Akun Mengaku Peserta Latsarmil Curhat di Medsos: Tidur 3 Jam, Latihan PBB 6 Jam, Kurang Minum - Jawa Poz
JawaPos.com - Seorang pemilik akun medsos yang mengaku mengikuti program Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) calon manajer koperasi desa merah putih, membagikan pengalamannya melalui akun media sosial Threads.
Unggahan tersebut muncul setelah kabar meninggalnya lima peserta dalam kegiatan tersebut.
Akun bernama @chameleon.9670486 itu menceritakan kondisi selama menjalani pelatihan sebelum akhirnya memutuskan mundur karena alasan kesehatan.
Dalam unggahannya, peserta itu lebih dulu menyampaikan belasungkawa kepada keluarga peserta yang meninggal dunia.
Ia menegaskan, cerita yang dibagikannya merupakan pengalaman pribadi selama mengikuti pelatihan.
"Pertamatama saya ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya 5 peserta KDKMP dan KNMP saat sedang menjalankan latsarmil," tulisnya dalam akun media sosial Threads, Minggu (28/6).
Ia menjelaskan, dirinya memiliki riwayat penyakit yang telah disampaikan secara jujur saat menjalani tes kesehatan sebelum dinyatakan lolos mengikuti program tersebut.
"Saya sebagai salah satu peserta yg akhirnya mundur karena masalah kesehatan mau sedikit cerita pengalaman saya selama latsarmil dan sebenernya apa sih yg terjadi di lokasi," ungkapnya.
Peserta itu juga menilai pengalaman di setiap lokasi pelatihan kemungkinan berbeda. Namun, secara umum pelaksanaan program semestinya mengacu pada standar yang sama.
"Mungkin akan ada perbedaan, namun seharusnya kurang lebihnya sama, karena merujuk dari perkataan kepala BPSDM Kemenhan RI bahwa seluruh program pendidikan ini berjalan diatas koridor aturan baku," tuturnya.
Ia mengaku semula yakin kondisi kesehatannya memadai karena berhasil lolos seleksi. Apalagi, dirinya juga memiliki pengalaman mengikuti pendidikan bergaya ketarunaan.
"Pas tes kesehatan gua udah jujur sejujur2nya apa aja riwayat penyakit gua. Btw gua kuliah taruna tarunaan juga," bebernya.
Menurutnya, kenyataan di lapangan berbeda dari perkiraannya. Ia mengaku sempat menganggap pelatihan tidak akan berlangsung terlalu berat.
"Waktu tau lolos, Gua berfikir gua lolos berarti kesehatan gua bagus atau pendidiknnya ga akan seketat itu. Karena rejeki ga boleh di tolak gas lah konfirmasi ikut latsarmil," urainya.
Ia menyebut jadwal kegiatan selama pelatihan sangat padat. Salah satu hal yang paling dirasakannya ialah waktu istirahat yang sangat terbatas.
Bahkan, ia harus menjalani kegiatan baris berbaris kurang lebih selama enam jam dalam sehari.
"Jadwal harian bener2 padet banget. Tidur 3-4 jam. Pbb 6 jam di lapangan," tuturnya.
Selain jadwal yang padat, ia juga mengaku sempat mengalami keterbatasan pasokan air minum pada hari-hari awal pelatihan.
"Di tempat gua latsarmil di 5 hari pertama kita kekurangan air minum, 1 hari kita cuma dapet jatah 1-1, 5lt," ujarnya.
Ia mengklaim, sebagian air minum bahkan dibeli sendiri oleh peserta. Setelah beberapa hari, penyelenggara disebut mulai menyediakan air galon, namun jumlahnya dinilai masih belum mencukupi.
"Itu pun 1,5 lt peserta beli bukan bukan pembagian. Setelah 2 hari kekurangan minum baru dari pihak penyelenggara kasih air galon," ucapnya.
Dalam unggahan yang sama, peserta tersebut juga menyinggung pelayanan kesehatan yang diterimanya.
Ia mengaku tetap mengikuti kegiatan meski memiliki riwayat penyakit, dengan arahan agar memisahkan diri apabila sudah tidak kuat.
"Gua yg punya riwayat penyakit tetep disuruh ikut tapi kalo udah ga kuat suruh angkat tangan dan memisahkan diri," katanya.
Ia kemudian menceritakan pengalamannya saat beberapa kali mendatangi ruang kesehatan. Menurut pengakuannya, keluhannya sempat dianggap hanya akibat kelelahan.
"Gua udah sampe ga bisa ngomong tapi kata oknum ini mah kecapean aja dan ga perlu dikasih obat," ujarnya.
Pada kesempatan lain, ia mengaku meminta obat karena merasa penyakitnya kambuh. Namun, obat yang dibutuhkan disebut tidak tersedia saat itu.
"Dua kali gua kesana gua ngeluh kayaknya sakit gua kambuh dan butuh obat, tapi obatnya ga ada," jelasnya.
Peserta tersebut juga mengaku sempat pingsan keesokan harinya hingga akhirnya memperoleh penanganan lebih lanjut.
Tak hanya menceritakan pengalamannya sendiri, ia mengaku menyaksikan rekan satu barak mengalami hipotermia.
Menurutnya, peserta tersebut sempat diminta kembali ke barak sebelum akhirnya dievakuasi setelah kondisinya memburuk.
"Akhirnya di barak kedinginan parah badannya ga bisa gerak sama sekali kaki tangan dingin banget," tuturnya.
Di akhir unggahannya, peserta itu menegaskan bahwa ia tidak bermaksud menyudutkan pihak tertentu.
Ia menegaskan, pengalamannya selama sekitar sepekan di barak sebenarnya masih bisa dinikmati selama peserta berada dalam kondisi sehat.
"Disini gua ga mau ngejelek2in siapa siapa yah. Gua ga pernah nyebut instansi manapun juga. Ini murni pengalaman gua seminggu di barak," pungkasnya.