang harus dikritik ya di bidang koperasi," ujar Bhima.
Selain itu, Bhima menilai program KDMP akan mengulang kesalahan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibuat terburu-buru. Itu terlihat dari banyaknya bangunan KDMP yang berdiri bukan di tempat yang strategis.
"Bahkan banyak lokasi Kopdes sebelah tanah kuburan, sebelahnya tempat pembuangan sampah, gitu ya. Jadi, akses-akses jalannya ke Kopdes juga susah di beberapa tempat. Nah ini akan mengulang kesalahan yang sama dan tentu rentan korupsi," ungkapnya.
Bhima juga mengritik sistem KDMP yang lebih bersifat top-down. Bhima bilang hal tersebut juga bermasalah karena fungsi dasar dari koperasi sendiri adalah melalui keanggotaan.
"Karena fungsi koperasi itu sifatnya kan harus dari keanggotaan. Nah ini kan seperti pemaksaan sampai ke desa-desa. Nah ini bisa menyebabkan Koperasi Desa Merah Putih bahkan enggak bisa bersaing dengan warung-warung kelontong. Dan kalaupun disubsidi, efeknya justru mematikan warung-warung kelontong," terangnya.
Dalam mekanisme pengelolaannya, Kopdes Merah Putih menggunakan cicilan bank yang dibayar lewat cicilan APBN, APBD, Dana Desa. Menurut Bhima cara ini akan menyedot kapasitas fiskal dan kredit perbankan sehingga tidak berdampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat.
"Nah kalau sampai gagal bayar, yang
menanggung adalah APBN. Berarti kan bisa berkorelasi pada pelebaran defisit karena uangnya digunakan untuk membayar cicilan Kopdes Merah Putih," tandasnya.
Sebelumnya, diberitakan beberapa peserta latsarmil dinyatakan meninggal dunia terdiri atas Novia Rahmadhani, Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, Muhammad Rifki Renaldi, dan Nola Dya Sari. Mereka menjalani latsarmil di 5 satdik berbeda.
Anisa Muyassaroh mengikuti latsarmil di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman. Balikpapan. Dia mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026. Kemudian dirujuk ke fasilitas kesehatan satuan sampai rumah sakit terdekat. Namun, nyawanya tidak tertolong dengan diagnosa meninggal dunia akibat heat stroke.
Sehari sebelumnya, pada 17 Juni 2026, peserta atas nama Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja juga mengalami penurunan kondisi kesehatan. Setelah mendapat penanganan dan dirujuk ke rumah sakit, dia dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung.
Pada Senin, 22 Juni 2026, peserta atas nama Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta mengalami gangguan kesehatan dan segera mendapatkan penanganan oleh tim kesehatan satuan. Dia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa dan dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026 akibat penyakit tuberkulosis.
Kemarin dini hari (26/6), peserta lain bernama Muhammad Rifki Renaldi meninggal dunia. Dia mengikuti pendidikan latsarmil di Satdik Yon Parako 465 Jakarta. Mulanya, dia mengalami keluhan kesehatan berupa sesak napas dan segera mendapatkan penanganan awal dari tim kesehatan satuan pada 25 Juni.
Kemudian kemarin malam, Nola Dya Sari dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.03 WIB. Dia kehilangan nyawa setelah mendapat penanganan dari tim kesehatan satuan, Rumah Sakit Sikawang, dan RSUD Abdul Aziz Sikawang. Keluhan awalnya adalah sesak nafas dan suhu tubuh meningkat.