0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Spesial

    Bangkai 'Kapal Neraka' Ditemukan, Bukti Bengisnya Jepang Saat Perang - detik

    3 min read

     

    Bangkai 'Kapal Neraka' Ditemukan, Bukti Bengisnya Jepang Saat Perang

    Hofuku Maru saat masih operasional. Foto: Live Science

    Jakarta -

    Bangkai kapal penjara Jepang yang ditenggelamkan oleh pesawat tempur Amerika Serikat dan karam bersama lebih dari 1.000 tawanan perang Sekutu pada tahun 1944 telah ditemukan di Filipina.

    Kapal tersebut merupakan salah satu 'kapal neraka' yang dikenal kejam, digunakan Jepang untuk mengangkut tawanan perang di antara kamp-kamp kerja paksa. Banyak dari tawanan yang tewas saat kapal itu tenggelam sebelumnya pernah dipekerjakan di 'Rel Kereta Kematian' Burma-Thailand yang terkenal keji.

    "Sayangnya, banyak dari kapal pengangkut tawanan ini ditenggelamkan oleh Sekutu," ungkap pemimpin ekspedisi, Josh Gates, kepada Live Science yang dikutip detikINET.

    "Kapal-kapal itu dicat agar terlihat seperti kapal militer, dan posisinya berada di dalam konvoi Jepang sehingga Sekutu mengira kapal-kapal itu adalah target militer yang sah," terangnya.

    Gates bekerja sama dengan Hellships Memorial Foundation untuk menyelidiki tenggelamnya Hofuku Maru. Catatan masa perang Jepang lebih presisi mengenai lokasinya sehingga membantu tim menemukan sisa Hofuku Maru bulan Januari. Sejak itu, tim melakukan lima kali penyelaman ke bangkai kapal yang terletak beberapa mil di lepas pantai barat pulau utama Filipina, Luzon, pada kedalaman sekitar 50 meter.

    Kapal Penjara

    Jepang menggunakan lebih dari 130 kapal neraka selama Perang Dunia II, tapi hanya sedikit bangkainya ditemukan. Banyak kapal neraka, termasuk Hofuku Maru, awalnya adalah kapal kargo yang dialihfungsikan. Hofuku Maru digunakan sebagai kapal penjara sejak 1942 hingga tenggelam sekitar dua tahun kemudian.

    Gates mengatakan kapal tersebut bagian konvoi militer Jepang yang berlayar dari Filipina menuju Jepang saat diserang 21 September 1944. Pesawat tempur AS melihat konvoi tersebut dan salah satunya menjatuhkan torpedo yang membelah Hofuku Maru menjadi dua sehingga tenggelam dengan cepat.

    Nahasnya, kapal itu membawa sekitar 1.200 tawanan perang Sekutu yang berasal dari tentara Inggris dan Belanda, banyak di antaranya dipaksa bekerja di Rel Kereta Kematian. Beberapa tawanan berhasil berenang ke pantai, tapi mereka ditangkap kembali tentara Jepang. Sekitar 1.040 orang tewas dalam tenggelamnya kapal tersebut.

    Konvensi Jenewa 1929 menetapkan batasan ketat terkait tawanan perang sebagai tenaga kerja, tapi Jepang dikenal kejam karena mengabaikan aturan selama Perang Dunia II, dengan berdalih mereka tidak pernah meratifikasinya.

    Jepang memanfaatkan tawanan perang untuk kerja paksa di jalur kereta api dan pelabuhan, serta di pabrik-pabrik dan tambang. Dari sekitar 132.100 tawanan yang ditangkap dari pasukan Amerika Serikat dan Inggris, hampir sepertiganya (sekitar 35.000 orang) tewas akibat kelelahan, kekurangan gizi, dan penyakit.

    Kapal neraka Jepang yang digunakan untuk mengangkut ribuan tawanan perang itu sangat menyedihkan. Hampir tak ada cahaya, udara, atau makanan, dan para tawanan bisa dikurung berbulan-bulan. Sisa-sisa jasad manusia diidentifikasi di bangkai kapal itu dan kini situs tersebut dianggap sebagai kuburan perang.

    Tim pertama kali mendeteksi bangkai kapal tersebut menggunakan sonar, lalu menyelam untuk mengidentifikasi strukturnya yang mengonfirmasi itu adalah Hofuku Maru. Mereka juga memetakannya dengan kendaraan bawah air, memastikan kapal itu terbelah menjadi beberapa bagian, persis seperti yang dilaporkan dalam catatan insiden penenggelaman tersebut.

    (fyk/fay)

    Komentar
    Additional JS