0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Spesial

    Besok Ada Pengumuman Penting, Semoga Bukan Kabar Buruk - CNBC Indonesia

    4 min read

     

    Besok Ada Pengumuman Penting, Semoga Bukan Kabar Buruk

    Foto: Harga beberapa sembako di Pasar Minggu, Jakarta Selatan terpantau cenderung normal pada Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata )

    Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi Indonesia diperkirakan menanjak pada pada Mei 2026 di tengah perayaan Idul Adha, pelemahan rupiah, dan kenaikan harga BBM non-subsidi.

    Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data inflasi Mei 2026 pada besok, Selasa (2/6/2026).

    Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 10 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 akan mengalami inflasi 0,19% secara bulanan (month-to-month/mtm) dengan median inflasi tahunan 2,93% (year-on-year/yoy).

    Sementara itu, inflasi inti pada Mei 2026 diperkirakan berada di level 2,46% yoy.

    Sebagai catatan, pada April 2026 Indonesia mengalami inflasi 0,13% (mtm), sementara secara tahunan inflasi tercatat 2,42% (yoy) dan inflasi inti mencapai 2,44% (yoy).

    Kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan inflasi secara bulanan dipicu oleh kenaikan sejumlah bahan pangan dan tiket pesawat.

    Sejumlah bahan pangan yang naik dan memicu inflasi adalah bawang merah dan beras. Sementara itu, harga telur dan daging ayam turun.

    "Pelemahan harga emas menekan inflasi inti tetapi tekanan terhadap rupiah terus mendorong kenaikan harga barang impor," ujar Andry, kepada CNBC Indonesia.

    Sebagai catatan, rupiah melemah 3,28% pada Mei 2026 atau terburuk sejak Oktober 2024.

    Kepala ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan inflasi secara tahunan akan sedikit meningkat karena tekanan biaya mulai lebih terasa ke konsumen.

    "Pendorong inflasi Mei terutama berasal dari sisi pasokan dan biaya, bukan karena permintaan masyarakat yang meningkat tajam. Tekanan muncul dari kenaikan biaya bahan baku, depresiasi rupiah yang menaikkan harga input impor, harga energi yang masih tinggi, serta permintaan musiman menjelang Idul Adha," ujarnya.

    Dia menambahkan komponen harga pangan bergejolak diperkirakan kembali mencatat inflasi karena permintaan bahan makanan meningkat saat Idul Adha yang jatuh pada 27 Mei 2026.

    Komponen harga yang diatur pemerintah juga berpotensi naik karena harga BBM nonsubsidi, energi, serta tarif angkutan udara terdorong oleh biaya avtur yang masih tinggi.

    Sebagai catatan, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidinya di SPBU per 4 Mei 2026.

    Di qntara yang mengalami kenaikan adalah BBM jenis RON 98 atau Turbo dan juga produk BBM diesel non subsidi.

    Sebagai contoh harga BBM Pertamax Turbo (RON 98) di DKI Jakarta yang ditetapkan menjadi Rp 19.900 per liter atau naik dari sebelumnya Rp19.400 per liter. Sementara itu Dexlite mengalami kenaikan menjadi Rp 26.000 per liter dari sebelumnya Rp23.600 per liter.

    Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) menunjukkan adanya kenaikan pada harga beras dan bawang merah yang cukup signifikan.

    Harga beras rata-rata tercatat Rp 15.959/kg pada Mei 2026, naik 0,2% dibandingkan April. Sementara itu, harga bawang merah naik 2,3% menjadi Rp 47.773 per kg dan harga daging ayam turun 3,4% ke Rp 39.140/kg.

     Add logo_svg as a preferred
    source on Google 
    Komentar
    Additional JS